Introduksi Teknologi Tepat Guna pada Anyaman Purun

ardian-indra-putra

Oleh Ardian Indra Putra (Penulis adalah Steering Committee Young Eco-Journalism Booth Camp 2-3 Maret 2016 di Kayuagung-OKI)

PURUN merupakan vegetasi sejenis rumput atau gulma yang umumnya tumbuh liar dekat air, rawa atau lebak. Belum banyak yang mengetahui potensi purun ini.  Padahal, bila potensi alam ini diolah dan dikembangkan, dapat menggerakkan potensi ekononi warga setempat.

Apalagi,  di Kecamatan Pedamaran Timur Kebupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sebelum pemekaran merupakan bagian dari Kecamatan Pedamaran yang popular disebut sebagai Kota Tikar.

Desa Pulau Geronggang yang berada di Kecamatan Pedamaran Timur, mislanya. Bukan hanya ada kedekatan dari sisi geografis administratif,  namun beberapa literatur menyebutkan sangat dimungkinkan secara genealogis, keduanya masih satu rumpun sebagai etnis Pendesak. Cara pandang world view suatu komunitas atau etnis umumnya dipengaruhi dengan kondisi ekologis di sekitarnya.

Moda produksi komunitas ini misalnya yang mayoritas sebagai pengrajin purun adalah cara adaptasi terhadap potensi sumber daya alam atau material di sekitarnya. Sebagai makhluk homo faber, manusia bekerja demi mempertahankan ekistensi dirinya dengan cara mengembangkan berbagai pilihan perkakas atau teknologi.

Ada hal unik dan menarik dari perkembangan para pengrajin anyaman tikar purun ini. Nenek moyang mereka secara tradisional telah mewariskan purun sebelum dianyam dengan cara ditumbuk secara manual.

Mereka menggunakan tongkat dan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam. Namun kini para pengrajin desa ini sudah mulai menggunakan mesin pengepress.  Cara yang lebih modern ini menghasilkan bahan baku anyaman yang lebih presisi kepipihannya.

Keunggulan lainnya, dari sisi waktu dan energi lebih efisiensi. Prinsip kerja mesin ini mirip alat pembuat adonan goreng pisang molen. Alat ini dibuat dengan menyandingkan 2 tabung besi yang ketebalannya dapat diatur. Proses menggerakan mesin ini, bisa dengan memutar pedal menggunakan tangan atau menggunakan listrik. Outputnya, bahan anyam  purun dapat dihasilkan dalam yang relatif singkat.

PURUN -- Beberapa-contoh kerajinan yang diproduksi dari purun (FOTO.GOOGLE IMAGE)

PURUN — Beberapa-contoh kerajinan yang diproduksi dari purun (FOTO.GOOGLE IMAGE)

Melihat potensi ini, Corporate Social Responisbility (CSR) PT Sampoerna Agro kemudian berinisiatif memfasilitasi introduksi Teknologi Tepat Guna (TTG) bagi para pengrajin purun. Salah satunya kepada seorang ibu di desa setempat yang sudah lama menjadi pengrajin tikar purun.

Jauh sebelum mendapat fasilitas TTG, sang ibu menghabiskan waktu hampir setengah harian untuk menumbuk dan menjemur. Proses ini dilakukan berulang ulang, bahkan dilanjutkan hingga malam hari sampai proses menganyam. Umumnya mereka hanya mampu menghasilkan 3 (tiga) lembar tikar, dengan kisaran harga jual Rp 5 ribu– Rp 6 ribu  per  lembar.

Melalui bantuan TTG, diharapkan di masa mendatang, volume produksi akan mengalami peningkatan. Sebab dengan menerapkan TTG ini, baik dari sisi waktu dan tenaga bisa relatif lebih efisien dari pada sebelunya. Dengan begitu, surplus waktu dan energi dapat diarahkan pada kegiatan lain, misalnya aktivitas produktif di sekitar rumah, berkebun atau meningkatkan kualitas hubungan dan pola asuh anak di keluarga mereka.

PURUN --  Beberapa karya tradisional yang diproduksi dari purun yang dijual di pasaran (FOTO.GOOGLE IMAGE)

PURUN — Beberapa karya tradisional yang diproduksi dari purun yang dijual di pasaran (FOTO.GOOGLE IMAGE)

Selain TTG, CSR perusahaan juga memfasilitasi pelatihan diversifikasi produk anyaman. Bukan hanya berupa tikar konvensional, namun barang lainnnya, seperti tempat buku, tissue, keranjang, tempat pensil, bahkan sandal berbahan purun.

Hal ini dilakukan untuk membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pengrajin tikar purun, sekaligus meningkatkan posisi tawar harga jual produk dari OKI, baik di pasar domestik atau bahkan ke luar negeri.

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kesadaran (awareness) terhadap pentingnya pelestarian lingkungan dan promosi produk purun ini, mereka juga diikutsertakan dalam event tahunan, berupa pameran pembangunan  di Kabupaten OKI tiga tahun terakhir ini.**




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com