Ironi merasa sudah berbuat (Editorial – 22 Feb 2019)

SUDAH MENJADI  agenda lima tahunan, menjelang pemilu kita akan temui berbagai poster, baleho, spanduk, pamlet, kalender, stiker, kartu nama, yang berlogo partai, pasangan calon presden dan calon legislatif (caleg).  Tak jarang, diantara poster tertempel di dinding kamar mandi terminal, tempat cucian mobil, sampai di pintu WC umum sekalipun.

Sementara sejumlah baleho, ada juga yang bertengger di jalan pinggir hutan, atau di depan pagar sekolah, masjid dan di sejumlah tempat fasilitas publik. Penempatan semua alat dan atribut kampanye seolah tidak menghitung efek politik, tentang bagaimana dengan alat kampanye itu bisa mendongkrak elektabilitas politik sang calon.

Gambar dan poster yang tersebar sangat variatif. Diantaranya ada yang merupakan incumbent, legislator lama yang mencalonkan diri kembali. Sebagian lagi para caleg baru, yang tengah memasang diri, kalau-kalau saja dapat “ketiban duren” bisa ikut duduk di kursi legislatif.

Inilah wajah realitas demokrasi kita, yang setiap lima tahun akan menjadi “pertandingan politik” di negeri ini. Diatas baleho dna poster hampir semua caleg mengusung slogan dan tagline janji, atau paling tidak taglien itu ingn menyimbolkan kepribadian, visi dan misi sang caleg. Misalnya ; siap perjuangkan nasib rakyat, muda, jujur dan cerdas, peduli rakyat dan masih banyak lagi tagline lain.

Tentu semua itu dilakukan untuk menarik simpatik konstituen, agar kelak pada saatnya memilih akan mencoblos sang caleg. Memang, ini bukan satu dosa atau hal yang haram dalam kontestasi politik di negeri ini. Semau boleh dilakukan selama tidak melanggar undang-undang.

Pertanyaannya adalah, bagi mereka yang sudah duduk di kursi legislatif, apa yang sudah dilakukan untuk rakyat selama lima tahun terakhir? Bagaimana mengukur keberhasilan para senator di Sumsel selama lima tahun sebelumnya? Lalu bagi caleg yang baru, apa yang sudah dilakukan untuk rakyat sebelum menyatakan diri siap menjadi wakil rakyat?

Slogan dan tagline yang kita baca, mengesankan semua caleg sudah merasa berbuat untuk rakyat. Tapi yang mesti ditelusuri adalah, berapa kebijakan parlemen yang merupakan produk politik anggota dewan yang secara langsung menyentuh kepentingan rakyat?

Seberapa banyak dari kebijakan politik itu kemudian merubah nasib rakyat, yang lima tahun sebelumnya katanya sudah mereka perjuangkan? Lalu bagi yang baru ikut bertanding dalam kancah politik, sudah seberapa banyak yang dilakukan untuk kepentingan publik, bila ternyata yang bersangkutan baru melek politik sebagaimana bayi yang baru lahir kemarin sore? Akankah rakyat percaya untuk memilih?

Sepertinya, hasil kerja politik para anggota dewan lima tahun lalu, tidak menjadi rasionalisasi bagi konstituen, apakah incumbent layak dipilh kembali atau tidak. Pun demikian halnya bagi para caleg baru. Konsitituen tidak lagi menimbang, sudah berapa banyak kemanfaatan yang sudah dilakukan para tokoh yang baru muncul.

Inilah keberuntungan sistem politik di negeri ini yang masih menganut politik aliran. Siapapun yang mencalonkan diri sebagai caleg, selama ada hubungan darah, relasi bisnis, historis pendidikan, kaitan emosional dan ideologi agama, akan tetap saja dipilih, meskipun pada saatnya duduk tidak pernah ada kebijakan yang membela nasibnya.

Bila ini yang terjadi, wajar bila siapapun di negeri ini boleh menyatakan diri “merasa sudah” berbuat sesuatu. Ironis memang, ketika kalkluais poliitik hanya berdasar pasda politik aliran. Sebab konstituen nyaris tidak pernah menimbang kontribusi apa yang sudah diperbuat oleh para caleg, baik yang incumben maupun caleg yang baru.

Namun, demikian pada pemilu mendatang, konsituen harus tetap menggunakan akal sehat dan hati nuraninya untuk memnetukan pilihan. Sebab salah kita memilih caleg, atau bahkan presiden, maka kita akan menunggu lima tahun lagi menentukan arah bangsa ini. Meski bukan penentu akhir dari perjalanan politik, namun maju mundurnya negeri ini juga sangat bergantung bagaimana sikap kita hari ini!**




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com