Redaktur 24 Jam

Cerpen Imron Supriyadi


“Tiga hal yang penting dalam media kita. Pertama, penguatan ideologi, kedua penguatan struktural dan ketiga penguatan jaringan. Tapi yang terpenting untuk menentukan dua point, dua dan tiga, awak media yang akan kita bangun harus punya ideologi. Sebab ideologi adalah ruh. Wartawan tanpa ruh akan menjadi mayat hidup. Wartawan adalah pembawa misi kenabian. Jadi ruh wartawan adalah sidiq, amanah, tabligh dan fathonah,” tegasnya dalam pertemuan malam itu bersama sejumlah calon wartawan, Harian Rakyat Sriwijaya (HRS).

Surahman baru saja selesai shalat Shubuh. Alumnus Pondok Pesantren As-Salaam Surakarta ini, kemudian mengambil posisi di balik meja pendek setinggi 30 cm. Ia siap menerima setoran hafalan puluhan santrinya.

Sudah lima tahun terakhir, putra Salimun dan Nurhasanah ini berperan ganda. Satu sisi sebagai wartawan di Palembang. Sisi lain, putra asli Jombang ini mengelola rumah wakaf pinjam pakai dari almarhum Tuan Rahmat bersama Suharti, isterinya yang kini ikut mengelola rumahnya menjadi pondok pesantren berbasis rumah warga.

Sejak mengelola lembaga pendidikan agama di rumahnya, alumnus pascasarjana Universitas Agama Islam Kiai Marogan Palembang tahun 2014 ini, jiwa kewartawanannya terbagi 60 : 40.

Sebab, waktunya sebagian tersita mengurusi puluhan santri yang menginap 24 jam di rumahnya. Sebagian lagi, waktunya dicurahkan di komunitas jurnalis mahasiswa di kampusnya.

“Mulai tahun 2013, saya akan menggantung pena. Tetap menulis, tetapi bukan berita. Saya akan menulis apa saja selain berita,” ujar Surahman, pada Cristian, wartawan foto di Palembang, yang kini memilih banting setir membuka Coffee di kampusya, setelah media tempat ia bekerja menyatakan pailit.

Pun demikian halnya Surahman. Meski naluri kewartawanannya masih menguat, tapi apa boleh buat. Surahman juga harus tunduk pada takdir. Naiknya harga kertas di awal 2014, telah mendera sejumlah media cetak di negeri ini. Baik Palembang, Jakarta dan di kota lain, tidak sedikit gulung tikar. Sebagian re-inkarnasi menjadi media online. Termasuk media tempat Cristian bekerja 4 tahun lalu.

Di tengah kosongnya job dunia wartawan, Aswin Zarkasi, salah satu reporter Radio Berita di Palembang malam itu mendatangi Surahman. Hampir 6 bulan Aswin tak berkunjung ke pondoknya Surahman.

Ilustrasi : Net

Bersama Riki, enterpreunership Palembang, Aswin datang membawa 2 kantong beras 20-an Kg dan 3 bungkus mis instan–untuk santri. Malam itu, Aswin membawa kabar rencana seorang investor yang ingin mendirikan radio berita di Palembang.

Gayung bersambut. Surahman menyetujui. Sebab 8 tahun lebih bersama Aswin, pernah mengelola radio berita di Palembang di era 1998-2013.

Dua pekan berlalu. Bahasan tentag radio sudah perfect. Aswin kemudian mengenalkan Surahman dengan Ibu Berta, calon investor yang siap mendanai radio dan media cetak di Palembang.

Bagi orang lain, mengajak Surahman bergabung di media bukan hal mudah. Tapi bagi Aswin tiddak. Sebab, Aswin sangat paham, Surahman punya penyakit kronis : Tidak bisa menjadi orang nomor dua.

Jadi dipastikan, siapapun yang mengajak, bila posisi Surahman tidak pada pemegang kebijakan, akan selalu ditolak. Tapi Aswin paham dan sangat penangkal penyakit Surahman.

Kedua, Surahman tidak serta merta menerima tawaran dari sembarang pemodal. Sebagai wartawan senior di Palembang yang aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, Surahman harus mengetahui track record investor.

Bagi Surahman, pemetaan ideologi dan kepentingan investor menjadi harga mati. Surahman sangat pantang dirinya tergadai lantaran kesejahteraan di tempat bekerja. Baginya, kenyamanan menyalurkan daya kritis dan iklim kerja menjadi hal utama. Soal upah, bagi Surahman itu nomor dua.

“Tiga hal yang penting dalam media kita. Pertama, penguatan ideologi, kedua penguatan struktural dan ketiga penguatan jaringan. Tapi yang terpenting untuk menentukan dua point, dua dan tiga, awak media yang akan kita bangun harus punya ideologi. Sebab ideologi adalah ruh. Wartawan tanpa ruh akan menjadi mayat hidup. Wartawan adalah pembawa misi kenabian. Jadi ruh wartawan adalah sidiq, amanah, tabligh dan fathonah,” tegasnya dalam pertemuan malam itu bersama sejumlah calon wartawan, Harian Rakyat Sriwijaya (HRS).

Setelah melalui rapat yang cukup alot, akhirnya Surahman didaulat menjadi Pemimpin Redaksi, sekaligus merangkap redaktur senior. Sementara Bu Berta, diposisikan sebagai Pemimpin Umum.

Alasannya, selain Owner, Bu Berta juga memiliki latar belakang jurnalis dan copy editor di Harian Musi Palembang selama 8 tahun. Bu Berta mundur karena punya niat kuat mendirikan media sendiri.

Suasana redaksi kian nyaman, ketika Surahman dan Aswin berhasil memilih sejumlah wartawan yang secara ideologi benar-benar steril dari virus amplop. Sengaja Surahman dan Aswin mengajak jurnalis kampus yang baru saja selesai studi.

Menjaring jurnalis muda yang berlatar belakang kampus menjadi penting. Sebab, prinsip Surahman lebih baik tenaga dan pikirannya habis untuk membentuk ideologi dan mental calon wartawan, ketimbang membersihkan virus amplop yang melekat pada diri wartawan yang sudah akut dan menahun.

Prinsip itu ia pegang sejak Surahman aktif di media tahun 1996 di Palembang, Surahman komitmen dan konsisten dengan “anti amplop dan isinya” bagi setiap wartawan.

Baginya, wartawan yang terbiasa menerima amplop dan isinya dari nara sumber, sama halnya menjual harga diri. Meskipun, risikonya banyak wartawan yang mengatakan bodoh, tolol dan lolo terhadap Surahman.

“Saya bangga dengan ketololan saya ini. Biarlah saya kehilangan amplop, asal jangan kehilangan harga diri di depan narasumber dan apalagi di hadapan Tuhan. Terima kasih, kawan,” itu jawab Surahman setiap kali ada cibiran melalui SMS atau WA.

Bagi Surahman, soal menolak amplop bukan karena kode etik. Tapi berkaitan dengan harga diri. Sebab analogi di benak Surahman, tidak mencuri bukan atas dasar adanya larangan Tuhan dan undang-undang. Tetapi bermula adanya kesadaran garis antara baik dan buruk. Antara salah dan benar. Itulah dasar ke-khalifahan yang hakiki.

Siapapun, apakah kiai, ustadz, agamawan, ruhaniwan, politisi, karyawan, termasuk wartawan yang tidak lagi mendasari dirinya dengan kesadaran ruh ke-khalifahan, tak lagi melihat adanya salah dan benar, maka dia akan terjerembab pada kenistaan. Harga dirinya akan lebih rendah dari hewan.

“Anda mau saya bayar dua ratus juta, tapi saya potong tangan Anda hari ini!? Pasti tidak mau kan? Artinya, secara fisik kita ini mahal harganya, apalagi harga diri non fisik kita, atau batiniah kita! Tentu akan lebih mahal dari segalanya, Mas Bro! Itu yang saya bilang, mengapa kita harus menolak amplop dan isinya!” ujar Surahman dalam setiap pelatihan ideologi jurnalis di Palembang.

Bukan hanya itu saja. Bagi ayah dari 1 putri dan 2 putra ini, menerima amplop dan isinya bagi wartawan sama halnya mengukur diri kita dengan duit.

Bagi Surahman, setiap nara sumber yang memberi duit usai wawancara, kelak ketika mereka duduk sebagai pejabat atau bertemu yang bersangkutan di lain hari, wajah si wartawan sudah terukur dengan rupiah.

Hal ini yang membuat Surahman punya motto : biar miskin asal sombong. Bukan miskin sebenarnya, tetapi lebih baik mempertahankan harga diri dengan tetap menahan lapar sementara, dari pada orang akan mengukur kita dengan duit. Tuhan pasti akan mengganti dengan rejeki yang lain! Demikian yakin Surahman memegang nilai-nilai itu.

Sikap keras dan tegas Surahman bukan hanya terhadap amplop. Daya kritis Surahman juga sudah banyak dikenal sejumlah pejabat di Sumatera Selatan. Gubernur, Wali Kota, Pangdam II Sriwijaya, Kepala Diknas, semua pernah dikritik melalui tulisannya. Semua pernah berurusan dengan Surahman, gara-gara berita yang pedas.

Tahun 2002, Surahman sempat mendapat tekanan dari salah satu Wali Kota di Sumsel. Aksi 1500 becak yang dipimpinnya bentrok dengan aparat. Dua mobil dibakar. Surahman pun jadi tersangka. Karena Surahman duduk sebagai pemimpin aksi. Kali itu Surahman tak sadar kalau posisinya sebagai wartawan. Netralitas profesinya ternoda karena membantu ribuan abang becak di Palembang.

Konsekuensinya, bersama kedua abang becak Sanip dan Heru, Surahman harus mendekam di penjara Polresta Palembang kali itu. Imbasnya, Mas Purnama, General Manager (GM) tempat Surahman bekerja di radio akhinrya dipanggil Wali Kota. Gobloknya, Mas Purnama dan Firman, salah satu reporternya memenuhi panggilan tanpa seberkas suratpun.

“Sebagai pimpinan media, Mas tidak bisa datang begitu saja. Harus ada panggilan resmi dari Pak Wali. Dia itu raja kota ini Mas! Kita tidak tahu suasana di ruangan Pak Wali. Bisa saja Pak Wali menyiapkan preman di ruangannya. Mau jadi apa kita kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Tidak ada bukti. Namanya juga raja bisa melakukan apa saja. Ingat nggak dengan wartawan Udin di Yogya? Udin mati tanpa jelas siapa yang membunuh. Terakhir, ada dugaan keterlibatan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo! Bukan tidak mungkin itu terjadi disini, Mas!” ujar Surahman setengah protes kepada GM-nya setelah satu pekan dibebaskan dari kurungan.

Deretan panjang perjalan karir Surahman di dunia wartawan terekam jelas. Tidak semua orang suka, terutama para pejabat tinggi di Sumsel yang acap kali dikritik pedas dengan tulisan di media yang ia pimpin. Baik melalui berita, editorial, atau sesekali menyentil dengan bahasa sastra.

Tak terkecuali, Harian Rakyat Sriwijaya. Senior wartawan di Sumsel yang tercantum sebagai dewan redaksi di media yang ia pimpin, nyaris semua kolega Bu Berta.

Meski Surahman kenal dengan mereka, namun tak diucapkan. Hingga di satu kesempatan, satu pekan sebelum terbit, Bu Berta sempat berbincang kecil dengan Surahman.

“Man, kau kenal kan dengan nama-nama dewan redaksi kito? Itu senior Ibu galo, Man. Mereka itu banyak mengajari Ibu menulis,” Bu Berta sepertinya malam itu ingin menyelidiki pergaulan saya dengan sejumlah wartawan senior di Sumsel yang terderet di jajaran dewan redaksi.

“O, Insya Allah kenal. Dan semoga mereka juga masih mengenal saya dengan baik!” jawab Surahman tanpa beban.

Surahman sangat mengetahui siapa saja yang duduk di jajaran redaksi. Bukan hanya kenal nama, tapi Surahman juga sangat paham dengan pola pikir dan permainan sebagian seniornya di media.

Namun Surahman tak pernah mengungkapkan pada siapapun. Baginya, itu pilihan para senior. Dan Surahman juga punya pilihan sikap yang tak sesiapa yang bisa mengubahnya, kecuali Tuhan.

“Man, pernah ndak kau ngobrol-ngobrol sebelumnya dengan mereka? Maksud aku, kau pernah kerjosamo dengan mereka?!” sesaat terhenyak. Surahman tak menyangka kalau Bu Berta akan bertanya sejauh itu.

Bu Berta sepertinya sudah mengantongi rekam jejak Surahman. Malam itu, Bu Berta seperti melakukan investigasi.

Tapi Surahman enteng saja menghadapinya. Bu Berta memang harus mengetahui bagaimana hubungan antara para senior dengan dirinya. Terutama sikap ideologi para senior yang lebih banyak bersebarangan dari pada sejalan dengan Surahman.

“O, baik. Bu. Ya, saya sesekali saja, Bu berdialog dengan mereka. Ada beberapa kali ketemu di forum seminar, atau di acara non formal. Kalau saya terhadap mereka, apalagi senior, ya tidak ada masalah. Tapi kalau mereka, saya tidak tahu, Bu! Saya kan tidak pernah pusing dengan penilaian orang, Bu,” ujar Surahman.

Satu pekan berlalu. Malam terbit sudah tiba. Kami di kantor redaksi berjibaku dengan halamannya masing-masing. Sementara, kantor belum rapi, wartawan duduk sesantai-santainya mencari lokasi yang nyaman untuk menulis. Hanya beberapa kata saja yang muncul dari mulut kami. Itu pun sesekai. Sisanya fokus pada editing berita, foto dan lay out.

Pukul. 21.00 WIB selesai. Koran dalam bentuk PDF sudah dikrim ke percatakan melalui email. Semua wartawan kemudian ngobrol santai malam itu. Sesekali membahas topik edisi berikutnya. Setelah satu jam, berbicang Surahman dan sejumah wartawan pulang.

Pagi, menjelang siang, usai menerima setoran hafalan santri, sebuah WA masuk ke hand phone Surahman. Terlihat WA forward dari Aswin. Sepagi itu, Surahman sudah dihadapkan pada informasi yang mengundang ribuan tanya. Terasa lunglai badan Surahman membaca WA pagi itu. Isi WA itu :

“Atas pertimbangan profesional, dan tuntutan klien yang harus melampirkan sertifikat lulus UKW atau UKJ dalam mengajukan iklan, maka sementara waktu koran kita pending, dan tidak terbit. Nanti setelah semua persyaratan terpenuhi, koran akan kita terbitkan kembali, dengan waktu yang belum kami tentukan. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membatu terbitan perdana. Mohon maaf bila ini mendadak.”

Setegar Surahman, pagi itu seketika terduduk lesu. Ia menghela napas panjang. Semangat yang menggebu, seperti panas setahun dihapus hujan sehari. Sebatang rokok ia sulut untuk mengusir kegalauan. Juta tanya terbang bersama asap putih yang keluar dari mulutnya.

“Ado apo, Yah?” Suharti, isteri Surahman sangat mengetahui kalau suaminya sedang dirundung masalah pagi itu.

“Ini WA dari Aswin!” Surahman menyerahkan hand phone pada Suharti.  

Beberapa saat isterinya membaca WA serius.

“Sudahlah, Yah. Itu namanya bukan yang terbaik di mata Allah untuk kito,” ujarnya menghibur Surahman.

“Tapi, kok sesingkat itu, Bun!? hanya 24 jam, langsung ditutup! Ini ado apo!?” Surahman agak meninggi suaranya. Ia protes. Tapi tak tahu kepada siapa?!

“O, Tuhan, kalau cuma satu kali 24 jam terbit, cubo ndak usah aku ini yang kau suruh jadi pemimpin redaksi. Malu, Bun, Malu ayah ini, Bunda!? Ayah sudah kontak sama kawan-kawan di daerah untuk membantu. Mereka belum dibayar Bun! Malu ayah ini, Bun!” mata Surahman berkaca-kaca di hadapan isterinya.

“Aku harus telpon Bu Berta!” Surahman bergegas mengambil hand phone dari tangan isterinya.

“Halo, Bu. Ini Surahman! Kok bisa begini, Bu? Gimana ceritanya?!” tanya Surahman pada Bu Berta melalui Hand Phone. Isterinya hanya menatap sedih.

“Itulah adindoku, yang sejak awal tidak Ibu pertimbangkan. Ternyata klien kito, minta sertifikat UKW atau UKJ utama untuk Pemimpin Redaksi, terutama untuk pengajuan iklan. Sementara, adik kan belum ado!” ujar Bu Berta berargumen.

“Saya sudah lulus, UKJ, Bu! Setifikatnya masih diproses. Pekan depan selesai. Kan bisa nunggu dulu. Ngobrol dulu. Kok jadi seperti ini!?” Surahman tak terima.

“Sepengetahuan saya, Bu. Sertifikat UKW atau UKJ Utama, bukan prasyarat untuk pengajuan iklan. Itu hanya syarat menjadi pemimpin redaksi, dan itu juga ketentuan dari Dewan Pers, bukan dari klien calon peng-iklan. Jadi alasan itu mengada-ada. Kolom pegajuan iklan saya juga punya, Bu. Di situ tidak ada kolom yang mewajibkan lampiran sertifikat lulus UKW atau UKJ!” Surahman menolak alasan Bu Berta.

“Tapi, Ibu sudah kontak sama klien. Mereka minta itu, Dik. Jadi sementara kito pending dulu cetaknyo. Kalau ke depan akan cetak lagi, kito biso koordinasi lagi. Sekali lagi Ibu minta maaf,” ujar Bu Berta terkesan tanpa beban.

Entah beberapa bulan berselang, terdengar kabar. Media Rakyat Sriwijaya terbit dengan nama baru, namanya : Media Sinar Sumatera . Jajaran redaksinya, masih orang lama. Hanya Surahman, Aswin dan sejumlah wartawan kolega Surahman yang ikut dibuang Bu Berta.

Sampai akhirnya kisah ini ditulis, Surahman dan Aswin tak menemukan jawaban pasti, mengapa Bu Berta tiba-tiba menutup Media Rakyat Sriwijaya, dan menerbitkan koran baru Media Sinar Sumatera.

Enam bulan berlalu. Surahman sudah konsen kembali pada belasan santrinya. Tak ada lagi harapan untuk kembali memimpin Media Rakyat Sriwijaya. Tapi, Tuhan mengutus seseorang. Dalam satu kesempatan, Andri salah satu wartawan Jakarta yang bertugas di Palembang membawa kabar tentang Surahman dan Aswin.

“Itu intervensi kekuasaan, Kak! Bukan murni dari Bu Berta,” ujar Andri serius.

“Ah, sok tahu kamu, An! Dari mana kau tahu?” Surahman tak percaya.

“Aku nggak bisa sebut sumbernya, tapi jelas A-1 ini, Kak. Sumbernya valid banget! Aku dengar langsung!” tegas Andri.

“Kok, Bu Berta ketakutan sama kekuasaan!? memangnya penguasa itu Tuhan!?” Surahman agak emosi.

“Biasalah, Kak. Ini kan menyangkut kue iklan dari pemerintah. Selama ini kakak pegang koran sebelumnya, mana ada iklan pemerintah yang mau masuk ke koran kakak. Mereka itu setengahnya mengancam, kalau nama kakak sama Kak Aswin masih di jajaran redaksi, kue iklan dari pemerintah tidak akan dikasih, Kak!” ujar Andri.

“Andri, iklan itu bukan hanya besumber dari pemerintah, masih banyak peluang lainnya. Kok pemerintah jadi Tuhan! Sudahlah, An. ndak usah dibahas lagi. Buat aku, soal itu sudah lama jadi taik! Close, aku nak konsen ngurusi santri! matilah pegi!” ujar Surahman ketus. Andri hanya tersenyum kecil!**

Jalan Seruni – Palembang, 08 Juli 2019




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com