Satu Muharam, Babak Baru Saling Menghargai Perbedaan

8 total views, 1 views today

MAKKAH   I  KSOL  — Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah merupakan babak baru bagi umat muslim di Indonesia. Masyarakat akan dihadapkan pada agenda Pemilihan Umum Legislatif dan Pilpres 2019.

Perbedaan pilihan politik jangan sampai membuat umat Islam yang sejatinya ibarat satu tubuh menjadi tercerai-berai. Perbedaan sikap politik itu seharusnya menjadi khasanah demokrasi dalam dunia Islam, khususnya Indonesia.

Persatuan umat Islam di Indonesia saat ini juga semakin rentan di tengah perkembangan perpolitikan yang sarat dengan isu-isu di media sosial yang tidak terverifikasi kebenarannya bahkan kabar bohong atau hoaks.

Atas fenomena itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Saadi berharap umat Islam mampu menatap masa depan dengan penuh perdamaian dan toleransi dalam memasuki tahun politik pada bulan hijriyah atau bermakna hijrah itu.

“Perbedaan pilihan tidak harus diwarnai dengan saling menjelekkan, memfitnah, menyebarkan hoaks, dan ujaran kebencian. Karena hal tersebut selain tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat juga dapat menimbulkan gesekan dan retaknya bangunan kebangsaan kita,” katanya.

Menurut dia, terdapat hal penting dari kontestasi politik, yaitu menjadikan perbedaan aspirasi sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar persaudaraan (ukhuwah) Islamiyah, persatuan umat (wihdatul ummah) dan kebangsaan tetap terpelihara.

“MUI menyeru kepada kaum Muslimin untuk mengembangkan sikap toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun) dan bersikap adil (i’tidal) dalam menjalankan ajaran agama, agar tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan sempit (furuiyyat) dalam menjalankan ajaran agama,” kata dia.

Zainut juga mengimbau umat bisa menahan diri dalam mengekspresikan politiknya termasuk dalam menyampaikan pernyataan pendapat agar tidak membuat suasana semakin panas, tegang, dan penuh dengan kecurigaan. Dia berharap di momentum di Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah, setiap warga Indonesia dapat meningkatkan amal kebajikan agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia, bangsa dan negara.

Terkait iktikad politik, politisi Partai Keadilan Sosial Hidayat Nur Wahid mengatakan tahun baru Islam harus menjadi momentum berhijrah kepada tempat yang lebih mulia. Tahun baru Islam yang diwarnai kontestasi politik harus dimaknai dengan damai dan meriah, bukan justru saling bermusuhan.

“Selamat memulai Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah. Semoga kuatkan semangat hijrah ke segala yang lebih baik dan tinggalkan semua yang jadikan lebih buruk. Apalagi di tahun politik seperti sekarang ini,” katanya.

Lewat akun Twitter-nya, politikus Prabowo Subianto memiliki asa agar Tahun Baru Hijriyah bisa memberi berkah dengan Allah memberikan rahmat dan barokahnya demi kebaikan bangsa dan negara. “Selamat tahun baru Islam 1 Muharam 1440 H. Semoga di tahun baru ini, Allah SWT terus menurunkan rahmat dan barokahnya kepada bangsa kita, menjadi bangsa yang besar dan kuat. Menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghaffur. Aamiin,” tulis Prabowo.

Tidak ketinggalan, rival politik dalam beberapa tahun terakhirnya Presiden Joko Widodo juga memiliki pesan terkait Tahun Baru Islam lewat cicitan di akun Twitter. Dia mengatakan Hijriyah yang baru harus bisa dipetik nilainya bahwa setiap warga Indonesia harus bisa beralih menjadi pribadi-pribadi yang siap bekerja keras.

Maka, apa pun tantangan ke depan bisa dihadapi dan dapat berkontribusi dalam membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. “Dengan kerja keras dan berharap rida-Nya, kita berhijrah menuju Indonesia yang maju,” kata dia.

Tundukkan Setan

Bagi umat Islam, segala muara dosa adalah godaan setan yang terkutuk. Setanlah yang menggoda manusia pertama yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa untuk berbuat dosa sehingga harus turun dari surga ke bumi. Setan juga akan menggoda setiap anak Adam hingga akhir zaman.

Momentum tahun baru Islam, sudah seharusnya menjadi refleksi sekaligus titik tolak seorang Muslim untuk terus memperbaiki diri sehingga bisa menundukkan godaan setan. Budayawan dan penyair Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan kemampuan manusia menundukkan setan dan hawa nafsu akan menjadi kunci seorang hamba mendapatkan ridha ilahi. Mengalahkan dua musuh nyata manusia itu akan menyempurnakan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya sekaligus manusia dengan sesamanya.

Upaya menundukkan setan dan hawa nafsu itu sendiri harus dilakukan manusia di sepanjang hayatnya. Upaya itu merupakan peperangan yang tidak akan ada habisnya sehingga harus selalu konsisten dalam menundukkannya.

Tidak kalah penting dari upaya-upaya itu adalah agar manusia selalu meminta pertolongan Allah untuk dimudahkan dalam peperangan yang tidak akan pernah berakhir hingga seorang insan menghembuskan napas terakhirnya. “Semoga di tahun baru ini Allah senantiasa menolong kita melawan dan menundukkan setan dan hawa nafsu kita. Menolong kita memperbaiki dan menyempurnakan kemanusiaan dan kehambaan kita,” kata Gus Mus lewat akun Twitter.

Sumber : Antara/REPUBLIKA.CO.ID





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com