Animal Inspire : Kerinduan Sentot pada Sang Ayah

 1,018 total views,  4 views today

YOGYAKARTA | KSOL— Banyak cara orang mengekspresikan kerinduan pada sesuatu. Apakah rindu pada kekasih, handai taulan, adik, kakak, ibu dan ayah, atau kerinduan pada masa kecil yang hingga kini masih menjadi kenangan.

Pameran tunggal lukisan bertajuk “Animal Inspire” di Tembi Rumah Budaya di Jalan Parangtritis Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam, adalah salah satu ekspresi seorang Sentot T Raharjo ketika dirinya rindu dengan masa kecilnya bersama sang ayah.

1.Untung Basuki bersama personilnya membawakan “Sebatang Lisong” karya WS Rendra, teman dekatnya semasa di Bengkel Teater, di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Untung Basuki bersama personilnya membawakan “Sebatang Lisong” karya WS Rendra, teman dekatnya semasa di Bengkel Teater, di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

“Dulu waktu kecil, bapak selalu memberikan spirit dengan mengajak ke kebun binatang,” ujar Sentot. “Entah kenapa, saya sekarang senang melukis bertema binatang,” katanya.

2.“Prolog” salah satu syair Achmad Masih yang dibacakan pada pembukaan pameran Sentot T Raharjo di di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

“Prolog” salah satu syair Achmad Masih yang dibacakan pada pembukaan pameran Sentot T Raharjo di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Melihat pameran yang digelar, terasa kembali ke era 60-an. Sekilas karya-karya lukisannya yang berwarna cerah terlihat hanya komposisi dan sapuan warna. Padahal lukisan abstraknya justru mengekstraksi figur-figur alam binatang.

Menurut Totok Buchori, Ketua Sanggarbambu Yogyakarta mengatakan, karya-karya Sentot yang hampir abstrak dan sedikit figuratif ini, justru mengembalikan rasa yang pernah tercipta seperti jamannya Fajar Sidik, meskipun kali ini dengan nafas yang berbeda.

MONOLOG -- Aktor film dan layar perak, Like Suyanto, bermonolog beberapa saat sebelum pembukaan berakhir, di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

MONOLOG — Aktor film dan layar perak, Like Suyanto, bermonolog beberapa saat sebelum pembukaan berakhir, di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

“Saya pikir karya-karya seperti ini sudah surut,” tutur Totok Buchori, generasi ke lima Sanggarbambu, usai pembukaan pameran di Tembi Rumah Budaya di Jalan Parangtritis Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam.

Perupa Indonesia tidak hanya mampu memberikan karya-karya visual yang berbeda, namun juga sesuatu yang kini jarang ditemui penikmat seni sehingga Indonesia di mata dunia begitu diperhitungkan.

MEMBIUS -- Perupa perempuan Yogyakarta, Wati Respati, syairnya “Di antara hati dan sujud” sempat membius seluruh yang hadir pada pembukaan pameran Sentot, di Tembi, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

MEMBIUS — Perupa perempuan Yogyakarta, Wati Respati, syairnya “Di antara hati dan sujud” sempat membius seluruh yang hadir pada pembukaan pameran Sentot, di Tembi, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Perupa Indonesia, Godod Sutedjo mengatakan aktifitas perupa muda kini sangat luar biasa. Seyogianya mendapat dukungan yang baik dari berbagai kalangan. Bahkan dirinya mengapresiasi Rumah Budaya Tembi yang memberikan generasi muda sebagai tempat untuk menampilkan karya-karya melalui pertunjukan dan pameran.

“Pameran tunggal bisa untuk menguji seseorang apakah jalan di tempat, berkembang, atau justru malah melejit,” tutur Godod Sutedjo usai pembukaan pameran.

Kalau dibilang kerja di batik, lanjut Godod, ini justru batiknya tidak kelihatan. Godod menilai, Sentot sangat luar biasa karena bisa membagi waktu: waktu bekerja untuk nafkah dan waktu untuk berkarya, eksistensi.  “Padahal Sentot bekerja di batik. Mungkin karena Sentot banyak bergaul dengan seniman di luar batik,” ujarnya.

Senada dengan itu, Arfial Arsad, salah satu pengajar tidak tetap di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengatakan, Sentot mampu memisahkan antara berkarya di dunia kerjanya sebagai desainer batik dan sebagai pelukis abstrak yang dia tekuni.

Sejumlah pengunjung sedang menghadiri pembukaan pameran Sentot T Raharjo di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Sejumlah pengunjung sedang menghadiri pembukaan pameran Sentot T Raharjo di Pendopo Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu (14/9/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Arfial tertarik dengan tema-tema yang diangkat Sentot dalam karya-karya lukisannya. Ini diketahuinya ketika Sentot sedang menyelesaikan tugas akhirnya sewaktu dirinya masih menjadi dosen pengajarnya.

Menurut Arfial Arsad, walaupun secara global adalah sama-sama seni rupa, tetapi banyak sekali pakem-pakemnya. Dalam seni lukis ada kebebasan berekspresi. Bahkan Arfial sempat heran karena Sentot mampu membagi waktu secara baik.

“Dalam perjalanannya, Sentot mulai mapan di dunia kerjanya. Ia mulai menyisihkan waktunya untuk kembali melukis dan aktif,” tutur pelukis yang sudah menetap dan tinggal di Solo selama 34 tahun ini.

Pameran tunggal ini merupakan hajatan ketiga kalinya setelah kali pertama pamerannya lalu pernah dibuka mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo. Pameran tunggal keduanya di Galeri Juang 45 Klaten.

“Saya dulu muridnya Pak Arfial, Admaji, dan Narsin, masing-masing memiliki karakter berbeda,” tutur Sentot di ruang pamer di Tembi.

Sentot mengaku, Yogyakarta merupakan magnet bagi penikmat seni. Bahkan dirinya lebih sering ke Yogyakarta karena di tempat lain belum seperti halnya di Kota Gudeg ini.

Satu hal yang sangat luar biasa di Yogyakarta, lanjut Arfial, di semua tempat: di kota, di pinggiran bahkan di pelosok kota ini, ada banyak pameran dan kegiatan seni budaya yang selalu direspon masyarakat, kolektor, dan pelaku seni.

“Bahkan ketika saya beberapa kali kembali ke Jogja suasana itu semakin hidup. Tetapi suasana seperti ini tidak saya rasakan di Solo. Apalagi jika saya bandingkan dengan di Medan, tempat kelahiran saya,” ujarnya.

Sementara, Owner Langit Artspace, Como Sriyono Hadiputro tidak menduga jika karya-karya Sentot memiliki tema yang berbeda dari kebanyakan pameran rupa yang ia temui. Inilah yang membuat Como mengoleksi karya-karya Sentot T Raharjo sebagai bentuk apresiasinya terhadap pameran ketiga ini. “Pameran ini luar biasa, menjadi semangat baru, bahkan sangat perlu diapresiasi,” jawab Como kepada Kabar Sumatera.

Baru belakangan ini setelah sekian lama, tambah Como, baru menemui karya lukisan dari seniman yang memiliki rasa yang berbeda. Bahkan dengan warna-warna cerahnya mampu memberikan spirit bagi yang melihatnya.

Como berharap dari Langit Artspace seniman-seniman Indonesia dapat menyusul jejak-jejak maestro Indonesia yang mendunia.  Sebab Langit Artspace hingga saat ini, sudah mengoleksi karya-karya seniman besar di Indonesia.

Pameran yang berlangsung 14 September – 5 Oktober 2016 dibuka oleh Como Sriyono Hadiputro (Langit Artspace) dan dikuratori Bonyong Munny Ardhie, menampilkan Untung Basuki (lagu puisi), Liek Suyanto (monolog), serta Pringgo Akustika.

TEKS : A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster