Ketua PWI Sumsel : Wartawan Senior Jangan Merasa Paling Hebat

83 total views, 3 views today

MUARA ENIM | KSOL – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel, H Oktaf Riadi, SH menyindir sejumlah wartawan senior di Kabupaten Muaraenim. Hal itu dikemukakan menjelang pelaksaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Muaraenim, (28-29/11/2016) di Griya Sintesa Hotel dan Ruang Rapat Bapedda Muaraenim.

Oktaf menilai, selama ini ada kesan wartawan yang senior merasa lebih pintar dan paling benar dalam menulis berita. Namun hal itu akan terlihat saat mereka mengikuti UKW. Sebab melalui UKW inilah, menurut Oka—panggilan Oktaf Riadi—kualitas wartawan akan teruji.

“Kadang kita merasa kawan-kawan wartawan yang selama ini paling benar, paling pintar, baru terlihat kualitasnya setelah mengikuti UKW. Mereka akan ketahuan, ternyata banyak salahnya, banyak kurangnya. Jujur saja ini kenyataannya, wartawan senior sekalipun yang lama menghimpun berita di Muara Enim dalam UKW bisa hamper terjungkal nilainya,” ujar Oka.

BERITA TERKAIT : KETUA PWI SUMSEL : WARTAWAN SENIOR JANGAN MERASA PALING HEBAT

Oka juga menegaskan bagi wartawan yang merasa hebat dan sudah punya nama besar, dan sudah lama meliput di Humas Pemkab, sebaiknya mengubah pola pikir yang seperti itu.

“Kawan-kawan yang senior sering kali merasa hebat dan sudah merasa punya nama besar saat meliput berita di humas Pemkab. Nah jadi mulai sekarang tolong dirubah,ya! Dengan adanya UKW untuk mengulangi kembali apa yang telah kita lakukan benar atau tidak! Baik dari segi wawancara, penulisan berita dan lainya,” tegasnya.

Lebih lanjut Oka menegaskan, untuk mewujudkan Standar Kompetensi Wartawan (SKW), harus ditempuh melalui UKW.‎ Tujuan SKW menurut Oka, untuk meningkatkan kualitas wartawan.

Dikatakannya, bila wartawan salah menulis berita yang terjadi juga informasi salah yang disampaikan kepada masyarakat. “kalau itu terjadi, informasi yang diberikan akan menyesatkan,” tegasnya.

Padahal tujuan awal wartawan menulis dan menerbitkan koran ikut mencerdaskan masyarakat. Bila Pers memberikan informasi salah, maka seperti yang terjadi saat ini di media sosial (medsos), banyak informasi yang salah dan menyesatkan.

Menurut Oka, akan tidak enak didengar jika terbaca ada wartawan yang ditangkap polisi gara-gara salah menulis berita. “Tidak enak nanti kita dengar ada wartawan ditangkap polisi, di gugat orang, digugat perdata 5 miliar misalnya, tentu bisa langsung tutup kantor. Ditangkap polisi kemudian nanti larinya ke dewan Pers tetap masuk penjara?” ujarnya.

Oleh sebab, itu akan lebih baik wartawan berhadapan dengan para penguji di UKW. Kalau kemudian ada wartawan tidak lulus dalam UKW, bukan menjadi masalah. Sebab UKW tidak hanya dilakukan kali itu saja, meliankan masih ada kesempatan lainnya.

“Jadi bila ada kesempatan untuk UKW ikuti, jangan tidak ikut. Kalau tidak ikut ya salah sendiri, inilah kesempatannya. Mungkin dipikir gampang. Sebenarnya kalau memang benar wartawan dalam melaksanakan tugasnya dengan benar pasti sangat gampang menjalani dan mengikuti UKW-nya,” pungkasnya.

TEKS/FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN | EDITOR : T PAMUNGKAS




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com