Adat Suku Semende, Menjalin Kekerabatan melalui berburu babi

 331 total views,  1 views today

PALEMBANG   I  KSOL  — Tombak lancip tak pernah lepas dari tangan kanan Indra, anak muda dari suku Semende itu. Pria 24 tahun tersebut beberapa kali membuka mulut lebar-lebar dan berteriak kencang dari atas perbukitan yang ditanam kopi di Desa Pelakat, Kecamatan Semende Darat Ulu, Muara Enim.

Suaranya langsung bergemah di lembah Bukit Barisan dan disambut teriakan lagi oleh teman pemburu babi dari penjuru lainnya. Setelah itu, suara anjing pun terdengar riuh bersahutan. “Di lembah itu ada babi,” kata Indra setelah mendengar gonggongan anjing sambil menunjuk lembah yang masih berupa hutan lebat, Sabtu 27 Oktober 2018. Dia pun langsung berlari di lereng curam diiringi dua anjing yang setia mengiringinya.


BACO JUGO TULISAN LAINNYO : TANGKIANG DAN DANGAU, BANGUNAN ADAT SUKU SEMENDE YANG TAHAN GEMPA


Indra bersama puluhan orang lain dari suku Semende di desa Pelakat memang selalu berburu babi saban hari Sabtu. “Ini semacam cara silaturahmi sebelum panen padi,” katanya di sela perjalanan di hutan memburu babi.

Kebiasaan berburu babi menjelang panen padi adalah kebiasaan Suku Semende. Babi yang berhasil mereka buru tidak untuk dijual, cukup hanya dikubur kembali. “Kami suka berburu, sekaligus bisa bersilaturahmi dengan keluarga besar,” lanjut Indra.

Namun, cerita Indra, pemburuan mereka kali ini bukan dilakukan oleh pemuda dan orang tua sekampung Pelakat. Kali ini yang berburu hanya dia bersama 10 orang lainnya yang merupakan saudara kandung, sepupu dan paman-pamannya. Bersama mereka puluhan anjing telatih ikut menemani.

“Kalau akhir tahun seperti ini, pemburuan babi sekampung belum dilakukan. Kami melakukan pemburuan mendekati bulan Agustus saja, atau menjelang musim panen,” katanya.

Artinya dalam satu tahun, mereka hanya memiliki dua musim berburu. Sebab kebiasaan berburu itu tergantung dengan musim panen padi yang mereka tanam. Masyarakat Suku Semende hanya menanam padi jenis lokal yang panen enam bulan sekali, saat tinggi padi mencapai satu meteran.

“Kami menanam padi lokal yang panennya enam bulan sekali. Tujuannya bisa melakukan kegiatan lain, bekebun kopi misalnya,” jelas Indra.

TEKS / FOTO : TEMPO.CO/AHAMD SUPARDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster