Wartawan Nabi Palsu – Cerpen Imron Supriyadi

Setelah lolos ujian tahap akhir, Alif resmi diterima sebagai wartawan di Harian Suara Musi (HSM) Palembang.

Alif kali itu benar-benar bangga menjadi awak media terbesar di Sumatera Bagian Selatan. Sebab, untuk masuk di media berjaringan nasional sekelas HSM, seperti gajah masuk lubang jarum. Paling tidak, Alif harus menyingkirkan 200 pesaing yang kala itu ikut melamar.

Penentuan akhir bagi 10 calon wartawan yang lolos, saat wawancara dengan Mas Pardiman Joyodiningrat, Pemimpin Redaksi sebuah Harian di Jakarta, yang kemudian membangun koran harian di Palembang : HSM.

Sebelum masuk ke ruang wawancara, Alif mengaris merah pesan Mas Darmanto, seniornya di kampus saat masih aktif di Majalah Ukhuwah, media kampus Universitas Islam Palembang.

Benar saja, dalam perjalanan waktu, rupanya pesan ini yang kemudian membaut Alif bisa lulus di HSM. Alif masih ingat ketika diajak Mas Darmanto wawancara dengan salah satu pejabat di Sumatera Selatan tahun 1996.

“Mas, kenapa tadi amplopnya ditolak?” tanya Alif waktu itu.

“Kamu mau, mata kamu saya colok pakai pena ini, lalu saya bayar satu miliar?” tanya Mas Darmanto balik.

“Ya, enggaklah Mas. Gila apa!?”

“Kenapa, nggak mau? Kamu kan dapat duit satu miliar, bisa transplantasi mata kan?” Mas Darmanto mengaduk-aduk pikiran Alif.

“Ya, sakitlah Mas. Kena jarum aja saya njerit, apalagi dicolok matanya, ya butalah saya, Mas,” jawab Alif masih lugu.

“Ini bukan soal sakit, Lif. Tapi disini,” ujar Mas Darmanto sambil menunjuk dada Alif, persis sebelah kiri dua jari di bawah puting susu kita.

“Di situ ada apa, Lif?!” mata Mas Darmanto menatap Alif, menunggu jawaban.

“Hati, Mas!” Alif menjawab tepat sasaran.

“Yup! Itu yang sering kita sebut hati nurani. Kalau itu sudah ternoda, harga diri kita jatuh di mata narasumber, apalagi di mata Tuhan!” Mas Darmanto menyeret tema kali itu ke ranah tauhid.

“Kok jauh banget, soal amplop kok sampai ke Tuhan!?” Alif belum nyambung dengan arah pembicaraan Mas Darmanto kali itu.

“Wartawan itu, tugasnya bukan sekadar menulis berita. Tapi harus bertanggungjawab agar beritanya mencerdaskan pembaca, mengarahkan kebijakan yang buruk menjadi baik, mendorong orang yang tidak baik mengarah pada perbuatan baik. Itulah yang namanya tanggungjawab moral wartawan terhadap publik. Jadi bukan sebatas wawancara, comot sana-comot sini, wawancara si A dan si Be, lalu nulis dan besok dapat gaji. Bukan itu, Lif! Kalau hanya itu, apa bedanya wartawan dengan pegawai?!” Alif hanya termangu.

Sebagai wartawan kampus, ungkapan Mas Darmanto menjadi petuah berharga yang baru ia dengar. Sebelumnya, hanya persoalan teknis pembuatan berita, kode etik jurnalistik, photogafi jurnalistik yang cenderung teoritis-akademis.

Tapi dengan Mas Darmanto, Alif mendapatkan dua sisi, baik ideologi dan teknis hingga nilai-nilai, yang di kemudian hari membangun jati diri Alif menjadi wartawan di Palembang.

**

“Bagaimana kalau Anda sebagai wartawan kemudian narasumber memberi amplop?” tanya Mas Pardiman saat sesi wawancara. Seketika Alif ingat kembali dengan pesan Mas Darmanto.

“Ya, kita tolak, Mas,” jawab Alif pendek.

“Kalau masih dipaksa?” Mas Pardiman mengejar pertanyaan. Kali itu, Alif harus memutar otak untuk menjawab. Sementara saat dengan Mas Darmanto belum pernah ada narasumber yang memaksa.

“Ya, kita usahakan tetap kita tolak, Mas,” jawab Alif lagi. 

Mas Pardiman termangu sejenak. Matanya masih menatap Alif. Tapi, Alif tak turun mental. Tekadnya menjadi wartawan mengalahkan rasa takutnya tidak lulus hasil wawancara.

Beberapa detik, Alif seperti tikus lepas dari jeratan lem gajah. Tapi Mas Pardiman kembali menekan dengan pertayaan lanjutan.

“Kalau dipaksa menerima, apa yang akan Anda lakukan?” Pertanyaan mengejar ini diluar perkiraan Alif.

“Saya pikir tidak mungkin Mas. Sebab kita sudah menolak. Mestinya narasumber juga harus menghargai hak tolak kita, Mas!” jawab Alif. Di hatinya berharap pertanyaan tentang amplop akan selesai. Tapi Alif salah duga.

“Di lapangan, semua kemungkinan bisa terjadi, Dik. Apa sikap Anda kalau ternyata Anda dihadapkan pada persoalan itu?!” unutk kali kesekian Alif harus berpikir keras untuk mencafi argmen. Pertanyaan itu tak pernah terlintas dibenaknya. 

Alif hanya berpikir, pertanyaan dari Mas Pardiman sebatas boleh dan tidak boleh menerima amplop bagi wartawan. Jawabnya dipastikan simpel.

Sebab, Alif sudah lebih dulu dapat ilmu dari Mas Darmanto. Tapi kali itu Alif benar-benar terpojok. Sesaat Alif ambil napas. Gestur Alif tak lepas dari mata Mas Pardiman.

“Gimana, Dik?” Mas Pardiman menyandarkan punggung di kursinya. Mas Pardiman masih membuka ruang Alif mencari jawaban.

“Dibawa ke kantor, Mas,” Alif spekulasi. Otak Alif kemudian berlari memburu jawaban selanjuntnya. Hatinya agak uring-uringan. Mengapa pertanyaan ini terus, bisik hatinya.

Ragam teori jurnalistik, undang-undang pers dan tumpukan buku yang dibaca selama sebulan sebelum tes, menjadi sampah di hadapan Mas Pardiman.

“Lalu!?” Mas Pardiman mengangkat punggung dari sandarannya. Ia kembali melipat kedua tangannya di mejanya seperti di awal. Matanya masih menatap Alif. Mas Pardiman butuh jawaban.

“Ya, dibawa ke kantor, kemudian diserahkan ke pimpinan. Kita lapor kalau saya dapat amplop. Itu Mas!” mulut Alif seketika menjadi peralon bocor yang seketika memuncratkan air. Semua jawaban itu di luar perkiraan Alif. Mengalir begitu saja. 

“Mengapa tidak Anda bawa saja ke rumah, kan enak dapat duit? Lagi pula perusahaan tidak tahu kalau Anda dapat amplop?” Mas Pardiman belum menuntaskan isi kepala Alif. 

“Tapi narasumber memberi amplop untuk saya itu kan, karena saya wartawan. Pada saat itu saya membawa nama media tempat saya bekerja, Mas. Kalau saya datang secara pribadi, dan tidak ada embel-embel wartawan, saya kira narasumber mungkin juga tidak akan memberi amplop ke saya, Mas,” Alif mulai nyaman. Hatinya tidak lagi berdegup kencang. Jebakan-jebakan pertanyaan dirasa mulai ringan. 

“Oke, kalau seandainya ada wartawan yang secara diam-diam menerima amplop dan membawa pulang, lalu tidak melaporkan ke perusahaan? Menurut Anda, apakah sikap itu bisa dibenarkan?” pertanyaan ini membuat Alif kembali gelagapan. Belum pernah sebelumnya menerima pertanyaan setajam silet.

“Menurut Saya, Mas. Itu bentuk peghianatan!” sekenanya jawaban Alif.

“O, Iya!?” Mas Pardiman tersenyum kecil. Mas Pardiman kian penasaran dengan jawaban Alif. 

Di benak Mas Pardiman, Alif punya jawaban diluar kebiasaan. Mas Pardiman tidak menduga kalau Alif akan melontarkan jawaban itu.
“Penghianatan? Kok kayak penghinatan G30S/PKI saja,” Mas Pardiman berseloroh. Degup jantung Alif kembali reda, setelah beberapa detik Mas Pardiman tersenyum agak lebar.

Tapi Alif tidak mengetahui apakah jawaban itu benar atau tidak. Alif hanya melempar dadu. Kian banyak pertanyaan, Alif kian sekenanya menjawab. Hatinya mulai gundah.

Sebab jawaban itu sama sekali tidak pernah didapatkan di kelas kuliah. Jadi Alif juga ragu dengan jawaban itu.

“Apa maksudnya menghianati, Dik?” Mas Pardiman memancing lagi.

“Saya umpamakan begini, Mas. Misalnya Mas Pardiman punya mobil dan izin angkutan hanya untuk barang. Tapi sopir yang Mas percayai, malah mengangkut penumpang. Uang yang dia dapatkan dari penumpang diambil untuk kepentingan pribadinya tanpa se-izin perusahaan. Apa itu tidak sama saja mencuri uang perusahaan, Mas?” Alif menjawab dengan analogi.

“Oke, satu lagi, pertanyaan terakhir,” Mas Pardiman langsung konek dengan jawaban Alif. Kalimat terakhir Mas Pardiman membuat Alif seperti baru saja meletakkan batu besar dari pundaknya. 

Sesaat Alif menarik napas lega. Tapi di benaknya juga tidak tahu persis apakah jawaban itu sesuai keinginan perusahaan atau tidak. Alif hanya berpikir, usai keluar dari ruang wawancara akan berkonsultasi dengan Mas Darmanto, untuk meyakinkan jawaban kali itu.

“Mengapa Anda pilih jadi wartawan?! Kali ini pertanyaan Mas Pardiman menukik pada goal wawancara. 

“Panggilan jiwa, Mas,” jawab Alif tanpa ragu.

“Memang sebelumnya pernah jadi wartawan?” selidik Mas Pardiman.

“Sudah, Mas. Waktu saya di kampus saya aktif di LPM Ukhuwah,” ujar Alif.

“Apa itu Ukhuwah?” Mas Pardiman belum familiar.

“Majalah mahasiswa di kampus saya namanya Ukhuwah, Mas,” tegas Alif.
Sesaat Mas Pardiman membuka berkas di hadapannya. Kemudian merapikannya kembali. Matanya ke arah Alif. 

“Cukup. Dik. Nanti kabarnya akan disampaikan segera melalui telpon rumah,” Mas Pardiman mengakhiri wawancara. Alif keluar setelah sebelumnya menyalami Mas Pardiman dengan gennggaman mantap. Alif sengaja agak menekan tangan Mas Pardiman, sebagai simbol, Alif tidak ragu ketika memutuskan menjadi wartawan.

**

Tiga bulan berlalu. Itu pertanda proses magang Alif selesai. Benar saja, Alif resmi diangkat sebagai wartawan HSM setelah menandatangi kontrak pertama dalam jangka satu tahun. 

Waktu terus berjalan. Dinamika berita kian dikuasai Alif. Sejumlah karakter masing-masing redaktur, sebagai atasannya juga sudah dikenali. Masuk semester pertama, Alif menemukan kejanggalan.

“Lif, berita lounching Mobil Timor dapat?” tiba-tiba Herman Wijaya, redaktur halaman ekonomi muncul di belakang Alif. 

“Sedang saya kerjakan, Pak,” jawab Alif, kemudian kembali ke komputernya.

Sesaat Alif hanya melirik ke arah Pak Herman yang kemudian duduk di meja redaski yang berada di belakang tempat duduk wartawan.

“Halo, Ko!” Pak Herman seketika menelpon seseorang. Sebutan Ko, membuat Alif terkesiap. Sebab sebutan itu disandangkan ke narasumber yang tadi pagi baru saja diwawancarai. 

“O, iyo, dak apo-apo, aku kirim wartawan ke sano sekarang. Alif yang ke kantormu!” Pak Herman sepertinya menangkap pesan dari narasumber melalui telpon. 

Sesaat Alif tercenung ketika Pak Herman menyebut namanya di telepon dengan Bos Harapan Motor Palembang ini. Beberapa detik Alif menghentikan menulis.

Konsentrasinya pudar sesaat. Gerangan apa yang membuat dirinya harus kembali ke nara sumber? Hatinya bertanya-tanya.

“Lif! Kau sekarang ke tempat Ko Bun-Bun lagi, kato dio ado yang ketinggalan!” Pak Herman tiba-tiba memerintah Alif kembali ke Showroom Mobil Timor.

“Data apo lagi yang harus saya tanyakan pada Ko Bun-Bun?” Alif penasaran. Berita belum selesai di edit, tapi perintah redaktur tak kompromi. Sementara, hukum di perusahaan pers, perintah pemimpin redaksi dan redaktur tak ubahnya seperti perintah nabi dan Tuhan. Menolak perintah, siap-siap kena semprot.

“Kamu mau jadi wartawan atau tidak!? Kalau mau jadi wartawan ya turuti perintah redaktur, jangan mbantah!” ucapan itu nyaris sering di dengar Alif saat enam bulan berikutnya ada beberapa wartawan baru yang membuat alasan sebagai pembenaran tidak setor berita di raoat redaksi.

**

Cuaca di luar hujan deras. Sementara Alif harus memenuhi perintah Pak Herman ke kantor Harapan Motor.

Alif sangat paham, hujan dan panas bukan alasan untuk menolak perintah atasan. Hanya kematian dan orang tua sakit yang bisa ditolelir. Izin menghadiri pernikahan keluarga sekalipun tidak dizinkan. Apalagi sekadar mengikuti Yasinan tetangga. 

“Lif, ini sampaikan ke Bos Mu, ya!” ujar Ko BunBun, sembari menyerahkan benda yang terbungkus koran.

“Tidak ada yang lain Ko?! Alif menghidari kemungkinan akan menjalankan dua kali kerja kalau saja masih ada yang tertinggal di Harapan Motor untuk Pak Herman.
“Cuma itu kok, Lif! Sori ya, kamu jadi repot ke sini lagi,” Ko BunBun basa-basi.

Sampai di kantor, Alif tak menemukan Pak Herman. Tak mungkin benda itu disimpan di lemarinya tanpa se-izin Pak Herman.

“Sudah, Lif! Pak Herman muncul dari ruang pra cetak.
Alif berbalik mencari arah suara itu. Pak Herman sepertinya baru saja memeriksa halaman di ruang lay-out. 

“Ini, Pak,” Alif menyerahkan bungkusan itu pada Pak Herman. Alif belum beranjak dari hadapan Pak Herman. Alif masih menunggu perintah lanjutan usai menyelesaikan tugasnya. Sementara berita yang ditulis belum tuntas. 

Pak Herman dengan senyum seketika membuka bungkusan itu. Sebuah kaos bermerk Mobil Timor tampak jelas. Beriring dengan itu, sebuah amplop jatuh, hingga menimbulkan bunyi.

Mata Alif ikut terseret ke arah amplop. Alif menduga, ada benda pemberat di dalamnya. Kalau hanya selembar surat, jatuhnya tidak akan bersuara.

Buru-buru, Pak Herman mengambil amplop itu. Tatapannya ke kanan dan ke kiri. Gerak tubuh Pak seperti maling ketahuan tuan rumah. Sementara wartawan lain, siang itu hanya beberapa saja yang baru datang. Sehingga perilaku Pak Herman yang kikuk di hapadan Alif tidak terlihat.

Pak Herman menutup bibirnya dengan jari telunjuk. Matanya menatap Alif. Pak Herman memberi isyarat agar Alif tidak bicara dengan siapapun atas kejadian siang itu.

Tiba-tiba, Pak Herman menarik tangan Alif. Tarikannya agak kuat sehingga Alif tak kuasa menolak ketika Pak Herman mengajaknya masuk ke ruang area smoking.

Kami duduk berhadapan. Di ruangan itu belum ada satu wartawan pun yang duduk santai meski sekadar rehat merokok. Pak Herman kemudian menyobek bagian ujung amplop pelan-pelan. Matanya mengintip si amplop. Alif sudah menduga isi amplop itu.

“Ini untuk kau, Lif!” Pak Herman menyerahkan dua lembar kertas merah dengan angka 100 ribu-an.

“Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa terima ini. Terima kasih, Pak,” Alif seketika berdiri dan berbalik kembai ke ruang redaksi. Panggilan Pak Herman tak dihiraukan. Alif kemudian duduk kembali di depan komputer tempat ia menulis berita. 

Jantungnya berdegub kencang. Dadanya berdesir. Napasnya tak teratur. Pergulatan batinnya hampir saja memuncak. Kalimat Mas Darmanto dan pesan Mas Pardiman silih berganti melintas di benaknya.

Di ruang redaksi sudah ada beberapa wartawan yang datang. Alif mulai mengatur napas agar berlaku wajar. Alif menghela napas panjang, seperti melepas beban berat.

“Anjiing! Anjiing!” Alif mengumpat, sembari menekan beberapa huruf di keyborad komputer agak keras. 

“Kau tu ngapo, Lif!?” Mirdan, wartawan lainnya melihat gelagat Alif tak beres.

“Idak, ini keyboard-nyo agak ngadat!” Alif mengalihkan perhatian. Tapi tak kuasa juga menahan emosi. 

Alif beranjak dari duduk, masuk ke kamar mandi. Ia basuh mukanya sepuas-puasnya di depan westafel. Alif menatap mukanya sendiri di depan cermin. Kali itu, kalimat Mas Darmanto kembali melintas di benaknya.

“Wartawan itu membawa misi kenabian. Harus menulis kebenaran sesuai fakta. Itu yang namanya sifat siddiq dalam diri nabi. Harus profesional mengemban tugas dengan baik, tidak menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi. Inilah sifat nabi yang namanya amanah. Lalu tabligh. Sampaikan apa yang harus disampaikan. Sebab kita ini penebar kabar gembira, bukan menulis berita yang membuat pembaca kisruh apalagi chaos. Terakhir fatonah. Wartawan harus cerdas luar dalam; lahir dan batin. Cerdas luar, ya banyak-banyak membaca informasi, buku dan riset. Cerdas dalam, jangan putus dengan perintah lima waktu, tambah lagi yang sunnah. Kalau kita mau mencerdaskan orang lewat berita, kita harus lebih dulu cerdas. Sebab kita tidak bisa bercerita tentang rasanya garam, kalau kita tidak pernah memakan garam!” 

“Kalau ada wartawan tidak menjalankan pesan kenabian itu, namanya wartawan apa, Mas?! tanya Alif lagi.

“Wartawan apa, ya? Itu lebih tepat kita sebut wartawan nabi palsu,” jawab Mas Pardiman sekenanya. Alif dan Mas Darmanto tertawa bebas.

Meski kalimat terakhir kesannya kelakar, tapi pesan itu benar-benar terekam kuat di ruang batin Alif. Ia masih tidak terima dengan sikap Pak Herman di ruang rehat itu.

Kali itu Alif benar-benar tertampar. Sosok senior yang selama ini dihormati, menodai nilai-nilai nurani yang selama ini dikampanyekan setiap rapat dan in-house training.

Sesaat kemudan Alif masuk mushola. Tanpa takbirotul ikrom, Alif tersungkur sujud dan duduk. Tapi kedua tangannya memegang kepalanya yang mendongak.

“Ya, Allah berikan aku kemampuan untuk menahan godaan ini, ya Allah. La haula wala quwwata illa billah…,” Alif berkali-kali mengucapkan itu….

sepuas-puasnya di depan westafel. Alif menatap mukanya sendiri di depan cermin. Kali itu, kalimat Mas Darmanto kembali melintas di benaknya.

“Wartawan itu membawa misi kenabian. Harus menulis kebenaran sesuai fakta. Itu yang namanya sifat siddiq dalam diri nabi. Harus profesional mengemban tugas dengan baik, tidak menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi. Inilah sifat nabi yang namanya amanah. Lalu tabligh. Sampaikan apa yang harus disampaikan. Sebab kita ini penebar kabar gembira, bukan menulis berita yang membuat pembaca kisruh apalagi chaos. Terakhir fatonah. Wartawan harus cerdas luar dalam; lahir dan batin. Cerdas luar, ya banyak-banyak membaca informasi, buku dan riset. Cerdas dalam, jangan putus dengan perintah lima waktu, tambah lagi yang sunnah. Kalau kita mau mencerdaskan orang lewat berita, kita harus lebih dulu cerdas. Sebab kita tidak bisa bercerita tentang rasanya garam, kalau kita tidak pernah memakan garam!” 

“Kalau ada wartawan tidak menjalankan pesan kenabian itu, namanya wartawan apa, Mas?! tanya Alif lagi.

“Wartawan apa, ya? Itu lebih tepat kita sebut wartawan nabi palsu,” jawab Mas Pardiman sekenanya. Alif dan Mas Darmanto tertawa bebas.

Meski kalimat terakhir kesannya kelakar, tapi pesan itu benar-benar terekam kuat di ruang batin Alif.

Ia masih tidak terima dengan sikap Pak Herman di ruang rehat itu. Kali itu Alif benar-benar tertampar. Sosok senior yang selama ini dihormati, menodai nilai-nilai nurani yang selama ini dikampanyekan setiap rapat dan in-house training.

Sesaat kemudan Alif masuk mushola. Tanpa takbirotul ikrom, Alif tersungkur sujud dan duduk. Tapi kedua tangannya memegang kepalanya yang mendongak.

“Ya, Allah berikan aku kemampuan untuk menahan godaan ini, ya Allah. La haula wala quwwata illa billah…,” Alif berkali-kali mengucapkan itu….

Jalan Seruni – Palembang, 1996-2019




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com