Harga Cabai di Palembang tembus Rp. 100 Per Kg

 715 total views,  2 views today

PALEMBANG | KSOL — Harga cabai rawit di Palembang melonjak tajam, Rabu (4/1). Bahkan cabai rawit yang biasa digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan cuka pempek ini, menembus Rp100 ribu per Kg. Sejumlah pembeli bahkan kaget, karena banyaknya cabai rawit yang beli kini sudah berkurang dari biasanya.

“Kaget juga, baru hari ini harga cabai naiknya parah biasanya Rp35.000/kg. Memang sejak dua hari sebelum tahun baru memang sudah mulai naik, sempat Rp50.000 /kg, naik lagi Rp70.000 /kg nah kini Rp100.000 /kg,” kata Lena warga 7 ulu.

Menurut Lena, harga ini terlampau tinggi dan sangat membebani pedagang kantin sepertinya. Cabai rawit menurutnya sangat dibutuhkan sebagai olahan makanan untuk memberikan rasa pedas seperti sambal dan cuka pempek.

“Kalau pakai cabai merah dan cabai jengki, tidak terlalu membuat pedas. Nah kalau harganya tinggi kami terpaksa mengurangi penggunaan cabai rawit, namun dikhawatirkan olahan makanan tidak sedap lagi,” katanya.

Lena mengakui, selain cabai rawit, cabai jengki juga mengalami kenaikan hingga Rp80.000 per kg, padahal cabai ini normalnya sekitar Rp30.000/kg. “Cabai untuk gorengan ini juga naik, kami juga kadang terpaksa mengurangi cabai ini,” jelas Lena.

Hal ini diakui pedagang sayur di Pasar 10 Ulu, Yuni (40). menurutnya kenaikan yang terjadi karena suplai menurun, bahkan penurunan bisa mencapai 50 persen. Karena kekurangan suplai, harga ini kemudian terus naik.

“Biasanya tidak lama, setelah sepekan dari tahun baru harga  biasanya normal, mungkin ini karena banyak pedagang yang belum berjulan, sehingga pengiriman terbatas,” jelasnya.

Demikian menurut Pedagang KM 5, Supri (39). Dirinya mengklaim jika kenaikan yang terjadi dari agen itu sendiri. Harga modal bahkam mencapai Rp70.000 per kg. “Mau tida mau harus naik, saat harga naik dan suplai sedikit maka pedagang juga tidak mau rugi,” ujarnya.

Dijelaskan, akibat kekurang suplai, cabai rawit juga harus dibagi-bagi ke pedagang lainnya, sehingga cabai yang diterima masih minim. “Sedikit, tadinya bisa samlai 10kg, sekarang hanya 4 hingga 5 kg saja,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Administrasi Umum PT Swarnadwipa Selaras Adiguna (SSA) Pasar Induk Jakabaring Bambang melalui stafnya Basri mengakui jika sejak libur tahun baru, distribusi dari pulau Jawa tidak melakukan pengiriman ke Pasar Induk Jakabaring.

“Harga cabai jengki memang naik, di level pedagang besar Rp60.000 per kg, cabai ini juga tidak banyak lagi disuplai dari pulau Jawa, diperkirakan karena masih tingginya curah hujan,” katanya.

Dijelaskan cabai rawit yang masuk ke Pasar Induk Jakabaring hanya sekitar 1 ton biasanya bisa sampai 3 ton per hari, sedangkan cabai rawit maupun jengki hanya sekitar 1,5 ton hinga 2 ton,” katanya.

“Untuk cabai merah juga mengalami penguranga  suplai hingga saat ini, namun harganya masih murah karena di suplai juga dari lokal, namun untuk cabai rawit dan jengki memang tidak banyak,” jelasnya.

Dirinya tidak menampik saat pengiriman sedikit gejolak harga akan naik, hanya saja saat pengiriman normal, harga akan turun, dan kembali normal. Jika naik biasanya pengiriman yang masuk sedikit dan harus di bagi-bagi antar pedagang.

“Kalau tidak karena cuaca hujan, ya kendala masih libur saat ini, kalau hujan cabai sulit bertahan 3 hari, namun untuk cabai lokal biasanya lebih awet bisa sampai 4 hari,” tukas dia.

Pengiriman lokal dikatakan dia dari sejumlah wilayah seperti Banyuasi, Pemulutan Ogan Ilir, dan sejumlah wilayah lainya seperti Pagaralam.

 TEKS : BP PALEMBANG | FOTO : GOOGLE IMAGE





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster