Santri Rumah Tahfidz Rahmat Palembang : Hafal Quran Yes, Nulis Sastra : Oke

Sumarman, Koord. Porgram Dangau Sastra Palembang

PALEMBANG | KSOL — Suasana di Rumah Tahfidz (RT) Rahmat Palembang, dalam dua pekan ini bukan hanya suara santri mengaji dan menghafal quran yang terdengar. Namun, dalam suasana kosong para santri dilatih menulis sastra.

Program yang baru berjalan dua pekan ini, diselenggarakan atas kerjasama  RT Rahmat dan Dangau Sastra Palembang (DSP), sebuah lembaga nirlaba yang konsen terhadap pemberdayaan penulis pemula.

Sumarman, Koordinator Program DSP menyebutkan, melalui kegiatan menulis dalam 1 pekan dua kali ini, berharap ke depan kisah yang ditulis para santri, minimal dapat menjadi dokumentasi sejarah bagi diri dan keluarganya.

“Targetnya, dangau sastra sedang menumbuhkan minat baca dan menulis di kalangan santri, sekaligus untuk  mendukung gerakan literasi nasional yang sedang digalakkan,” ujar pria kelahiran tebing Gerinting ini, Selasa, (21/11/2017).

Suasana pelatihan sastra berbasis pesantren di Rumah Tahfidz Rahmat – Selasa 21 Nov 2017

Para santri RT Rahmat Palembang sedang asyik menulis saat pelatihan menulis sastra

Lebih lanjut, penyair di Palembang yang akrab dipanggil Warman Pluntaz ini menjelaskan, dalam waktu tiga bulan ditergetkan sejumlah tulisan santri ini akan disalin ulang, kemudian dilakukan editing seperlunya. “Saat ini kita juga sedang menjajaki kerjasama dengan penebit, baik di dalam atau luar Kota Palembang, dan karya sastri ini akan kita tawarkan agar bisa diterbitkan,” tambahnya.

Bagi DSP kerjasama ini adalah perdana. Konsentrasi DSP meski tidak berfokus pada pesantren, nemun menurut Warman sastra berbasis pesantren merupakan potensi yang harus digali. “Sastra barbasis pesantren aka nada warna lain dibanding dengan sastra yang ada. Sebab akan banyak hal tersembunyi yang tidak semua mengetahui. Tapi dengan mengajak santri menulis kita akan banyak daoat informasi tentang kehidupan mereka dalam keseharian,” ujarnya.

Imron Supriyadi-salah satu pelaku sastra di PAlembang sdg memberi materi dalam pelatihan menulis sastra di Rumah Tahfidz Rahmat

Tepatnya sejak 11 November 2017, santri mukim di RT Rahmat yang berjumlah 17 orang, dalam setiap satu pekan diwajibkan minimal 2 kali menulis secara manual, diatas buku tulis sebagaimana murid sekolah pada umumnya.

Kontan saja, ada santri yang berseloroh ketika ditanya tanggapannya terhadap pelatihan ini. Apalagi para santri di RT Rahmat sudah lama tidak mengenyam pendidikan formal dan menulis sebagaimana anak sekolah pada umumnya.

Azriel Umar (15), salah satu santri asal Perumnas Palembang mengaku lelah menulis dengan tangan. “Tangannya capek ustadz, pegel,” ujar Azriel yang ditingkahi gelak tawa santri lainnya.

Sementara Adi Saputra (16), santri asal Sekayu Musi Banyuasin mengaku ingat kisah sedih di masa lalunya. “Kalau aku sedih ustadz. Aku jadi ingat kesedihan di masa lalu,” ujarnya.

Jaka Surya (16), mantan siswa SMA di Palembang justeru kebalikan dari Adi. Santri RT Rahmat yang sudah menyelesaikan 5 juz ini mengaku dengan menulis ada perasaan senang. “Saya malah senang, karena saya ingat masa-masa saat saya masih dulu sekolah,” katanya.

Menanggapi hal itu, Imron Supriyadi, salah satu pelaku sastra Palembang yang membina santri menulis sastra di RT Rahmat mengatakan, tanggapan santri yang demikian iatu hal wajar. “Semua bebas-bebas saja. Sebab menulis itu juga dunia kebebasan berpikir, jadi apapun tanggapan santri terhadap pelatihan menulis ini menjadi bagian apresiasi mereka. Intinya ada yang mereka rasakan. Nanti kalau sudah menemukan ruh dalam kmenulis, komentarnya akan berbeda,” ujarnya.

Lebih lanjut salah satu cerpenis yang tinggal di Palembang ini menyatakan, proses latihan menulis di RT Rahmat adalah dasar bagi santri untuk mengolah daya imajinasi mereka. Pola awal yang diterapkan sangat sederhana, tanpa teori akademik sebagaimana di kampus, mengingat santri bermukim di RT Rahmat yang dilatih mayoritas sekolah paket dengan umur yang beragam : dari 9-16 tahun.

“Sengaja dalam latihan ini saya tidak mendahulukan teori sastra secara akademik, nanti mereka malah pusing dan tidak menulis. Saya hanya menyuruh mereka menulis kegiatan keseharian sejak bangun tidur sampai ke tempat latihan menulis, ya semacam catatan harian,” ujar Imron yang sekaligus Pimpinan RT Rahmat Palembang.

Imron menegaskan, pelatihan menulis ini menjadi salah satu program ekstrakurikuler di RT Rahmat. Sebab, tugas pokok santri menghafal quran. “Tugas pokok mereka memang menghafal quran, karena ini rumah tahfidz. Namun menurut kami, mereka juga harus memiliki keterampilan lain, diantarannya menulis sastra,” tambah dosen luar biasa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. **

TEKS : RELEASE RT RAHMAT | FOTO. DOK.RT.RAHMAT/IRAWAN




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com