Paedofil, Faktor Genetik atau Kelamaan Jomblo?

 225 total views,  2 views today

JAKARTA | KSOL — Seorang paedofil memiliki ketertarikan seksual yang berbeda dengan orang kebanyakan, yakni hanya terangsang oleh anak di bawah umur. Ada banyak teori tentang penyebabnya, di antaranya pengaruh genetik dan status jomblo terlalu lama.

“Ada juga teori yang mengatakan karena jomblo terus. Tidak punya keberanian terhadap sesama orang dewasa, lalu larinya ke anak-anak. Tapi saya lebih percaya faktor genetik,” kata Prof Dr Sarlito W Sarwono, M.Psi, guru besar psikologi Universitas Indonesia, kepada detikHealth seperti ditulis pada Rabu (22/1/2014).

Prof Sarlito meyakini paedofilia lebih dipengaruhi oleh faktor genetik dibandingkan pengaruh lingkungan atau pergaulan. Fakta lain tentang paedofil sebagaimana disampaikan Prof Sarlito adalah gangguan ini lebih banyak diidap oleh laki-laki dan sangat sedikit perempuan yang mengidapnya.

Paedofilia sendiri merupakan salah satu gangguan seksual yang dikategorikan sebagai parafilia. Sesuai asal katanya yakni paedo– (anak-anak) dan phillia (suka), pengidapnya memiliki ketertarikan seksual secara khusus pada anak-anak di bawah umur.

Tidak ada batasan pasti mengenai umur anak kecil yang menjadi mangsa paedofilia. Yang jelas menurut Prof Sarlito, umumnya korban belum memasuki usia puber dan rambut kemaluan atau pubisnya belum tumbuh. Beberapa paedofil juga menyukai anak usia puber, tetapi yang menjadi korban dalam kebanyakan kasus adalah anak-anak usia 10-11 tahun.

Mengenai tipe anak yang rentan menjadi korban paedofil, Prof Sarlito mengingatkan bahwa siapapun bisa menjadi korban. Maka, peran orang tualah untuk menanamkan kewaspadaan agar anak tidak mudah terbujuk oleh rayuan orang tidak dikenal.

“Tidak ada tipe tertentu, semua bisa kena. Masalahnya ada di paedofil itu sendiri yang perlu diwaspadai,” tegas Prof Sarlito.

Dalam konteks dunia maya, paedofil banyak berkeliaran dengan modus sebagai teman curhat. Sebagian pakar menilai anak yang banyak diam, rasa percaya dirinya rendah, dan mudah di-bully cenderung lebih rentan menjadi mangsa pedofil di dunia maya.

TEKS/ILUSTRASI : DETIK.COM





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster