Berbeda sehari, HUT Kota Palembang Diperdebatkan

13 total views, 3 views today

Palembang Diklaim Menjadi Kota Tertua di Indonesia, Sejarawan Ungkap Ada Perbedaan Penetapan Tanggal. Di satu sisi Pemerintah Kota Palembang menetapkan tanggal 17 Juni, sementara sejarawan tanggal 16 Juni.

PALEMBANG I KSOL – Pemerintah Kota Palembang memperingati hari jadinya ke 1336 tahun, Senin (17/6/2019)

Tepat hari ini Palembang sudah berusia 1336 tahun. Dan diklaim sebagai kota tertua di Indonesia.

Sejarah Kota Palembang berawal dari ditemukannya prasasti kedukan bukit pada 29 November 1920 di Kebun H Jahri di tepian sungai Tatang desa kedukaan bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang.

Pada prasasti tersebut dituliskan tahun 604 saka tanggal 5 Suklapaksa bulan Asdha dan dikonversi dalam penanggalan Masehi 16 Juni 682 Masehi kemudian sepakati hari jadi kota Palembang.

Namun sejak 6 Mei 1972 hari jadi Kota Palembang diganti menjadi setiap 17 Juni.

Hal ini berdasarkan keputusan walikota saat itu, nomor 57/UM/WK.

Keputusan tersebut berdasarkan hasil diskusi para ahli sejarah bahwa kesimpulan diskusi hari jadi kota Palembang adalah pada tanggal 5 bulan ashada tahun 605 caka atau 17 Juni 683 Masehi.

Sejarawan dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Kemas Ari Panji mengatakan, kilas balik Kota Palembang perlu dilakukan peninjauan kembali mengenai penetapan hari jadi Kota Palembang.

Sebab kata dia, jika hari jadi kota Palembang berdasarkan dari prasasti kedukan bukit maka menurut dia, seharusnya hari jadi Kota Palembang jatuh pada 16 Juni 682 Masehi.

“Untuk tahun ahli arkeologi memang ada yang berbeda pendapat antara 682 dan 683. Namun untuk penanggalan di dalam isi prasasti kedukan bukit dinyatakan tanggal 16 Juni,” kata Kemas, saat dihubungi.

Kemas mengatakan, hari jadi kota Palembang tidak bisa ditentukan cuma hanya hasil diskusi atau kesepakatan saja.

Apalagi diskusi saat itu dilakukan masih mengacu pada prasasti kedukan bukit. Sebab jika mengacu pada prasasti tersebut maka yang benar hari jadi Palembang itu jatuh pada setiap 16 Juni.

“Hari jadi kota Palembang seharusnya mengacu pada akte. Akte disini yakni prasasti kedukan bukit. Bukan berdasarkan ingatan atau kesepakatan kesepakatan saja,” kata dia.

Menurut dia, para ahli menafsirkan pada saat itu diceritakan sedang membangun Wanua atau diyakini sebagai pembangunan kota.

“Walau ada perbedaan sehari tapi ini berbeda maknanya. Maka kami usul Pemkot dan DPRD harus ada penetapan ulang mengenai penetapan hari jadi kota Palembang,” kata dia.

TEKS : SRIPOKU.COM





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com