Ketika Gelar “Payung Jurai Semende” Dipertanyakan Warga

 3,677 total views,  2 views today

SEMENDE | KSOL – ‎Beberapa perwakilan warga dan tokoh masyarakat Semende Kabupaten Muara Enim akhirnya mempertanyakan ‎pemberian gelar ”Payung Jurai Semende” kepada AR salah satu warga di Lahat yang juga salah satu bakal calon (balon) Gubernur Sumatera Selatan.

“Untuk mendapatkan sebutan tersebut, harus berdasarkan sila-sila adat istiadat Semende atau warga asli keturunan Semende. Dan dalam menentukan sebutan dari sila-sila Semende ini tidak memandang jabatannya apapun itu,” ujar Salahudin, salah satu warga setempat yang ikut mempersoalkan, gelar “Payung Jurai Semende” yang diberikan pada AR ini.

Dijelaskan, sebutan yang diberikan berdasarkan adat istiadat tersebut diantaranya, Payung Jurai Semende (kepuyangan tertinggi disetiap rumah tumbuh di semende). Setelah itu, ada sebutan Jenang Jurai (neneng meraje), lalu sebutan Meraje, Apit Jurai terakhir Tunggu Tubang. “Dari tingkatan sebutan inilah yang dipertanyakan atas penyebutan pada AR sebagai Payung Jurai Semende,” tegasnya.

img_20161228_233035

Warga dan Tokoh Pemuda Semende, Salahludin, Khairlani dan Ujang Sarif saat di jumpai di Rumah Tumpak Mess Semende di Pasar Kota Muara Enim (FOTO : DOK/KSOL/HENDRO)

‎Menurutnya, bila kemudian ada penobatan gelar, harus lebih dulu ada pertemuan di hadiri oleh keluarga yang ada garis keturunan Payung Jurai Semende, Jenang Jurai, Meraje, Apit Jurai dan terakhir Tumbuh Tubang. Saat itulah akan diputuskan siapa yang mendapatkan sebutan berdasarkan garis keturunan Semende.

‎”Jadi, dari mana AR bisa disebut Payung Jurai Semende? Saya tidak menyalahkan, tetapi hanya mempertanyakan saja!” ungkapnya.

‎Senada dengan itu, Kairlani salah satu tokoh masyarakat Desa Tanjung Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT) mengatakan, Payung Jurai sama saja dengan pemimpin dalam adat istiadat.

Kalau dalam pemerintahan setara dengan pemimpin seperti Bupati dan lainnya. Bagi warga yang mendapatkan sebutan Payung Jurai Semende nineng Meraje dan lainnya. Warga yang mendapat gelar itu harus orang asli keturunan Semende dan tidak bisa memayungkan sebutan tersebut jika diluar dari keturunan suku Semende.

‎”Jadi saya tegaskan, kalau bukan asal keturunan asli Semende tidak bisa mendapatkan sebutan tersebut,” tegasnya.

Tampak salah satu rumah tradisional adat Semende di desa Muara Tenang Semende‎ (FOTO : DOK.KSOL/HENDRO)

Tampak salah satu rumah tradisional adat Semende di desa Muara Tenang Semende‎ (FOTO : DOK.KSOL/HENDRO)

Dalam kesempatan itu, Ujang Sarif salah tokoh masyarakat Desa Tanjung Agung lainnya, mengatakan, bagi warga Semende yang berdomisili di Kabupaten Lahat diharapkan dapat mengerti lebih dulu tentang adat dan istiadat suku Semende.

“Saya harap yang warga Semende dari Lahat, dapat mengerti adat istiadat Semende kita ini,” Ujar Ujang Sarif yang juga cucu Depati Jesadun (1959).

Sampai berita ini ditulis, AR sebagai warga yang mendapat gelar tersebut belum dapat dikonfirmasi. Bahkan dari pihak keluarga juga bekum bersedia member penjelasan tentang penobatan gelar Payung Jurai Semende kepada AR.

AR yang merupakan salah satu bakal calon gubernur Sumsel ini mendaoat gelar Payung Jurai Semende. Ketika itu AR hadir dalam perinagtan Maulid Nabi Muhammad SAW (23/12/2016) di Desa Cahaya Alam Kecamatan Semendo Darat Tengah SDT .

AR yang merupakan salah satu bakal calon gubernur Sumsel ini mendapat gelar “Payung Jurai Semende” dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (23/12/2016) di Desa Cahaya Alam Kecamatan Semendo Darat Tengah SDT .

Seperti dibertakan sebelumnya, AR yang merupakan salah satu bakal calon gubernur Sumsel ini mendaoat gelar Payung Jurai Semende. Ketika itu AR hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (23/12/2016) di Desa Cahaya Alam Kecamatan SDT .

TEKS/FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN | EDITOR : T PAMUNGKAS





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster