Ketua IWO Sumsel : tidak bijak kalau tidak diputar di bioskop

 433 total views,  2 views today

Ketua IWO Sumsel, Sonny Kushardian

PALEMBANG | KSOL “Kenapa tidak diputar di bioskop?” begitulah sebuah pesan yang dikirim Jemi Delvian melalui whatsapp (WA) ke hanphone (HP) Imron Supriyadi, Koordinator dan Penanggugjawab pemutaran film “Meniti 20 Hari” (M20H) yang sedang direncanakan akan diputar di Palembang pada Desember 2017.

Pesan itu merespon pesan sebelumnya, yang berupa poster promosi rencana pemutaran film M20H yang dikirim dari HP Imron melalui WA. Belakangan, Imron baru mengetahui, Jemi adalah salah satu arranger music di Sumsel yang juga konsen terhadap film dan produk budaya berbasis lokal untuk diangkat ke pentas global.

Sebelumnya, Jemi juga mengangkat ikon Sumsel, berupa kopi dengan sebutan kopi Talang Tuo bersama jurnalis mongabay.com, Taufik Wijaya. Bahkan kopi Talang Tuo sempat menjadi cindera mata para tamu dari luar negeri, yang diresmikan secara simbolik oleh Gubernur Sumsel, Alex Noerdin.

Terhadap film M20H, Jemi juga gelisah terhadap poster yang menyebutkan, film M20H akan diputar di Gedung Taman Budaya Jaka Baring Palembang. “Akan lebih baik dan sempurna kalau film ini diputar juga di bioskop,” ujarnya saat berbincang di sekretariat Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumsel tadi malam, Jumat (17/11/2017).

Gayung pun bersambut. Merespon pesan WA dari Jemi, bergegas Imron menghubungi  Darwin Syarkowi, salah satu tim marketing di film M20H di Palembang. Siang usai shalat Jumat, Darwin sudah berbincang dengan Imron di Rumah Tahfidz Rahmat Palembang, tempat Imron dan para santri bermukim.

“Ini repon positif. Tapi kita harus kontak ke Mas Era yang mendesain pemutaran film ini. Bagaimanapun kita harus izin dulu apalagi film ini produk PP Muhammadiyah, Im,” Darwin menyarankan.

ULAK PACEH – Salah satu adegan dalam film “Meniti 20 Hari” di Ulak Paceh Musi Banyuasin (Foto.Dok.KSOL)

Tak berlama-lama, Imron mengkonfirmasi Mas Era, pimpinan Mixpro (PH) yang mendesain pemutaran film M20H di Indonesia. “Saya konsul dulu, Mas,” jawab Mas Era melalui WA. Tak lama Mas Era menelpon Imron menjelaskan tentang izin dari manajemen untuk memutar film ini di bioskop Palembang. “Kalau itu rencana teman-teman di Palembang, ya nggak apa-apa. Tinggal bagaimana Mas Imron dan kawan-kawan di Palembang memastikan persentase yang diminta pengelola  bioskop. Kita terbuka saja, Mas. Silakan,” ujarnya melalui  HP, Jumat, (17/11/2017) pukul 14.20 WIB.

Malam harinya, usai shaat Isyak, Imron, yang juga Pembina Komunitas Filkm Palembang (Kofibang) membawa rencana ini ke kantor IWO Sumsel, sebagai respon dari WA Jemi.

Beberapa menit, Sonny Kushardian, Ketua IWO Sumsel, Haeru Nasri, Sekretaris IWO Sumsel dan jurnalis di Palembang ikut bergabung dan berbincang tentang rencana ini.

NOBAR – Acara nonton bareng film Meniti 20 Hari di Aula RS Roemani, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (4/11/2017) Foto. Tribunjabar

Mendengar itu, Sonny dan Haeru demikian antusias. Menurut Sonny, film yang berlatarbelakang Sumsel ini sudah selayaknya diketahui warga Sumsel yang tidak terlibat langsung dalam produksi film ini. “Apalagi proses produksinya mengambil wilayah Sumsel, seperti di Jejawi OKI, Ulak Paceh Muba, Lubuk linggau dan Palembang. Ini kan tidak banyak diketahui. Melalui film ini diharapkan akan memberi informasi tentang bagaimana  Muhammadiyah lahir di Sumsel, yang dimulai dari Ulak Paceh Muba,” tambahnya.

Sonny menambahkan, bila pihak manajemen menolak pemutaran film ini di bioskop, harus dipertanyakan keberadaan mereka di Palembang. Sebab, menajemen bioskop yang selama ini berada di Palembang mengambil untung dari warga di Sumsel.

Menurutnya, sangat tidak etis bila ada produk lokal dilarang masuk ke bisokop, padahal manajemen bisoko jelas-jelas mengais kehidupan di Palembang.

“Mereka itu kan mencari penghidupan di Sumsel, katakanlah di Palembang. Mereka mengambil untung dari hasil penonton di sini, tapi saat kita mau jualan produk kita, misalnya mau minta waktu pemutaran film ini,  kok malah ditolak, itukan namanya tidak fair. Kalau warga dan seniman protes, ya wajar saja.  Orang luar Sumsel jangan hanya bisa mengambil untung dari kami,  tapi lihat juga dong produk kami, itu baru adil,” tegasnya.

Sonny menegaskan, seharusnya bukan hanya event olah raga sekelas Asian Games yang didukung, tetapi film yang mengangkat kearifan lokal juga harus mendapat support penuh oleh semua pihak, ternasuk pemeirintah.  “Saya kira agak tidak bijak juga kalau tidak mendukung film ini diputar di bioskop,” ujarnya, saat bercengkrama informal dengan sejumlah pengurus IWO dan Kofibang di Kantor Pusat IWO Sumsel, tadi malam, Jumat (17/11/2017).

Ulak Paceh dan Kader Muhammadiyah

Film ini merupakan produksi Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO) PP Muhammadiyah berkisah tentang perjuangan dan petualangan KH Abdul Razak Fachrudin (muda), dengan rombongan Pandu Hizbul Wathan (HW) pada tahun 1939 Masehi bersepeda dari Ulak Paceh, Musi Banyuasin (waktu masih wilayah Palembang) ke Medan, sejauh 1.300 km untuk mengikuti Kongres ke 28 di Medan. Abdul Razak Fachruddin, merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode (1968-1990).

“Film ini  sebelumya sudah diputar perdana di Yogyakarta. Kenapa harus dari Yogya? Mengingat secara historis, lahir dan berdirinya Muhammadiyah di Yogyakarta. Di sini kita juga menyampaikan ke dunia luar, bahwa tokoh yang pernah tinggal di Sumsel dalam film ini memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan Muhammdiyah di pulau Sumatera, bahkan Indonesia,” ujar Imron.**

TEKS/FOTO  : Tim





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster