Tahun 2017 akan Lebih Kering Dibanding 2016, Sumsel Siaga Cegah Karhutla

 411 total views,  2 views today

PALEMBANG  | KSOL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tahun 2017 akan lebih kering dibandingkan tahun 2016. Akibatnya risiko kebakaran hutan dan lahan akan semakin besar terjadi di Indonesia.  Oleh sebab itu, penetapan siaga darurat sejak dini segera dilaksanakan.

Pernyataan itu, disampaikan Presiden Joko Widodo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2017 di Istana Negara Jakarta, belum lama ini.

 STAND SIAGA KARHUTLA – Kepala BMKG, Willem Rampangilei (Kedua Kanan), Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dan Staf Kepresidenan, Teten Masduki (berbaju putih) sedang mendengarkan paparan Kepala BMKG di Stand Karhitla (18/2/2017) (FOTO.RELEASE)


STAND SIAGA KARHUTLA – Kepala BMKG, Willem Rampangilei (Kedua Kanan), Gubernur Sumsel, Alex Noerdin (paling kanan, baret orange) dan Staf Kepresidenan, Teten Masduki (berbaju putih-depan) sedang mendengarkan paparan Kepala BMKG di Stand Karhitla (18/2/2017) (FOTO.RELEASE)

Hal itu diamini Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin  pada apel siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan 2017 di halaman Griya Agung, Palembang. (18/2/2017).

Perhelatan itu sebagai salah satu upaya Pemprov Sumsel dalam mencegah karhutla sebagiamana imbauan Presiden Joko Widodo terkait penetapan siaga darurat sejak dini.

Pemrov Sumsel dalam apel ini menjaring sejumlah stake holder dan perusahaan untuk membantu upaya pencegahan karhutla.  Siaga mencegah karhutla di Sumsel melibatkan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas bersama mitra pemasoknya PT Sebangun Bumi Andalas (SBA), PT Bumi Mekar Hijau (BMH), dan PT Bumi Andalas Permai (BAP).

Menjawab kekhawatiran pemerintah itu, GM Fire Management APP Sinar Mas, Sujica Lusaka mengatakan, APP Sinar Mas melalui program Integrated Fire Management (IFM) sekaligus Desa Makmur Peduli Api (DMPA) memegang teguh komitmen dalam mengurangi dan mencegah bencana karhutla yang merupakan perwujudan dari pelaksanaan Forest Conservation Policy (FCP) yang dijalankan oleh APP Sinar Mas sejak tahun 2013.

PERAGAAN – Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dan Staf Kepresidenan, Teten Masduki (berbaju putih) sedang menyaksikan salah satu peragaan pencegahan karhutla (18/2/2017) (FOTO.RELEASE)

PERAGAAN – Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dan Staf Kepresidenan, Teten Masduki (berbaju putih) sedang menyaksikan salah satu peragaan pencegahan karhutla (18/2/2017) (FOTO.RELEASE)

“Kami telah membangun sistem yang terintegrasi agar dapat menanggulangi sekaligus mencegah bencana kebakaran lahan dan hutan di dalam dan luar konsesi hutan tanaman kami,” ujarnya.

Sujica menambahkan, saat ini APP Sinarmas memiliki situation room center sebagai pusat pendistribusian informasi mengenai deteksi hotspot di seluruh lahan konsesi APP Sinarmas dan para mitra pemasok.

Menurut Sujica, upaya yang dijalankan perusahaan turut didukung 2,700 pemadam terlatih (RPK) dan 2,000 masyarakat peduli api (MPA) di lapangan.

Sistem yang telah dibangun juga diperkuat dengan perangkat pendukung di lapangan berupa 6 helikopter, 3 di antaranya heli besar sekelas Superpuma untuk menangani fire-spotting dan pemadaman api dari udara (water bombing) dengan kemampuan hingga 4,000 liter.

 PAPARAN -- Staf Kepresidenan, Teten Masduki (berbaju putih) sedang mendengarkan paparan tentang upaya pencegahan Karhutla di Sumsel di Stand Karhutla Sumsel (18/2/2017) (FOTO.RELEASE)


PAPARAN — Staf Kepresidenan, Teten Masduki (berbaju putih) Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Budi Agng Maryoto sedang mendengarkan paparan tentang upaya pencegahan Karhutla di Stand Karhutla Sumsel (18/2/2017) (FOTO.RELEASE)

Guna memaksimalkan kinerja, turut dibangun 80 menara pendeteksi api, 266 pos pantau, 160 truk air, 500 unit kendaraan patroli dan 1.150 pompa air.

APP Sinar Mas menurut Sucija, tidak hanya menanggulangi saat terjadi kebakaran saja, namun mencegah terjadinya bencana kebakaran melalui program DMPA.  “Program ini terpadu, dalam rangka mengembangkan potensi diri dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar,” tegasnya.

Selain itu, menurut Sujica, progam DMPA diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 50-70% dalam kurun waktu tiga tahun melalui kegiatan agroforestri (wanatani).

Ditambahkan, APP Sinar Mas juga mengembangkan sistem pendeteksian dini titik panas (hotspot) melalui Situation Room (Ruang Kendali Operasi yang dikhususkan).

Menurut Sujica, sistem ini selain berfungsi mendeteksi titik panas di suatu wilayah, juga melakukan verifikasi, apakah titik panas yang terdeteksi tersebut merupakan titik api (real fire) atau bukan. Situation Room yang berpusat di Jakarta, juga dikembangkan di region Sinar Mas Forestry dan mitra pemasok berada, serta unit APP di Singapura.

“Kami berharap yang kami lakukan tak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi turut menjadi sumbangsih positif bagi pemerintah. Tak hanya itu, kami juga berharap agar lebih banyak lagi pelaku industri lainnya yang memberikan dukungannya terhadap pemerintah Sumatera Selatan untuk berkolaborasi lebih jauh lagi dalam menanggulangi karhutla.” tutup Sujica.

Pada acara yang melibatkan 1,500 peserta dihadiri Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, Pangdam II Sriwijaya, Mayjend TNI Sudirman, SH, MM, Kapolda Sumatera Selatan, Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto. serta jajaran instasi pemerintah pusat dan daerah terkait.

 TEKS/FOTO :  RELEASE | EDITOR :  IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster