Jujur menjadi Surealis dan Kemustahilan

8 total views, 1 views today

Oleh Jajang R Kawentar, Penulis di Indonesia Art Critique Community Yogyakarta

Ahmad Dhani dedengkot Band Dewa 19 seminggu lalu di instagramnya memposting foto putrinya bersama lukisan karya Riki Antoni, pelukis kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 1 Januari 1977. Sontak saja kawan-kawan perupa Yogyakarta dibuatnya berrtanya-tanya, ada hubungan apa Riki Antoni dengan Ahmad Dhani? Atau memang lukisan karya Riki Antoni dikoleksi Ahmad Dhani. Atau Lukisan itu kado buat putrinya?

Di tengah suasana politik yang dinamis dan keterlibatan keterlibatan Ahmad Dhani pada dunia politik saat ini. Seolah lukisan itu juga menjadi bahasa visual yang ingin disampaikan kepada publik mewakili jamannya. Suasana politik itu tergambar dalam lukisan Karya Riki Antoni. Suasana penuh intrik, dibalut berbagai muslihat dengan kesalehan. Seolah politik menjadi jalan memasuki pintu syurga.

Lukisan Riki Antoni dengan putrinya Ahmad Dhani itu menunjukkan pada suasana yang menggambarkan keadaan tahun politik. Antara harapan dan kecemasan menghadapi situasi jaman. Karya seni hampir selalu menggambarkan masa depan, seperti foto Ahmad Dhani dan lukisan Riki Antoni itu dibuat pada tahun 2017.

 Dosa yang Indah Dalam Lukisan Riki Antoni

Bagaimana  mungkin dosa dibentangkan menjadi lukisan atau lukisan sebagai dosa. Betapa indahnya dosa bila terbentang menjadi lukisan. Apa yang ada di benakmu lukisan dari sebuah dosa.

Bukankah proses para pendosa ketika berbuat dosa disusun menjadi garis dan warna, digojlog, diolah, diendapkan, dan disalurkan lewat rasa. Di sini seniman berperan sebagai pencatat peristiwa sekaligus bagian dari para pendosa itu.

Tidak hanya dosa yang tergambar, tetapi juga doa. Dosa-doa menjadi garis dan warna. Menjadi individu juga massal. Inilah keindahan Riki Antoni. Pelarian di antara dosa modernitas dan doa kaum romantis pada dunia pastoral. Dunia anak-anak, teks yang terabaikan dalam konteks yang dipenuhi ancaman dan politik bau comberan.

Apalah arti dari Back to NatureGo GreenHumanisme, generasi yang hilang, semua merupakan tanda zaman. Ketika orang-orang ingin kembali mengalami masa kecilnya, masa lampau, masa terbentuknya sebuah kenangan.

Ketika orang kian memahami bagaimana kesehatan alami, orang terus merawat tubuhnya supaya awet muda, dan panjang umur. Namun kesadaran itu tidak diiringi dengan menyelamatkan lingkungannya, dan asupan konsumsinya serba instan, serba diawetkan.

Kalau demikian akan semakin berkurang orang-orang merayakan ulang tahun, dan semakin banyak orang-orang mengucapkan duka cita.

Antara sadar dan tidak, antara kehancuran dan harapan, antara hukum dan kebebasan, antara pengalaman dan realitas Riki Antoni membentang kisah. Ia mengisahkan masa lampau, kini dan masa depan. Ia meletakkan teks karyanya dalam struktur historis. Ia berkisah sekaligus bersiasat dengan umur dalam bingkai tradisi di tengah serbuan modernitas yang melapukkan banyak hal.

Tokoh dan Cerita yang Terus Hidup

Panjang umur itu tidak hanya sekedar gagasan, tapi gagasan itu membuat panjang umur. Gagasan Riki Antoni menciptakan garis, warna dan bentuk-bentuk tanda awet muda, romantis, natural, sedih dan bahagia tetap bersahaja, marah dan lucu tetap imut-imut innocent.

Pemandangan gagasan memanjangkan umur itu menyuguhkan rasa gemes segemes-gemesnya. Gemes melihat Riki Antoni dalam setiap garis dan warnanya. Warna-warna yang menyapa lembut, bersahabat, sejuk, dan garis yang membentuk objek seperti berdialognya cinta kasih.

Inilah yang dimaksud membebaskan diri dari belenggu modernitas, khususnya pasca-Perang Dunia I, era surealisme dimulai. Namun, Riki Antoni lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini meletakkan surealisme itu pada adat istiadat dan tradisinya.

Menanam-tumbuhkan kembali, ingatan terhadap pemandangan alam pedesaan,  yang memesona, indah natural. Pemandangan itu juga menghidupkan ingatan masa lampau, keindahan alam dalam sebuah cerita. Imajinasi yang muncul berupa rasa cemas, kekhawatiran juga harapan, baik yang diciptakan sendiri atau muncul karena melihat ketegangan realitas sosial.

Ada kerinduan, kesejukan ketika diabadikan, ada keinginan melancong dan menjadi bagian dari tokoh atau figur dalam lukisan. Leher panjang, mata bundar besar memberi isyarat-isyarat, begitu banyak tanya tersimpan dan begitu lama menunggu jawaban-jawaban.

Begitu banyak janji, sekian lama pula menunggu ketidakpastian. Sesungguhnya jujur, keadilan, dan menepati janji menjadi langka dan mahal. Menjadi hal yang surealis, seperti juga kemustahilan.

Figur-figur berbentuk kartun yang mengisyaratkan hidup tidak ada matinya, menunjukkan harapan panjang umur. Hidup abadi atau Aku ingin hidup seribu tahun lagi, seperti kata Chairil Anwar dalam puisinya.*





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com