Khocil Difitnah Bakar Pasar Anyar : Ironi Kliwon Plaza

 392 total views,  2 views today

YOGYAKARTA | KSOL—Genderuwo Pasar Anyar mengisahkan tragedi seorang penjaga malam merangkap tukang sapu Pasar Kliwon bernama Murwat. Nasib tragis tokoh itu sama persis dengan nasib Pasar Kliwon yang ia bela. Mereka harus tergencet oleh pasar modern yang dipompa kekuatan kapital.

Ketika Murwat sedang bertugas, mendadak Pasar Kliwon terbakar. Api berkobar, membesar, menjilat apa saja menghanguskan apapun sehingga bangunan menghitam dan runtuh. Dalam kepungan api, Murwat berjuang menyelamatkan diri, namun sia-sia.

Api jauh lebih perkasa dari dirinya. Mendadak muncul kekuatan spiritual: sebuah tangan merengkuh dan membawanya keluar dari lautan api. Kekuatan itu datang dari sosok spiritual Eyang Dono Driyah, tokoh penting yang membangun pasar itu dan sudah wafat ratusan tahun lalu.

1.Khocil Birawa saat mementaskan monolog “Genderuwo Pasar Anyar” di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (15/9/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Khocil Birawa saat mementaskan monolog “Genderuwo Pasar Anyar” di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (15/9/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Dari Eyang Dono Driyah, Murwat tahu bahwa Pasar Kliwon kini berada dalam genggaman Genderuwo, mahluk gaib berbentuk monster yang tidak bisa dilawan oleh siapapun bahkan oleh negara.

Pasar Kliwon pun hangus jadi abu. Berganti dengan Kliwon Plaza yang dikuasai konglomerat. Para pedagang kecilpun bernasib naas, mereka dihardik dan harus tersingkir. Kenaasan itu sama persis dengan nasib Murwat yang justru dituduh sebagai pembakar pasar.

Sipnosis di atas adalah gambaran cerita singkat pementasan monolog “Genderuwo Pasar Anyar” berdurasi lebih dari 1 jam yang dimainkan oleh Khocil Birawa, wartawan sekaligus pelaku seni, menandai tepat 36 tahun eksistensi Khocil di dunia seni teater yang juga membesarkan namanya.

Penulis naskah “Genderuwo Pasar Anyar” Indra Tranggono, pengamat budaya dan sastrawan mengatakan, bahwa kekuatan kapitalisme yang disimbolkan melalui sosok “Genderuwo” kini justru makin menjadi. Rakyat dibiarkan oleh Negara untuk bertarung sendiri melawan kekuatan yang besar itu, misalnya pasar tradisional. Banyak pasar tradisional hilang, dan sebaliknya pasar modern justru bermunculan menggeser kearifan lokal.

1.Khocil Birawa saat mementaskan monolog “Genderuwo Pasar Anyar” di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (15/9/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Suasana monolog “Genderuwo Pasar Anyar” di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (15/9/2016) FOTO.DOK.KSOL/ADAM

“Kita berada di bawah kekuasaan kekuatan konspirasi dunia. Dimana kapitalisme global itu menjadi panglima,” kata Indra, Kamis (15/9) malam.

Indra melihat bahwa negara tidak memberikan proteksi yang jelas terhadap masyarakat agar berbelanja di pasar tradisional. Akhirnya pasar tradisional harus bersaing dengan penguasa-penguasa pemodal besar.

Menurut Indra, kapitalisme selalu menciptakan pikiran-pikiran orang agar sesuai dengan kemauannya. Ia tidak menginginkan kekuatan sosial yang menjadi identitas karena dapat mempersulit penaklukan secara masif dan kolektif. Maka masyarakat dikejar mulai dari rumah hingga di luar rumah melalui iklan atau provokasi-provokasi yang sifanya konsumeristik. “Lantas kita sekarang mau berbuat apa?”

Indra menilai semua elemen masyarakat bahkan Negara pun tidak mampu ketika ketidakadilan ekonomi merajalela. Sebagai penulis ia mengaku hanya memberikan isyarat: kembalilah pada jati diri—pada identitas.

Kalau memang menjadi masyarakat yang masih mengutamakan komunalitas dan keguyupan, tentu harus berpikir terhadap tawaran-tawaran ekonomik apakah relevan dengan nilai-nilai hidup. “Saya berharap masyarakat (penonton) dapat menafsirkan pementasan monolog dalam panggung,” ujarnya.

Disinggung soal naskah satire, Indra mengaku dirinya sejak awal memang menulis satire. Ia punya pandangan jika ngomong serius dengan cara yang serius bisa jadi masyarakat akan sulit menerima. Maka ia pun mengembalikan kepada kebutuhan dasar manusia yaitu refleksi.

“Refleksi itu bisa juga melalui humor, tapi juga ada yang bisa subtstansial seperti renungan-renungan dengan harapan orang itu tidak terlalu berat. Urip kuwi wis abot jangan sampai drama itu menjadi hidup orang menjadi lebih berat,” tambahnya.

Sartire menurut pandangan Indra adalah cara pandang yang berbeda atas realitas formal. Satire itu lebih melihat dari sisi yang gelap/getir dari penderitaan orang dan seterusnya. Dari situlah kemudian muncul kekonyolan-kekonolan manusia. Bagaimana manusia bertarung gagap dan gugup melawan realitas yang sepert ini, tiba-tiba seperti air bah diguyur berbagai fenomena.

Pada naskah yang ditulis, Indra berharap dapat turut merawat daya kritis masyarakat atas hegemoni kuasa kapitalyang sekarang ini menjelma seperti “Genderuwo” tak tertandingi dengan cara kembali kepada jati diri.

Kenapa jutaan Murwat hadir di depan mata kita? Jutaan rakyat kecil selalu menjadi korban sekaligus menjadi pemandangan sehari-hari. Kasus-kasus perselisihan antara rakyat dengan pemodal /konglomerat rutin terjadi, dan rakyat selalu dikalahkan. “Bukan dikalahkan tetapi dikalahkan oleh si penghukum yang sesat.”

Institusi-institusi negara maupun masyarakat sudah tidak bisa diharapkan. Orang-orang yang merubah diri menjadi baik tidak tahu harus kemana. Negara tidak memberikan alamat. Solusinya orang harus mencari sendiri dengan kebudayaannya sehingga bertemu dengan gagasan, ekspresi, nilai, perilaku, maupun kreatifitas. Menurut Indra, hal ini yang tidak banyak dilakukan atau difasilitasi oleh negara.

Negoro saiki ming ngeculkeModaro sakkarepmu! Bengak-bengok sakkarepmu! ning yen mangan yo usaha dewe. Njuk piye? Jarene mbentuk negoro? Lha kok koyo ngene? (Sekarang Negara lepas tangan. Matilah! Teriak-teriaklah! Tapi jika ingin makan ya usaha. Terus bagaimana? Katanya membentuk sebuah negara? Kenapa seperti ini?) tutupnya.

Sutradara monolog “Genderuwo Pasar Anyar” Toelis Semero, mengaku senang sekaligus ditantang mengetahui Khocil yang wartawan yang sejak lama tidak aktif di teater. Ia sempat tarik-ulur menyutradarai Khocil, namun sebaliknya Toelis justru semakin semangat melihat antusias Khocil.

“Pak Khocil dulu pernah di Asdrafi namun lama terhenti di dunia teater. Mengetahui pak Khocil sejak lama tidak pentas, dan tidak muda lagi tapi saya sanggup karena pak Khocil punya semangat yang tinggi.

Meski Khocil dituntut menghapalkan naskah monolog yang tebal, ia tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai wartawan. Toelis membeberkan, dirinya sempat dikejar-kejar Khocil untuk latihan guna mempersiapkan waktu yang pendek. “Padahal hapalannya berat-berat, bahkan ia sempat blank,” ujar Toelis.

Menanggapi kondisi usia Khocil yang sepuh, lanjut Toelis, ia mengatur strategi pementasan monolognya dengan instrumen panjang  agar Khocil punya kesempatan untuk bernafas saat dipanggung.

Kepada Kabar Sumatera, meski mengaku menghabiskan waktu dua bulan, lima kali pertemuan bersama Khocil dan seluruh pendukung pementasan, Toelis juga sempat kesulitan melihat Khocil yang sudah lama tidak berteater.

“Kekurangan pak Khocil menjadi kelebihan, kelebihan pak Khocil pun menjadi keunggulan. Nah itu yang membuat saya justru semakin menjadi samangat untuk pak Khocil,” ujar Toelis yang beberapa kali mendapat penghargaan sutradara terbaik.

Khocil, tambah Toelis, bahkan sempat tidur di Pasar Barongan mendalami riset ilmiahnya guna mendalami karakter dalam tiga lakon berbeda.

“Dalam monolog berdurasi lebih sejam tadi saya memerankan tukang sapu, penjaga malam pasar, konglomerat dan Eyang Dono Driyah,” jawab Khocil wartawan Kedaulatan Rakyat, surat kabar lokal di Yogyakarta.

Karena lama tidak aktif di teater, Khocil mengaku sempat kesulitan. Ia tertantang memerankan tokoh konglomerat karena belum pernah menjadi konglomerat. Uniknya, beberapa nama seniman juga sempat disindir olehnya, beberapa diantaranya: Jaduk Ferianto, Marwoto dan Djoko Pekik.

Disamping bermain teater, beberapa kali Khocil Birawa mendapatkan peran layar kaca. Ia juga kerap membintangi sinetron dan film layar lebar.

Pementasan “Genderuwo Pasar Anyar” merupakan hasil kerjasana Komunitas Sobat Lama, Dinas Kebudayaan DIY, TBY dan beberapa media massa di Yogyakarta.

TEKS: A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster