Gagas terbitkan Majalah Pelajar, PW PII Sumsel Gelar Pelatihan Jurnalistik intensif

 294 total views,  1 views today

PALEMBANG  I  KSOL — Pukul 10.10 WIB, ruang 8 x 4 di lantai 2 Gedung Yayasan Pembangunan Umat (YPU) di Jakan Radial, yang menjadi mushola, siang itu “disulap” sesaat menjadi ruang belajar jurnalistik.

Pada acara yang digelar Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW-PII) Sumsel ini utnuk kali perdana diikuti 7 pelajar dari berbagai sekolah di Palembang dan kabupaten lainnya di Sumsel.

Pada sesi itu, Imron Supriyadi, jurnalis senior di Sumsel, membuka dengan pengantar tentang berbagai jenis produk jurnalistik. Sesekali, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang periode 2009-2011 ini memperlihatkan sejumlah jenis media massa (koran, tabloid, majalah) kepada peserta.

PRODUK JURNALISTIK — Imron Supriyadi, pemateri sedang memperlihatkan sejumlah produk jurnalistik kepada peserta pelatihan di PW PII Sumsel (Foto.Dok.KSOL/M.Ridho)

Sesi berikutnya, masing-masing peserta didaulat menjadi “jurnalis setengah kamar” dengan menulis tentang mushola dan isinya. Hanya 5 menit, tujuh peserta harus menulis dan menggambarkan fakta-fakta di mushola, sesuai panca indra mereka.

“Ketika seseorang menjadi jurnalis, ia akan menjalani proses mencari kebenaran peristiwa (kenyataan).  Kenyataan, dalam ilmu jurnalistik disebut proses mencari fakta, yang didapat dari lapangan, yang disebut verifikasi. Anda, baru saja menulis fakta-fakta di ruangan ini,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Rahmat ini di hadapan peserta, Ahad (3/2/2019).

Walaupun proses mencari fakta dilakukan di ruangan kecil, tapi hal itu menjadi awal bagi peserta untuk mengenal tentang fakta, yang kemudian ditulis dalam berita sederhana.

“Salah satu materi yang membuat saya semangat mengikuti pelatihan jurnalistik ini, yaitu proses pencarian fakta. Dalam pelatihan ini, saya dapat membedakan mana opini dan mana fakta. Karena dalam pelatihan ini, bukan hanya belajar teori tentang fakta, tapi praktek mencari fakta langsung,” kata Iman Muhkal di Mushollah Gedung YPU lantai II, yang menjadi sekretariat PW PII Sumsel, Ahad (03/01/2019).

Menurut Iman, materi yang disampaikan narasumber membuatnya mengerti tentang penulisan berita, dan bagaimana membedakan fakta dan opini dalam berita.

MEMBACA BERITA — Lesmana, salah satu peserta sedang membacakan berita yang baru saja mereka tulis pada pelatihan di PW PII Sumsel (Foto.Dok.KSOL/M.Ridho)

Ketika itu, Iman dan peserta lainnya diminta pemateri menulis kondisi mushola, lalu setelah itu tulisannya di evaluasi pemateri.

“Ketika diminta pemateri menulis ada apa saja di mushola, setelah itu di evalusasi pemateri. Akhirnya saya mengerti apa itu fakta. Misalnya, mushola ini ada kaligrafi, karena kaligrafi bisa dilihat panca indera, maka kaligrafi disebut dengan fakta,” tambah Iman ketika ditemui kabarsumatera.com diakhir pelatihan.

Ketika ditemui kabarsumatera.com, Lesmana, peserta lainnya mengatakan, ilmu yang didapat dari pelatihan jurnalistik ini sangat bermanfaat, walau waktu pelatihannya sedikit, sekitar dua jam, tapi banyak yang bisa peserta dapatkan.

“Rasulullah pernah bersabda, sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Menurut saya, ilmu yang diberikan dalam pelatihan ini adalah ilmu yang bermanfaat. Misalnya, ilmu jurnalistik yang mengajari tentang fakta dan opini dalam berita,” ujar Lesmana yang akrab dipanggil Mana, Ahad, (3/2/2019).

Mana melanjutkan, jika ilmu yang didapatkan dalam pelatihan jurnalistik ini bukan hanya dimengerti, tapi dipahami. Karena materi yang disampaikan langsung diamalkan di pelatihan, bukan hanya sekadar teori.

Salah satu materi yang disukai Mana adalah proses mencari fakta ketika pelatihan. Perbandingannya seperti kata ganteng. Disaat seorang wartawan menulis ganteng dalam berita, ternyata hal itu bukan fakta, tetapi opini wartawan.

“Ternyata ganteng adalah sesuatu yang bersifat relatif atau tergantung dari penilaian masing-masing orang. Jadi ganteng termasuk ke dalam opini atau imajinasi, bukan fakta,” tambah Mana pada saat ditemui kabarsumatera.com diakhir kegiatan.

Majalah Pelajar Sriwijaya

Menanggapi kegiatan itu, Ketua Umum (Ketum) PW PII Sumsel, Abdul Kohar Ruslan mengatakan, ia berharap pelatihan ini dapat berjalan secara konsisten.

“Harapan dari pelatihan jurnalistik ini supaya berjalan terus-menerus. Pelatihan yang kontinyu, tujuannya agar dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi PII Sumsel, yaitu Majalah Pelajar Sriwijaya,” katanya, saat dijumpai di sekretariat PW PII Sumsel, Ahad (03/02/2019).

Lebih lanjut, Kohar mengatakan 7 peserta yang mengikuti pelatihan jurnalistik diharapkan dapat membuat berita dengan baik. Ke depan, saat pelatihan ini dilanjutkan di sekretariat PII Sumsel, akan lebih baik bila pesertanya bertambah.

Menurutnya, Pelatihan ini sangat bagus, karena memberikan manfaat kepada kader-kader PII Sumsel, dan karena memberikan efek yang langsung dirasakan peserta, terutama keilmuan jurnalistik dasar.

“Saya sangat senang dengan pelatihan jurnalistik ini, karena dalam proses berlatih disini, mereka langsung bisa mengaplikasikan ilmu-ilmu jurnalistik yang diajarkan pemateri,” tambah Kohar ketika ditemui kabarsumatera.com.

Menurut jajaran pengurus PW PII Sumsel, pelatihan ini akan dilakukan secara intensif setiap pekan, mulai pukul 10.00 sampai pukul 12.30 WIB. Dalam satu kelas hanya 7 orang. “Kalau nanti ada yang mau ikut harus membuat kelas baru, supaya materinya nyampung, jangan tiba-tiba nimbrung, nanti tidak nyembung dengan materi awal,” Imron, yang juga dosen Jurnalistik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN-RF) Palembang menyarankan kepada tim pelaksana.

TEKS/FOTO : MUHAMMAD RIDHO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster