Perupa Muda Indonesia Kuasai Pameran FKY 28

 398 total views,  4 views today

YOGYAKARTA | KSOL—Sejumah seniman muda berusia di bawah 30 tahun dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jogja, Bandung, Jakarta, Palembang, Padang, Bali dan Surabaya, serta puluhan seniman tamu undangan terlibat dalam pameran Festival Kesenian Yogyakarta ke-28, yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 29 Agustus – 5 September 2016.

4.Sejumlah pengujung Paperu FKY 28 antre mengisi buku tamu di pintu masuk ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (31/8/2016) malam. KABAR SUMATERA/ADAM

Sejumlah pengujung Paperu FKY 28 antre mengisi buku tamu di pintu masuk ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (31/8/2016) malam. FOTO.DOK.KSOL/ADAM

Bertajuk (ng)impi(an), rangkaian Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-28 tidak hanya menyajikan pameran seni rupa, namun juga menggelar bursa seni, lokakarya, dan diskusi seni, serta pasar seni di Taman Kuliner Condong Catur Sleman Yogyakarta.

“Tantangan yang paling berat bagi kami adalah mengembalikan FKY seperti tahun 90-an lalu,” tutur Kurator Paperu Hendra Himawan kepada Kabar Sumatera saat disinggung mengapa harus surialisme, Kamis (1/9/2016) siang, di TBY.

Dari 245 karya seniman yang lolos seleksi hanya 75 karya di Pameran Perupa Muda (Paperu) FKY 28. Untuk dapat memilih karya sesuai kriteria, Hendra mengaku kesulitan, ia butuh keseriusan dan kejelian.

Hendra sempat bingung terhadap karya Lugas Syllabus: “Di sini banyak monster”, akrilik di atas fiber gelas, alumunium metal, salah satu karya seniman muda asal Palembang yang kini tinggal di Kasongan Bantul Yogyakarta itu tidak seperti biasanya. Ia mengkritik sekaligus mengagumi karya Lugas yang terasa ganjil namun menarik.

5.Sebelum menikmati karya seniman-seniman muda Indonesia, para pengunjung dapat mengetahui tema pameran FKY 28 melalui tulisan besar yang di pasang tepat setelah pintu masuk. KABAR SUMATERA/ADAM

Sebelum menikmati karya seniman-seniman muda Indonesia, para pengunjung dapat mengetahui tema pameran FKY 28 melalui tulisan besar yang di pasang tepat setelah pintu masuk. FOTO : DOK.KS/KSOL/ADAM

“Banyak galery tumbuh tetapi hanya menghidupi rumahnya bukan mengolah senimannya,” tambah Hendra. “Ketika senimannya sudah turun justru ditendang.”

Dirinya juga menyayangkan pemisahan-pemisahan karya seni yang dipamerkan. Munculnya ArtJog dan Binale, seharusnya justru menjadi ruang bagi seniman, bukan justru melulu soal market. Hendra juga mengritisi TBY yang terkesan tidak terawat secara serius jika memang ada dana khusus yang dialokasikan untuk Seni dan Budaya.

Heri Dono salah satu seniman dalam sejarah surialisme di Indonesia menjadi tamu kehormatan pameran Paperu FKY 28. Karyanya berjudul “Jumping to the Ocean” dan “Avoid the War”, lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 125 cm, menyita perhatian pengunjung. Ia menyampaikan pesan perdamaian melalui karyanya bahwa kita sedang berhadapan dengan masa depan.

Berlatar belakang karya seniman asal Palembang, Lugas Syllabus: “Di sini banyak monster”, sejumlah siswa-siswi lembaga budaya asing mengikuti studi singkat dari kurator Paperu FKY 28, Hendra Himawan, Kamis (1/9/2016) siang. KABAR SUMATERA/ADAM

Berlatar belakang karya seniman asal Palembang, Lugas Syllabus: “Di sini banyak monster”, sejumlah siswa-siswi lembaga budaya asing mengikuti studi singkat dari kurator Paperu FKY 28, Hendra Himawan, Kamis (1/9/2016) siang. FOTO : DOK.KSOL/ADAM

Koordinator Paperu FKY 28, Arsita Pindandita mengatakan, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) merupakan acara tertua di Yogyakarta, yang pada peristiwa besar ini berupaya mengembalikan semangat seni rupa FKY. Dan tema besar FKY 28, yakni “Masa Depan, Hari Ini Dulu”.

Ia mengaku tidak melulu menonjolkan seni rupa meski pada FKY sebelumnya lebih sering menyuguhkan event-event pasar seni dan pertunjukan.

“Yogyakarta masa lalu adalah surialisme. Jika Bandung lebih kuat konsepnya, Jakarta lebih kuat dengan dekoratifnya, Yogyakarta kuat dengan skil dan surialismenya,” terang Arsita Pindandita akrab disapa Dito.

3.Sejumlah pengunjung mancanegara justru mendominasi di ruang pamer di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) FKY 28, Kamis (1/9/2016) siang. KABAR SUMATERA/ADAM

Sejumlah pengunjung mancanegara justru mendominasi di ruang pamer di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) FKY 28, Kamis (1/9/2016) siang. FOTO : DOK.KSOL/ADAM

Tahun 2013 lalu, tambah Dito, pernah mengganti pameran menjadi acara masak-memasak yang dilakukan oleh perupa. Tema-tema seperti Rekreasi, Dodolan dolan, Edan-edan dandan, dan kini adalah Masa Depan, Hari Ini Dulu, merupakan tema-tema FKY yang muncul sejak 2013, sejak kepengurusan FKY dipegang oleh yang muda-muda.

Dari pantauan kabarsumatera.com, terlepas dari semakin atau tidak berkembangnya gagasan kreatif, Yogyakarta yang diwakili Heri Dono merupakan kekuatan surialisme yang cocok untuk membicarakan hari ini.

TEKS: A.S. ADAM | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster