Mawardi Yahya: Masyarakat Desa di Sumsel Masih Miskin, Ada Apa dan Salah Siapa?  

11 total views, 1 views today

PALEMBANG  I  KSOL  — Pengentasan kemiskinan berbasis pembangunan desa masih jauh dari harapan. Walaupun Badan Pusat Statistik menunjukan, terjadi pengurangan desa tertinggal dari tahun 2014 sebanyak 19.750 desa menjadi 13.232 desa pada tahun 2018. Namun hal ini belum sepenuhnya tercapai di Sumatera Selatan (Sumsel).

Hal itu terungkap pada diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9, bertajuk “Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa di Sumsel” di Pendopo Griya Agung Pemprov Sumsel, Palembang, Senin (04/02/2019).

Pada kesempatan itu, Ir H Mawardi Yahya, Wakil Gubernur (Wagub) Sumsel, menyoal tentang kondisi masyarakat desa di Sumsel yang masih miskin. Padahal menurut Mawardi, setiap desa punya bantuan dana dari pemerintah.

“Kenapa masyarakat desa di Sumsel masih miskin? Ada apa dan salah siapa? Padahal semua desa punya anggaran dari pemerintah berjumlah Rp. 1 miliar untuk satu desa, tapi kenapa masih miskin?” kata Mawardi

Mawardi mengatakan, selama ini pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masih dinikmati golongan atas. Sementara, golongan bawah atau masyarakat desa, masih belum menikmati sepenuhnya kesejahteraan.

Tapi walaupun begitu, Mawardi berkomitmen dengan Herman Deru Gubernur Sumsel, akan memfokuskan penyelesaian masalah ini segera mungkin.

“Ini tugas Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel, masalah-masalah yang terjadi di Sumsel akan segera dibedah kedepan,” tegas Mawardi.

Mawardi juga menyampaikan, kalau pemanfaatan dana desa yang diberikan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sudah berhasil, tapi dibalik keberhasilan pasti ada kekurangan.

Misalnya pengelolaan dana desa, pengelolaan dana desa memang berhasil, karena data menunjukan hal demikian. Tapi dalam beberapa aspek pasti ada kekurangan, seperti kepala desa yang lalai dalam tanggung jawabnya sebagai pengelola dana desa.

“Masih banyak kepala desa yang menyalahgunakan dana desa untuk kepentingan keluarganya, bukan masyarakat. Kalau salah pengelolaan dana desa, bahaya,” lanjut Mawardi.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jendral (Sekjen) Kemendes PDTT, Anwar Sanusi mengatakan, kalau Kemendes PDTT sudah melakukan langkah nyata, guna mengentaskan kemiskinan pada masyarakat desa di seluruh Indonesia.

Langkah konkretnya adalah pemanfaatan dana desa. Dana desa ini tujuannya agar mampu meningkatkan produktivitas masyarakat desa. Dana desa juga bisa menjadi instrumen penting bagi kesejahteraan masyarakat desa.

“Dana desa bisa jadi instrumen kesejahteraan masyarakat desa selama 5 tahun. Pemerintah sudah memberikan Rp 2.507 triliun untuk pertumbuhan dan pemberdayaan masyarakat desa,” kata Anwar ketika memberikan materi ke II pada diskusi itu.

Anwar mengatakan, selama 4 tahun pemanfaatan dana desa sudah melahirkan pertumbuhan ekonomi pada masyarakat desa. Bukti pertumbuhan itu diantaranya membangun jalan desa, pasar desa dan membuat ribuan posyandu serta ribuan mck (Toilet) diseluruh desa.

Berkat dana desa, pengangguran di desa menurun karena mereka bekerja lebih lama dan mampu berinovasi di desa.

Anwar menegaskan bahwa, untuk permasalahan dana desa pasti ada kendala di lapangan. Tetapi menurut Anwar pemerintah harus memberikan harapan kalau dana desa ini dapat membantu masyarakat desa menjadi lebih baik. “Berilah hope atau harapan, bukah selalu hoax atau kebohongan,” katanya.

Sebagai pemateri terakhir, Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE menyampaikan, jika satu negara ingin keluar dari perangkap kemiskinan, maka negara tersebut harus memahami filosofi bagaimana menjadi negara kaya.

Ada dua syarat yang harus dipenuhi jika negara ingin menjadi negara kaya, pertama adalah pemimpin yang hebat dan kedua rakyat yang kuat.

“Pemimpin hebat dan rakyat yang kuat merupakan syarat mutlak agar negara itu menjadi negara kaya,” kata Anis ketika memberikan materi terakhir dalam Diskusi Media FMB 9, bertajuk “Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa di Sumsel” di Pendopo Griya Agung Pemprov Sumsel, Palembang, Senin (04/02/2019).

Anis menyebutkan, pemimpin hebat adalah pemimpin yang mewakafkan dirinya untuk kesejahteraan, memiliki jiwa kepemimpinan, punya visi misi yang jelas dan mampu memberdayakan semua komponen.

Rakyat yang kuat kata Anis, harus punya semangat merubah, punya keinginan untuk terus hidup dan berjiwa sosial.

“Jika dua hal tadi sudah tercapai, maka negara tersebut akan keluar dari kemiskinan dan menjadi negara kaya kedepan,” tegas Anis.

Anis juga menegaskan, masyarakat desa harus diberikan kepercayaan untuk keluar dari kemiskinan dan mensejahterakan desanya sendiri, bukan mengundang orang lain ke desa.**

TEKS/FOTO : MUHAMMAD RIDHO  I  EDITOR  : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com