Utamakanlah Nilai, Bukan Berapa Bisa Kamu Menjual

 320 total views,  2 views today

Wawancara – A.S Adam (Wartawan KabarSumatera.com) di Yogyakarya dengan Kartika Dewi Affandi

TERLEPAS Kartika Affandi adalah keturunan Maestro Affandi, tetapi sejak masih anak-anak dirinya sudah terbiasa bermain dengan cat dan kanvas. Bahan masa mudanya selalu berprestasi. Kartika Affandi pernah mendapatkan penghargaan beasiswa dari Pemerintah Perancis pada tahun 1968.

Tahun 1980 dan 1983, Kartika Affandi yang merupakan Konservator Museum Affandi meraih “Gold Medal” dari Academica Italia, dan International Parliament for Security and Peace USA.

Tidak berhenti di situ saja. Setahun kemudian, tahun 1984, Kartika Affandi kembali mendapat beasiswa dari ICCROM. Bahkan meraih Master of Painter dari Youth of Asian Artist Workshop tahun 1985.  Outstanding Artist dari Mills College at Oakland California tak ketinggalan menganugerahi penghargaan pada tahun 1991.

2.Kartika Affandi, 80, di atas kursi roda sambil menikmati soto sapi buatan sendiri, berbincang dengan sejulah pelukis perempuan saat berlangsung melukis bersama di Rumah Kartika Affandi, di Pakem, Sleman Yogyakarta, Sabtu (3/9/2016) sore. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Kartika Affandi, (80 th) di atas kursi roda sambil menikmati soto sapi buatan sendiri, berbincang dengan sejulah pelukis perempuan saat berlangsung melukis bersama di Rumah Kartika Affandi, di Pakem, Sleman Yogyakarta, Sabtu (3/9/2016) sore. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Pelukis tersohor puteri Maestro Affandi ini memiliki kegemaran yang sama. Selain gemar melukis, Kartika Affandi dan Sang Ayah gemar mengunjungi tempat-tempat baru.

Ada kesamaan yang mirip di antara dua pelukis anak dan ayah ini. Keduanya sama-sama suka potret diri. Jika sang Mestro Affandi suka melukis dirinya, Kartika justru melukiskan sesuatu yang pernah dialaminya. Yang membedakan lukisan Kartika dan Sang Ayah, Maestro Affandi, adalah penderitaan kemanusiaan yang kerap dimunculkan Affandi dalam lukisannya. Sedangkan lukisan Kartika tidak. Namun Kartika tidak pernah diajarkan melukis komersil oleh Sang Maestro Affandi.

Kini Kartika Affandi menempati rumah sekaligus tempat pameran pribadinya di Pakem, Sleman Yogyakarta.

Bagaimana menurut Anda perkembangan lukisan di Indonesia belakangan ini?

Orang banyak mengambil jalan pintas untuk menjadi pelukis. Tiba-tiba banyak mengaku diri sebagai pelukis—abstrak. Padahal butuh proses panjang untuk bisa menjadi pelukis. Padahal dalam proses melukis itu sebenarnya justru malah menambah ilmu. Tapi memang tidak ada salahnya. Saya hanya menyayangkan saja.

Wawancara A.S Adam Wartawan KabarSumatera.com di Yogyakarta dengan Kartika Dewi Affandi, Sabtu (3/9/2016)

Wawancara A.S Adam Wartawan KabarSumatera.com di Yogyakarta dengan Kartika Dewi Affandi, Sabtu (3/9/2016)

Menurut Anda bagaimana perkembangan karya lukisan di Indonesia dibanding di luar negeri?

Bicara soal nilai, jangan main-main menyamakan diri kita dengan yang di barat karena di barat yang lebih dahulu daripada kita. Ya sudahlah. Apa ya cuman keuntungannya sekarang apa-apa ada. Berbeda dengan jaman pak Affandi, sangat sulit bisa mendapatkan bahan untuk melukis. Anak-anak jaman sekarang seharusnya mampu melebihi bapak-bapak kita dahulu. Jaman dulu mana ada informasi seperti sekarang ini yang sangat mudah didapat? Bahkan pak Affandi sampai-sampai pernah melukis di atas kertas karena sangking sulitnya situasi waktu itu.

Di Indonesia, apa dampak karya lukisan terhadap sosial masyarakat kita?

Agak susah untuk menjawab. Karena sekarang istilahnya bukan menilai daripada seni itu sendiri, tetapi apa sih sekarang yang lagi tren? Sekarang kita harus melihat diri kita sendiri. Banyak yang justru mengikuti tren.

Saat ini sudah ada berapa karya lukisan sejak kali pertama mulai melukis?

50 tahun yang lalu saya sudah menghasilkan minimum 800 karya. Saya lahir tahun 1934. Sekarang umur saya sudah 80 tahun. Saya tidak ingat berapa banyak lukisan yang sudah di luar negeri. Bagi saya jumlah lukisan itu tidak penting. Tetapi saya merasa bahagia bisa membahagiakan orang lain. Salah satunya adalah membantu pendidikan terhadap anak-anak. Saya lebih bahagia memiliki teman banyak daripada hasil karya-karya yang saya keluarkan. Bayangkan saja, seorang Van Gogh—pelukis yang terkenal itu—selama hidupnya, lukisannya tidak pernah laku. Kenapa saya harus bingung dengan lukisan saya?

Baru-baru ini di Belanda, tepatnya dua bulan lalu, saya membuat workshop bagi orang-orang yang dianggap gila. Saya tidak bangga punya rumah di mana-mana. Belum lagi harus bayar pajak seabrek-abrek rumah. Untuk apa semua itu?

Wawancara A.S Adam Wartawan KabarSumatera.com dengan Kartika Dewi Affandi

Wawancara A.S Adam Wartawan KabarSumatera.com dengan Kartika Dewi Affandi

Mengapa memilih tinggal tak jauh dari Gunung Merapi (di atas) daripada Kota (di bawah)?

Saya merasa plong tinggal dan menetap di sini. Di sini gak sumuk mas, hanya di Kota saja yang terasa sumuk, bising dan sumpek hahaha… Di sini rak rasane ucul kabeh…

Sejak usia 5 tahun, saya hidup di tengah sawah karena bapak hanya mampu bertempat tinggal di sawah. Waktu itu di sekitaran Bandung. Tahun 1939 pindah ke Bali selama 2 tahun. Lalu kembali lagi ke jawa. Dan setelah diberi tempat tinggal oleh Presiden Soekarno, hidup terbilang nggenah (mapan). Tinggal di rumah bekas bangunan Belanda yang ditinggal penghuninya. Itu waktu di Jakarta. Dan menetap tinggal di Jogja karena Jogja pada waktu itu menjadi Ibu Kota Negara. Karena Presiden Soekarno pindah ke Jogja, kami pun lantas diikutsertakan pindah ke Jogja.

Saya senang tinggal di kampong desa karena masyarakatnya rukun. Di sini masih ada jimpitan, gotong-royong, dan tepo selironya tinggi. Jika sedang ada ewuh saya datang hanya membawa sebuah pisau untuk mengiris-iris bawang. Saya juga kerap diundang oleh para petani di kampong ini. Di sana saya melukis, dan lukisannya saya hadiahkan secara acak. Jika ada yang berhak mendapatkannya, saya memberikan lukisan itu sambil berpesan: “Pak ini bisa untuk munggah kaji.”

Seluruh pohon di rumah ini saya tanam sendiri. Bahkan saya juga merancang seluruh tempat ini seluas 1 hektar. Saya tinggal di sini sejak tahun 80-an.

Menurut Anda mengapa Soekarno menyukai lukisan Affandi?

Kata Soekaro begini: “Aku suka gambar Affandi, tetapi tidak untuk pajangan di ruang makan atau di ruang tamu. Karena Affandi selalu menggambar kemelaratan dan kesedihan kere-kere. Ini terjadi pada jaman perang. (sesaat perbincangan terputusbeberapa detik. Kartika Affandi kemudian menawarkan kopi hitam panas pada saya).

Untuk mendapatkan pakaian saja susah. Bahkan Ibu saya mengenakan pakaian berbahan karet, karena waktu itu tidak ada yang memproduksi pakaian berbahan kapuk. Bahkan bisa makan sehari sekali saja sudah beruntung. Sukarno lebih suka gambar yang indah. “Aku suka gambar Affandi tapi tidak untuk dilihat sehari-hari,” ujar Sukarno. Pesan Kartika Affandi: utamakanlah nilai bukan seberapa bisa kamu menjual.**

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster