Museum Gunung Api Merapi Jendela Bumi

 888 total views,  2 views today

YOGYAKARTA |  KSOL  — Indonesia merupakan wilayah rawan bencana gempa, tsunami, maupun gunung meletus. Namun museum yang terletak di kawasan lereng Merapi, di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, justru ramai pengunjung dari luar pulau Jawa.

Dengan luas bangunan sekitar 4,470 seluas 3,5 hektar, museum yang rencananya bakal dilengkapi dengan taman dan plaza ini dibangun tahun 2005 atas kerja sama Kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Setelah diresmikan pada 1 Oktober 2009, dan mulai dibuka pada 1 Januari 2010 lalu, di bawah wewenang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman dibantu oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), museum ini justru belum diminati masyarakat Yogyakarta.

museum-gunung-api-merapi-jendela-bumi-2

Deretan Jeep Lava Tour di parkir di halaman depan Museum Gunung Merapi, Yogyakarta.

Kasubag TU Museum Gunung Api Merapi, Suryani, menuturkan selain menjadi pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, serta bencana alam lainnya,  Museum Gunung Api Merapi (MGM) merupakan wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan.

“Kita selalu mensosialisasikan pengetahuan tentang kegunungapian kepada masyarakat secara luas. Bahkan sosialisasi ini kita lakukan bekerja sama dengan pihak-pihak swata,” ujar Suryani, Sabtu (24/12) siang.

Bahkan di Jogja, lanjut Suryani, sekolah-sekolah sudah memiliki wajib kunjung museum (WKM). Suryani berharap Museum Gunung Api Merapi menjadi sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif.

museum-gunung-api-merapi-jendela-bumi

Rombongan wisata asal Jakarta berkunjung ke museum dalam perjalanan Jeep Lava Tour Merapi, Sabtu (24/12).

Suryani menambahkan, museum ini dapat memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya, maupun yang berkaitan dengan gunung api dan sumber kebencanaan geologi lainnya bagi masyarakat luas.

Museum yang memiliki karyawan lebih dari 30 orang, dan buka setiap hari jam 08.00-15.30 dikunjungi 500-1000 pengunjung. Kecuali hari Jum’at, museum hanya buka hingga pukul 14.30 WIB, dan libur pada hari Senin. Setiap pengunjung museum dikenai tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah.

Selain terdapat alat peraga gempa dan tsunami di Lantai I, padaLantai II juga terdapat ruang pemutaran film kegunungapian.

Aziz, 26, pengunjung asal Baturaja, Sumatera Selatan, mengaku senang bisa ke museum Gunung Api Merapi.  Ia sengaja datang ke museum bersama temannya Rahmat, 25, karena bisa menambah wawasan.

“Tadinya mau ke Kalikuning, tapi tiba-tiba kok ingin ke museum yang katanya menyimpan benda-benda kejadian awan panas 2010 lalu,” ujar Aziz salah satu mahasiswa UII Yogyakarta.

Lain halnya Lusiya (45) asal Jakarta, sekalian mengantar anaknya kuliah pertama di UGM, berkunjung ke museum justru karena penasaran ingin mengetahui peristiwa erupsi Gunung Merapi 2010 lalu. Ia bersama suami menyempatkan waktu untuk mengetahui secara detail kejadian mengerikan itu. “Ternyata seperti ini kejadiannya.”

Lusiya kagum dengan penataan Museum Gunung Api Merapi yang tidak ia temui di Jakarta. Namun yang paling membuatnya tertarik adalah saksi-saksi erupsi Merapi 2010 yang terekam dalam foto dan benda-benda akibat awan panas wedus gembel.

TEKS : A.S. ADAM





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster