Senyum Mereka, Bahagiaku (Kolom Muhammad Ridho)

 132 total views,  1 views today

Oleh : Muhammad Ridho

Danny JA dalam bukunya yang berjudul Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah mengatakan, kalau kebahagiaan dibagi menjadi dua jenis, pertama kebahagiaan tahan lama dan kedua kebahagiaan yang bertahan sebentar.

Bahagia yang lama bertahan sampai puluhan tahun, sampai manusia menua. Bahagia sebentar adalah bahagia yang tahan sampai beberapa hari, bulan atau tahun.

Bahagia sebentar bisa diperoleh dengan cara yang mudah. Bahagia jenis ini didapat dari hal-hal yang bersifat fisik, misalnya coklat, kado ulang tahun, barang dan sesuatu yang berbentuk materi.

Bahagia tahan lama didapat dari pemberian yang melebihi hadiah berbentuk materi, bahagia jenis ini diperoleh dari pengabdian kita sebagai manusia.

Misalnya ibu, ketika anaknya dilahirkan betapa bahagianya seorang ibu, ia rela merawat dan mengabdikan dirinya untuk sang anak.

Kenapa ibu merelakan waktu dan tenaganya untuk sang anak?

Karena disitulah letak kebahagiaan sejati seorang ibu. Ia rela menunda makan, menahan kantuk dan tidak tidur semalaman demi sang anak.

Pertanyaannya apakah ibu terbebani?

Tentu tidak, selamanya ia tidak akan menyesal, justru semakin besar dan sukses sang anak, maka ibu akan semakin bahagia, walaupun serba kekurangan setidaknya ibu berhasil mendidik sang anak.

Dari dua kebahagiaan yang dijelaskan diatas, pembaca sekalian akan memilih kebahagiaan yang mana?

Apakah kebahagiaan yang diperoleh dengan cara mudah, tapi rasa bahagianya hanya bertahan sampai beberapa tahun, bulan bahkan hari.

Atau kebahagiaan satunya, bahagia yang tahan lama tapi harus diperoleh dengan cara yang panjang, seperti, mengabdi, berbagi diantara sesama, berjuang, menolong nasib sesama dan merawat.

Untuk orang-orang yang setuju dengan bahagia pertama, itu adalah pilihan yang baik dan bagi orang-orang yang sepakat dengan bahagia kedua, juga termasuk pilihan yang bagus.

Pilihanku

Sejak berkenalan dengan beberapa pelajar di sekolah salah satu SMP Islam Terpadu di Kota Palembang, selama bergaul dengan mereka, saya mendapatkan banyak pelajaran penting, terutama tentang kebahagiaan.

Latar belakang pelajar yang sekolah disini beragam, ada yang orang tuanya bercerai, berasal dari keluarga kurang mampu, tidak ada perhatian orang tua, kurang pedulinya orang tua, kekerasan orang tua, pergaulan bebas dan masih banyak lagi.

Selama proses belajar mengajar, ekspresi wajah yang ditunjukan pemuda-pemudi masa depan bangsa ini terlihat murung, tidak semangat, belum punya cita-cita, malas bersekolah dan belum patuh terhadap guru.

Begitulah kira-kira kondisi pelajar yang ada disekolah ini.

Menyedihkan bukan? Tentu saja tidak.

Setelah melihat banyaknya masalah yang timbul, saya tertantang untuk membantu dan mengabdikan diri demi mereka.

Bersama dengan tujuh teman seperjuangan, kami membuat beberapa kegiatan positif untuk anak-anak disekolah ini.

Kegiatan yang kami lakukan berbentuk permainan menyenangkan sambil belajar, mereka bergerak dan merasakan setiap permainan yang sudah dipersiapkan.

Ketika diberi permainan menantang mereka tersenyum, gembira, suka dan ingin terus bermain.

Melihat wajah bahagia mereka, tiba-tiba hati pun berucap “Senyum mereka bahagiaku”.

Ketika tawa muncul dalam diri setiap anak-anak ini, saya merasa bahagia, sangat bahagia. Walaupun baru beberapa hari disini, tapi bahagia itu benar-benar saya rasakan.

Melihat mereka masak bersama, makan bersama, berjuang menyelesaikan permainan bersama, saling membantu, saling peduli dan saling menyemangati, disitulah letak bahagia sejati yang selama ini dicari.

Dengan berbagai pengalaman yang dirasakan selama disini, mulai sekarang pilihanku adalah mengabdi dan membantu mereka.

Jika pembaca bertanya saya memilih bahagia yang mana, maka inilah pilihan bahagia yang dipilih, bahagia yang bertahan lama.

Memang pilihan bahagia jenis ini membutuhkan banyak tenaga, kesabaran, konsistensi, ketekunan dan pengorbanan. Tetapi tidak mengapa, karena ini sudah jadi pilihan, yah tinggal dilaksanakan dan dijalani sekuat tenaga.

Cinta Kasih

Untuk menutup tulisan ini, marilah kita simak pengabdian Bunda Teresa yang terkenal dengan ajaran cinta kasihnya.

Dalam Buku Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah dijelaskan, bahwa Teresa ditugaskan untuk menyebarkan ajaran misionaris di daerah yang sangat miskin.

Ketika diberi perintah menyebarkan ajaran misionaris ke wilayah terbelakang, Teresa awalnya berat hati, berat hati itu bertambah saat Teresa sampai di Kolkata, India.

Sesampainya di Kolkata, tempat ini sedang dilanda banjir, tidak tanggung-tanggung, ketinggian airnya sampai ke pundak Teresa.

Dengan susah payah Teresa melewati banjir, lalu akhirnya sampailah ia disebuah gereja .

Diawal pengabdian, Teresa sempat terganggu dengan kemiskinan yang terjadi di Kolkata, tapi lambat laun Teresa mulai menerima dan membantu orang-orang miskin di daerah ini.

Kolkata dikenal sebagai wilayah yang sangat miskin, dipenuhi orang-orang berpenyakit, misalnya HIV/AIDS dan Kusta.

Selama perjuangan, satu waktu Teresa mendapat bisikan dari Tuhan, bisikannya berupa panggilan agar Teresa menyerahkan hidupnya untuk kemanusiaan.

Disinilah titik balik Teresa, ia kemudian mengajukan permintaan supaya menjadi warga negara India dan mendirikan Misionaris of Charity (yayasan cinta kasih).

Pada saat menjalankan yayasan cinta kasihnya, Teresa sempat dikritik dan mendapatkan kesulitan dana. Tapi setiap kesulitan yang menerpa tidak membuat Teresa mundur.

Walaupun hidup di wilayah penuh tantangan, Teresa tetap bersyukur dan terus menjalankan pengabdiannya.

Disatu kesempatan Teresa berujar jika ia bahagia. Melihat orang-orang yang dirawatnya sembuh dari sakit membuat Teresa tersenyum.

Teresa mengatakan kalau kebahagiaan tidak didapat dari tingginya tumpukan uang, tapi kebahagiaan sejati, didapatkan dari seberapa besar sebuah pengabdian.

28 Januari 2019





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster