Mahasiswa Malaysia KKN di Yogyakarta, Margeret : Yogya Jadi Rujukan Seni Dunia

 690 total views,  2 views today

YOGYAKARTA | KSOL – Margeret, salah satu mahasiswa Universitas Malaysia Serawak (UNIMAS) tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika dirinya dan mahasiswa lainnya berkesempatan belajar seni di Yogyakarta selama 2 bulan.

“Ini merupakan pameran proses pembelajaran kami selama di Yogyakarta. Kami sangat senang bisa belajar di Yogyakarta,” ujarnya saat memberi sambutan mewakili 7 mahasiswa UNIMAS pada pembukaan pameran Arthusiasm 8-9 September 2016 di Rumah Komik Museum Dan Tanah Liat (MDTL) Bantul, Yogyakarta,Bantul, Yogyakarta, Kamis (8/9) malam.

Meski dengan bahasa melayu yang bercampur  bahasa Jawa dan Indonesia, namun Margeret mampu bertutur dengan baik. Dalam sambutannya, Margeret juga membandingkan iklim bersekesenian di negaranya dan di Indonesia.

“Bagi saya, Jogja tidak seperti Malaysia, Thailand atau Singapura. Di sini semakin hari seni semakin berkembang dengan pesat,” ujar Margeret.

Menurutnya, di Malaysia banyak perguruan seni, namun faktanya di negeri Jiran itu karya seni lebih dipengaruhi seniman eropa. “Menurut kami Jogja merupakan pusat seni yang bisa menjadi rujukan bagi perguruan atau lembaga seni di Malaysia. Bahkan kalau saya bicara seni, saya pikir  dunia bisa merujuk ke Jogja,” tambahnya.

Suasana pameran Arthusiasm di Rumah Komik Museum Dan Tanah Liat (MDTL) Bantul, Yogyakarta, Kamis (8/9) malam, dihadiri kalangan umum, pelaku seni dan mahasiswa. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Suasana pameran Arthusiasm di Rumah Komik Museum Dan Tanah Liat (MDTL) Bantul, Yogyakarta, Kamis (8/9) malam, dihadiri kalangan umum, pelaku seni dan mahasiswa. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Di mata Margeret, Yogyakarta merupakan kota seni rupa terbaik di Asia, dibanding di negaranya. “Jogja di Indonesia, merupakan tempat yang tepat untuk belajar seni bagi siapapun,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Margeret sempat heran mengapa masyarakat di Yogyakarta justru ingin menjadi seniman, ketimbang pekerja kantoran seperti ahli ekonomi, ahli matematika, atau bidang sains lainnya.

Kepada Kabar Sumatera, Margeret mengungkapkan ada perbedaan apresiasi seni di Malaysia dan Indonesia. Menurutnya, sebagian warga di Malaysia, lebih senang menjadi pekerja kantoran, ketimbang menjadi pekerja seni.

“Tapi ini berbeda dengan di Jogja. Hampir sebagian masyarakatnya ingin menjadi seniman. Di sini, masyarakatnya sangat apresiatif terhadap seni. Bagi kami, antusias warga terhadap seni di sini, merupakan pameran visual seni rupa, dan Arthusiasm ini adalah hasil proses belajar kami di sini selama dua bulan, mulai dari sketsa, nirmana, gambar bentuk dan wajah, juga foto,” ujarnya.

Ia berpesan kepada teman-teman dan mahasiswa di Malaysia dan luar Yogyakarta, bila ada kesempatan bersegeralah ke Yogyakarta untuk melihat karya seni yang luar biasa. Sebab, di Yogyakarta, seni semakin hari semakin berkembang.

“Saya rasa, Jogja bisa sebanding dengan seni di negara barat. Jogja sangat berbeda. Dan kalian harus melihat kegiatan pameran di sini. Kalian bisa belajar di Yogyakarta dengan banyak seniman,” tambahnya.

Kali itu, Margeret juga baru mengetahui tentang keberadaan Sanggarbambu yang sudah lahir sejak era Presiden kali pertama (Seokarno). “Bagi saya Sanggarbambu merupakan komunitas seniman yang aktif membuat acara untuk seni terhadap masyarakat. Tapi saya belum pernah tahu kalau Sanggarbambu sudah ada sejak Soekarno,”selorohnya sambil menutup ketawa kecilnya.

Secara akademik, mereka belajar seni. Namun di balik itu, mahasiswa KKN asal Malaysia ini, juga belajar tata krama, etika dan tradisi kesopanan (unggah-ungguh) dan tepo seliro (tenggang rasa) warga Yogyakarta.

Hati dan Pikiran

Sementara, Kepala Rumah Komik MDTL, Ugo Untoro dalam sambutan pembukaan pameran Arthusiasm 8-9 September 2016 di MDTL berharap, kiranya ketujuh mahasiswa-mahasiswi Universitas Malaysia Serawak (UNIMAS) dapat memanfaatkan ilmu visual dan tata kelola seni dengan baik di negaranya.

“Selama dua bulan sekolah singkat di Museum Dan Tanah Liat (MDTL) mereka belajar dasar-dasar visual art,” tutur pelukis Indonesia ini, usai pembukaan pameran Arthusiasm, Kamis (8/9) malam.

Menurut Ugo, belajar memang seumur hidup. Belajar adalah proses tak putus, dari yang didapat kemarin atau dulu. Tidak hanya kaki yang pergi atau menempuh, tapi juga hati dan pikiran.

Pegalaman menangkap sketsa bentuk, lanjut Ugo Untoro, juga atmosfer, indera, mendengar, mencium dan melihat, menjadi penting dalam pendidikan seni.

Mengapa mereka berpameran di MDTL dan tidak di tempat-tempat lain, Ugo menjelaskan karena MDTL juga merupakan bagian dari studi manajemen ketujuh mahasiswa UNIMAS.

Pada kesempatan yang sama, Kurator Arthusiasm, Hari Prajitno mengatakan dasar-dasar visual sangat dibutuhkan untuk mencapai hasil seni rupa yang berkualitas. “Mereka dari berbagai jurusan seni di UNIMAS sengaja datang ke Jogja untuk belajar visual secara menyeluruh,” tutur pelukis Hari Prajitno.

Diinfomasikan, Hari juga sempat kaget, sebelum akhirnya dapat berkomunikasi dengan Ugo Untoro. Meski sempat agak kebingungan terhadap kedatangan ketujuh mahasiswa dari Serawak Malaysia. Namun akhirnya pertemuan selama 2 bulan (meski tidak intens) untuk memberikan pembelajaran terhadap seni visual dapat berakhir dengan baik.

Hari bangga melihat ketujuh mahasiswa UNIMAS yang antusias terhadap ilmu visual yang diberikan. Meskipun dalam prosesnya, Hari mengaku agak kerepotan, karena di tengah kesibukan memberi materi 7 mahasiswa asal Malaysia ini, Hari juga harus melanjutkan studinya. Tapi mengaku, selalu punya banyak waktu untuk 7 mahasiswa UNIMAS.

Kepada mereka, Hari berpesan sekarang tidak jamannya seniman tidak disiplin. Namun sebaliknya, kedisiplinan juga harus dimiliki Sneiman. “Semoga ilmu yang diperoleh disini dapat ditularkan dan berguna di negaranya,” harapnya.

Kelompok Arthusiams itu terdiri : Mathavia, Yang Latifah Aminoor, Nuur Atikah, Leoplold Garett, Margeret Santi, Intan Liana Musa, dan Auni Zahidah, merupakan mahasiswa tahun ke tiga jurusan Seni Halus Universitas Malaysia Sarawak (UNIMAS). Mereka memiliki latar belakang berbeda, mulai dari fotografi, lukis, media campur dan keramik.

Saat pameran berlangsung, 2 band yang mengaku bergenre grunge: Eman-eman dan Babbity Rabbity, menghentakkan kaki membuat seisi rungpamer hingar-bingar.

Personil Eman-eman: JP (Guitar/vocal), May (Guitar) Dodi (Bass), dan Tanah Liat (Drum), sempat membawakan Radiohead. Sedangkan Babbity Rabbity yang di perkuat oleh JP (Drum/vocal), May (Bass), dan Pri (Guitar), membawakan lagu ciptaannya yang belum sempat di recording. May dan JP merupakan sempalan dari Adelita yang pernah malang-melintang di musik Indie sekitar tahun 1998.

TEKS : A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster