Pameran “Udara Pembebasan” Napas dari Balik Jeruji

20 total views, 10 views today

YOGYAKARTA — “Udara Pembebasan” merupakan tema pameran seni rupa karya Aulia Muhammad, yang akan digelar di Asmara Art and Coffe Shop, Jl. Tirtodipuran no. 22 Yogyakarta, 15April – 4 Mei 2019 dikuratori Jajang R Kawentar. Pameran akan dibuka oleh M.Ali Syeh Banna, Bc.IP , S.Sos, M.Si, Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas l Yogyakarta 15 April 2019 pukul 20.00 WIB dengan hiburan Band Black Finit dan Sanjonas.

Oleh Jajang R Kawentar, Kurapreeet dan Penulis di Art Crtique Community

Aulia Muhammad lahir di Yogyakarta terjerat kasus narkoba jenis ganja, waktu itu masih mahasiswa semester 8 Universitas swasta Yogyakarta jurusan Teknik Industri. Kejadiannya pada tahun 2007, terkena hukuman 2,5 tahun.  Pertama dia dimasukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan 4 bulan, Lapas Wirogunan 4 bulan, lalu dipindah ke Lapas narkotika Pakem sebagai penghuni pertama semenjak Lapas dibuka. Setelah 10 bulan menginap di sana dia keluar, bebas bersyarat pada Mei 2009.

Setelah 6 bulan menghirup udara bebas, tertangkap lagi karena ganja 1 kg, sabu sisa pakai,  ekstasi 300 butir. Menurut pengakuannya dia tidak pakai ekstasi, barang itu milik orang yang dia sendiri tidak kenal.

Salah satu karya yang di pamerkan dalam “Udara Pembebasan”

2011 mulai melukis, drawing, skets. Dia menggambar mulai tengah malam setelah para narapidana lain tidur semua. 2015 mulai intens melukis dan mulai berani terang-terangan. Mulai bangun pagi, ngopi, cari rokok dan sampai malam melukis. Aktifitasnya itu menjadi tontonan para narapidana lain.

Mereka bercanda, setiap bentuk atau pigur yang digambarnya menjadi tokoh atau bahan tertawaan, bahan cerita konyol. Aulia mulai bisa menikmati guyonan, dan ejekan kawan-kawannya yang sengaja ingin menonton dirinya melukis. Pada tahun itu lukisannya dianggap belum layak ikut pameran oleh petugas Lapas karena Aulia tidak menggambar realis.

Walau begitu dia mendapatkan penghargaan festival seni lukis internasional. Finalis Tokyo International Mini Print Triennial 2018 di Tokyo, Jepang. 3rd Winner Drawing di Accademia Riaci Italy 2019. Karyanya lolos di Florence Biennial 2019 katagori Painting.  

Karya yang dipamerkan kali ini merupakan proses menemukan jati diri dan menggantikan cara sakau menginginkan barang haram atau ingin mencoba bereksperimen membuat ramuan kimia menjadi narkoba, kini diaplikasikan menjadi sebuah karya seni. Mestinya karya seninya itu menjadi seperti candu.  

Di mana proses dalam Penjara ini menjadi sangat penting, untuk dipresentasikan. Bagaimana Aulia Muhammad belajar dan mengajari dirinya sendiri berkarya seni, seperti bagaimana dia melakukan, meracik bahan kimia menjadi obat yang membuatnya merasakan adanya halusinasi, imaginasi liar dan ilusi.  Karya yang ditampilkan hanya 25 buah dari ratusan karya yang dihasilkan dari kerja kreatifnya selama dalam penjara Pakem, antara 2016 sampe 2018 menjelang menghirup udara bebas.

Ada 23 karya lukis dan drawing di atas kertas berukuran A3 dan A4, serta dua karya lukis di atas kanvas yang bisa membuat kita mabuk.

Jakarta, 5 April 2019





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com