Pameran Seni Rupa Nyawiji, Menggerakkan naluri kemanusiaan

 1,113 total views,  2 views today

MAGELANG  I  KSOL  —  Kelompok seni rupa Theng-theng Shut akan meggelar Pameran di Banyu Bening The House of Paintig Jl. Badrawati no 10, Borobudur, Magelang Jawa Tengah, di kuratori Jajang R Kawentar dengan tema ‘Nyawiji’.

Pameran akan digelar 27 Januari – 27 Februari 2019, dan akan dibuka oleh kepala dinas pariwisata kabupaten Magelag, Iwan Sutiarso. Senimana yang terlibat 11 orang terdiri dari berbagai latar belakang, dikomandoi Budi Barnabas. Anggotanya antara lain Andreas Sofyan, Budi Haryanto, Desmon Zendrato, Johnal H., N. Rinaldi, Pambudi Sulistio, Reza D. Pahlevi, Sugiyanto, Yohanes Teguh, dan Yuti.

Pemilik gallery Banyu Bening The House of Paintig, Sarwoko, menagatakan ini merupakan awal yang baik membuka lembaran baru di tahun 2019.

“Nyawiji merupakan persembahan dari kelompok Theng-theng Shut yang pertama memulai aktifitas pameran di Banyu Bening tahun ini. Dengan harapan hasilnya bisa membawa kebaikan bagi semua pihak dari karya-karya yang ditampilkan dan ditawarkan,” kata Sarwoko.

N. Rinaldy salah satu seniman kelompok Theng-theng Shut yang ikut dalam pameran Nyawiji di Banyu Bening The House of Painting, Borobudur, Magelang (Foto.Dok.KSOL)

Sementara ketua kelompok Theng-theng Shut, Budi Barnabas mejelaskan bahwa nama kelompoknya ini terlontar secara spontan. Saat berkumpul di studionya sebelum kesepakatan berpameran enam bulan lalu.

“Ketika bayak bencana alam menimpa beberapa daerah, menggerakkan rasa kemanusiaan untuk menyumbang bagi mereka yang terkena musibah. Kita sepakat menjual karya dan disumbangkan sebagian untuk yang terkena musibah Tsunami di Lampung,” ujar Barnabas.

Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini menunjukkan karakter mereka dalam menyikapi hidup. Jadi berbagai permasalahan masing-masing diungkapkan dalam bentuk visual. Karya dua dimensi dan tiga dimensi, karya lukis dan patung. Ada 29 karya yang dipamerkan, 5 patung dan dan 24 lukis. Jumlah ini menyesuaikan ruang di Ruang Seni Banyu Bening, dengan ukuran maksimal lebar 100cm, pajang 120cm untuk lukis dan patung ukuran miniatur.

Menurut Jajang Kawentar, alasan mengapa mengambil tema Nyawiji, karena dalam situasi politik yang karut marut seperti sekarang ini, dimana segala macam cara dilakukan untuk menjatuhkan lawan politik. Sampai kepada hal-hal yang suci dalam kehidupan manusia, menjadi wilayah yang manis dan gurih dimainkan. Sehingga mengganggu stabilitas logika dan memperkeruh kemurnian cara berpikir masyarakat terutama awam.

“Baiklah kalau ini sebagai bagian dari pendidikan politik bagi mereka yang baru melek politik. Perlu diingat Nyawiji harus tetap digelorakan dan kabarkan bagi siapapun mereka, tidak terkecuali. Nyawiji dalam arti bahasa Jawa menyatu, bersatu, persatuan, saling melengkapi. Begitulah dalam hidup ini bersatu dalam persatuan, saling melengkapi, saling mengingatkan, saling menghargai serta saling menghormati antara satu yang lain dan lainnya. Menempuh jalan kebaikan dan perdamaian untuk keutuhan persatuan dan kesatuan,” tegas Jajang Kawentar.*

TEKS / FOTO : TIM REDAKSI KSOL YOGYAKARTA

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster