Putaran ke-2 Penonton menurun, Film “Meniti 20 Hari” bercermin Hukum Pareto

 470 total views,  4 views today

Era Sugiarso, Project Manager Mixpro Yogyakarta

PALEMBANG  | KSOL — Memasuki putaran kedua di Palembang, pemutaran film “Meniti 20 Hari” (M20H) di Graha Budaya Jaka Baring Palembang, pada Kamis (14/12/2017) dinilai sukses prestasi, meskipun jumlah penonton tak maksimal dan tak capai target. Tiga kali masa putar yang ditargetkan akan mencapai 1.500 penonton, hanya tercapai ratusan.

Namun melihat kenyataan itu, Era Sugiarso, Project Manager Mixpro Yogyakarta mengatakan, kondisi itu menjadi hal biasa. Sebab semua butuh proses. “Pengalaman kami keliling Indonesia sangat banyak kenyataan yang serupa, bahkan lebih seidkit lagi dari Palembang,”  ujarnya pada rapat evaluasi internal terhadap tim M20H di Rumah Tahfidz Rahmat Palembang, usai acara, tadi malam, Kamis (14/12/2017).

Era menegaskan, menurunnya jumlah penonton pada film M20H di Graha Jaka Baring Palembang, tak harus menjadi kendala tim M20H Palembang untuk terus berjuang dan berkarya. Secara umum, menurut Era  selesainya pemutaran di Palembang di putaran ke-2 sudah menjadi bagian prestasi tim di Palembang membawa film ini ke Sumsel.

Namun menurut Era, dalam pemutaran film M20H keliling Indonesia bukan sekadar jumlah penonton yang menjadi target, namun jauh lebih penting lagi, upaya Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO) PP Muhammadiyah yang sedang ingin melahirkan generasi baru dalam kancah perfilman nasional.

“Bahwa penonton itu dinilai oleh sejumlah pihak sebagai alat ukur keberhasilan film, bisa iya. Tapi kita dalam produksi film ini bukan hanya itu saja, melainkan sedang ingin melahirkan generasi baru yang konsen terhadap film yang mempunyai nilai dan pesan moral, itu yang lebih penting dari sekadar penonton,” ujarnya di hadapan  tim M20H, yang terdiri dari jajaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumsel dan Komunitas Film Palembang (Kofibang) dan aktrifis Teater di Palembang, Kamis (14/12/2017).

Ilustrasi : Google Image

Terkait dengan kenyataan jumlah penonton di Jaka Baring Palembang, Era kemudian meghubungkan realitas itu dengan hukum Pareto yang dicetuskan ekonom kenamaan : Vilfredo Pareto.

Dalam teorinya, Pareto menyebutkan, manusia sebenarnya hidup dalam sebuah perbandingan 80/20.  Disinilah hukum Pareto melihat adanya kedahsyatan formula 80/20 yang mungkin belum pernah disadari oleh banyak pihak, termasuk kita.

BACO JUGO ARTIKEL INI : BERCERMIN HUKUM PARETO

Hukum Pareto, mengajarkan setiap manusia yang hidup  dalam sistem yang bersatu kemudian membentuk kehidupan. Di satu sisi, ada bagian atasan, ada lagi menjadi bawahan. Faktanya, ada sebagian yang mendapat keberhasilan, namun tidak sedikit yang masih merangkak dari kegagalan.

Namun Pareto kemudian menyoal, apakah kita kemudian pernah mendengar, ada formula khusus tentang perbandingan antara sesuatu di bumi  ini? Dalam persoalan berhasil dan gagal, menurut  hukum Pareto bahwa manusia sebenarnya hidup dalam sebuah perbandingan 80/20.

Hal sederhana misalnya, percayakah Anda bahwa sebenarnya kita hanya perlu memaksimalkan 20% usaha kita untuk mencapai 80% kesuksesan dalam hidup kita? Mungkin sebagian orang akan menolak pemikiran ini, namun ternyata Pareto dengan fakta temuannya berhasil membuka mata jutaan orang tentang besarnya manfaat memahami prinsip 80/20 tersebut. “Demikian juga dalam kiat kita yang sedang berjuang mewarnai dunia perfilman nasional,” ujar Era memberi semangat tim di Palembang.

Sebagai ilustrasi dalam hukum Pareto, bahwa 80% dari kesuksesan yang telah atau akan diperoleh merupakan hasil dari 20% usaha yang selama ini di lakukan. Artinya hanya ada 20% dari tindakan dan pemikiran dalam hidup kita yang harus lebih dimaksimalkan untuk mendapatkan 80% keberhasilan.  “Ada 20% dari waktu dalam hidup kita yang harus lebih dimaksimalkan, karena dari 20% waktu itulah tersembunyi 80% kesuksesan dalam hidup kita,” begitulah teori Pareto.

Tanggal 16 Desember 2017 di Graha Tiara

Beriring roadshow di Palembang, film M20H akan kemballi diputar di Graha Tiara Palembang, pada Hari Sabtu  16 Desember 2017. Kali ini, film besutan sutradara asal Yogyakarta, Ari Musbarianto akan ditonton jemaah asmaul husna binaan Ustadz Kms H Muhammad Ali dan jejaring Rumah Tahfidz Sumsel, baik santri, pembina dan ustadz-ustadzah.  Sesuai dengan jadwal dzikir jemaah, film ini akan diputar pada pukul 07.00  hingga 09.00 WIB.

TEKS : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster