Peduli Warga Difabel, Lintas Organisasi Bentuk Forum Malang Inklusi

 299 total views,  3 views today

MALANG | KSOL – Sedikitnya 15 Organisasi dari lintas penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang, sepakat membentuk Forum Malang Inklusi (FMI). Terpilih sebagai ketua, Kertaning Tyas dari Perkumpulan Lingkar Sosial (LINKSOS), Kamis (15/9/2016).

Terbentuknya FMI, dideklarasikan sejumlah organisasi, diantara : Perwakilan dari Perkumpulan Lingkar Sosial (LINKSOS), Komunitas Rumah Sahabat (KRS), Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) Malang, Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) Malang, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Malang, LBH DISABILITAS, Koperasi Satu Jiwa (KOSAJI) Malang, Lawang Rescue, PPRBM Bhakti Luhur, Shining Tuli Kota Batu dan IPC Kabupaten Jombang.

Kertaning Tyas menyebutkan, pembentukan FMI bertujuan untuk mengkoordinisasi pergerakan sosial masyarakat penyandang disabilitas mencapai kesetaraan hak sebagai warga negara, sekaligus guna mendukung gerakan sosial untuk Satu Misi Menuju Malang Raya Ramah Difabel.

unnamed1

Suasana Pertemuan 15 Organisasi dari lintas penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang, yang kemudian sepakat membentuk Forum Malang Inklusi (FMI), Kamis (15/9/2016). FOTO.DOK.LINGSOS

Lebih lanjut, Kerta menyebutkan hasil dari pertemuan itu diperoleh kesimpulan, kondisi daerah yang ramah difabel masih jauh dari harapan.

BERITA TERKAIT : Mengapa Ada Difable, Disable dan Disabilitas?

Pernyataan ini berdasar pada fakta, hampir di seluruh sektor layanan publik, belum mengakomodir hak-hak penyandang disabilitas sebagai warga negara, untuk itu perlu banyak hal yang harusd dibenahi. “Tapi untuk mewujudkan kota yang ramah difabel memerlukan kerjasama antara Pemerintah dan masyarakat,” terang Kerta.

Hal pokok yang akan diperjuangkan, menurut Kerta adalah persoalan kependudukan. Masyarakat penyandang disabilitas harus tercatat di Kartu Keluarga meliputi keunikaan atau jenis disabilitasnya.

Foto bersama 15 Organisasi dari lintas penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang, Kamis (15/9/2016). FOTO.DOK.LINGSOS

Foto bersama 15 Organisasi dari lintas penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang, Kamis (15/9/2016). FOTO.DOK.LINGSOS

Persoalan lain yang tak kalah pentngnya adalah, akurasi data terhadap warga berkebutuhan khusus. “Pendataan warga Difabel yang akurat ini sekaligus untuk mendorong agar peran pemerintah dalam memberikan layanan terhadap warga difabel juga dapat berjalan optimal. Selama ini, kami menilai belum ada instrumen khusus yang mendata warga difabel, sehingga belum ditemukan jumlah yang pasti,” ungkap Kerta.

Oleh sebab itu, salah satu rumusan yang diputuskan dalam pertemuan lintas organisasi ini membentuk FMI. “Terbentuknya FMI ini sebagai salah satu jalan keluar dalam mengatasi persoalan penyandang disabilitas,” tegas alumnus Sekolah Demokrasi Ogan Ilir Sumatera Selatan ini (kerjasama Yayasan Puspa Indonesia Palembang-Komunitas Indonesia untuk Demokrasi).

TEKS : REL | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com