Es Kopi D’lusuk : Buka dan Tutup Sesuka Hati

13 total views, 1 views today

Ketika malam menjelang, sebagian orang memilih istirahat dari pada beraktifiats. Lelah di satu hari menjalankan kegiatan diperlukan energi simpana di esok hari. Baik bagi karyawan, aparat pemerintah atau pekerja kantoran lainnya, malam adalah waktu untuk merebahkan diri demi menjaga stabilitas energi ketika pagi menjelang.

Namun lain halnya dengan Putra Anwar Pratama, Raihan Taneta Putra dan Majid. Kedua mahasiswa dan Majid, salah satu satu Aparat Sipil Negara (ASN) di sebuah instansi pemerintah ini, malam menjadi ruang bagi ketiganya membuka lapak dagangannya, yang mereka namai : Es Kopi D’Lusuk (D’lusuk).

Pilihan malam menjadi waktu melayani pembeli, bukan tanpa alasan. Ketiga enterpreunership ini bersepakat D’lusuk hanya akan dijalankan, ketika semua akivitas belajar dan bekerja sudah selesai.

D’Lusuk ketika buka di malam hari dengan konsep Mobil sebagian terbuka

Itulah mengapa D’lusuk menjual kopinya di malam hari. Sebab, di siang hari ketiganya harus menjalani proses belajar mengajar di kampus, dan Majid berkewajiban menjalankan tugas negara sebagai ASN.

“Istilahnya, jadwal yang menyesuaikan kami, bukan kami yang menyesuaikan jadwal,” kata Raihan, ketika ditemui, di KI, Palembang, pekan silam, Ahad (24/3/2019).

D’lusuk, yang kini sedang digeluti ketiganya, menerapkan konsep jualan dengan istilah; Buka sesuka hati dan tutup sesuka hati (BSH-TSH). Menurut mereka, konsep yang dipakai ini dimaknakan, D’lusuk menjual es kopi tergantung suasana hati. Jika kondisi perasaan sedang baik, disilakan membuat kopi. Namun jika perasaan sedang galau, lebih baik tidak membuat kopi.

“Karena kondisi perasaan seseorang akan sangat berpengaruh pada cita rasa kopi,” kata Putra ketika ditemui di Kambang Iwak (KI), Palembang, pekan silam, Ahad (24/3/2019).

Daftar Harga Es Kopi D’Lusuk disandrakan di belakang mobil yang dimodif terbuka bagian tengah di belakang sopir

Konsep BSH-TSH menurut Putra, selain tergantung suasana hati, ide ini didasari dari kondisi ketiga pengelolanya. Sebab ketiga personil D’lusuk, masih menjalan aktifitas rutin yang tidak bisa ditinggalkan, baik sebagai mahasiswa dan ASN di instansi pemerintah.

“Jadi jualannya, jika kami sudah tidak ada aktivitas belajar dan bekerja lagi,” tambah Putra, mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang (UIN-RF), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Jurusan Jurnalisik.

Gaya Blusukan ala Jokowi?

Hal lain yang menjadi konsep D’lusuk, mengedepankan gaya blusukan. Dengan mobil yang dimodif sebagian terbuka, jualan es kopi D’lusuk, bisa berjualan di mana saja, dengan harapan dapat menarik masyarakat.

Hal ini diterapkan, agar D’lusuk bisa blusukan ke berbagai tempat. Dengan fasilitas mobil, jualan es kopi bisa lebih praktis dan dapat menetap di manapun.

“Dengan mobil, D’lusuk bisa parkir dimana saja,” kata Raihan, mahasiswa Jurusan Jurnalistik FDK UIN-RF Palembang.

Asal D’Lusuk

Kata D’lusuk, berasal dari kata Blusukan ala Presiden Jokowi. Tapi, menurut Raihan jika istilah blusukan dipakai sebagai nama kopi, terlihat aneh. Akhinrya blusukan diubah sedikit menjadi D’lusuk, supaya lebih unik dan menarik bagi pelanggan.

Bagi Majid yang sudah menjadi ASN, munculnya D’lusuk tidak sebatas bisnis murni. Tetapi lebih penting dari itu, D’Lusuk mengedepankan sisi enterpreuner sosok mahasiswa, terutama Putra dan Raihan. Bagi Majid, dua mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi motivasi mahasiswa lain agar berani berwirausaha, tanpa harus menunggu purna bhakti dari bangku kuliah.

“Paling tidak, mahasiswa lain datang ke D’lusuk, membeli es kopi dan lihat, ternyata yang berdagang mahasiswa,” kata Majid, ketika ditemui di tempat berjualnnya di KI, Palembang, pekan silam, Ahad (24/3/2019).

Konsep Papan Menu sederhana ala Es Kopi D’Lusuk

Mobil Modifikasi jadi Khas

Konsep jualan dengan mobil yang dimodif sebagian terbuka, hingga saat ini masih menjadi khas D’lusuk. Namun ketiganya bersepakat, bila kelak mereka memiliki cukup modal, D’Lusuk akan membuka kedai khusus di suatu tempat, dengan menambah personil yang bisa menetap di kedai. Sementara, jualan menggunakan mobil hanya akan dilakukan saat hari libur. 

Ketika D’Lusuk sudah memiliki kedai, mereka menjadwalkan Hari Senin sampai Sabtu, akan berjualan di kedai. Namun bila hari libur, atau pada saat ada acara dan event tertentu, mereka akan menjual kopi menggunakan mobil. “Tidak akan hilang, karena D’lusuk akan membuka kopi di setiap event dengan mobil. Konsepnya tetap buka sesuka hati, dna tutup sesuka hati,” ujar Majid.

Guna menopang brandingnya, D’Lusuk melakukan promosi melalui media sosial (Medsos). Diantaranya Insta Gram (Ig) yang bisa dikunjugi melalui : @D_lusuk.

TEKS / FOTO : MUHAMMAD RIDHO





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com