Mukti : Buruh Partner Pemerintah. Kami Tidak Pernah Melihat dengan Sebelah Mata

 234 total views,  2 views today

PALEMBANG, KSOL – Pada peringatan Hari Buruh 1 Mei tahun ini, Konferensi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) menggelar perayaan HUT KSBSI dan Hari Buruh se-Dunia di Halaman Gedung DPRD Sumsel, Minggu (1/5/20/16).

Pada kesempatan itu, Mukti Sulaiman, Sekda Pemprov Sumsel mengatakan pihaknya tidak pernah menilai buruh sebelah mata. Bahkan menurut Mukti Pemprov Sumsel memosisikan buruh sebgaai partner dalam membangun Sumsel.

“Oleh sebab itu, kalau terjadi masalah pada buruh, silakan menggelar dialog dengan pemerintah provinsi. Tujuannya agar bersama-sama menyelesaikan masalah,” ujar Mukti sembari menegaskan agar perusahaan memenuhi kebutuhan buruhnya, terutama terkait dengan upah minimum provinsi (UMP).

Pada kesempatan itu, Mukti juga menegaskan di Sumsel tidak akan ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal terhadap para pekerja. Bahkan Sulaiman menyebut, sedikitnya telah disediakan 12 paket kebijakan untuk mendukung kesejahteraan para buruh.

Guna mengatasi kemungkinan PHK massal, Mukti menyebut pihaknya telah menyiapkan 12 paket kebijakan yang disiapkan. Diantaranya mempermudah proses perizinan yang harus cepat dan tepat. Selain itu, menurut Mukti, perlunya memberi keyakinan dan jaminan keamanan pada investor yang akan berinvestasi di Sumsel.

“Insya Allah, tidak akan terjadi PHK massal di Sumsel. Pak Gubernur juga sudah mewanti-wanti agar tidak sampai ada PHK,” tegasnya.

Namun demikian, tak dapat dipungkiri, Mukti juga khawatir jika di Sumsel akan terjadi PHK massal. Masalahnya, Mukti sangat mengetahui kondisi perekonomian global juga sedang memburuk. Hal ini yang kemudian membuat Mukti merasa was-was kalau sampai terjadi PHK massal di Sumsel.

“Tapi  kalau bagi pekerja yang bandel, nakal, tidak disiplin, atau terkena kasus narkoba, itu sah-sah saja,” tegas Mukti.

Mukti, kali itu juga mengutip pernyataan Presiden RI, Joko Widodo. Seperti dikatakan Mukti, saat ini pemerintah pusat sudah menyediakan Rp 5.000 triliun selama lima tahun untuk meningkatkan infrastruktur. Tujuannya, apabila infrastruktur bagus tentunya akan berdampak pada biaya produksi sebuah perusahaan lebih murah.

“Di samping itu, hilirisasi apakah itu sawit, kopi, dan karet yang dijadikan alternatif aspal. Di Sumsel ini ada 640 perusahaan, 4000 UKM, dan 2000 menengah ke atas. Jumlah buruh kita mencapai 230 ribu lebih, mudah-mudahan dengan begitu banyaknya perusahaan bisa mengatasi permasalahan buruh di Sumsel,” kata Mukti.

Sementara, Koordinator Wilayah KSBSI, Ali Hanafiah mengungkapkan, peringatan Hari Buruh 1 Mei merupakan hari bersejarah bagi para buruh di dunia. Terlebih, kesejahteraan buruh di Indonesia saat ini terbilang jauh dari kata sejahtera. Ali berharap, pada Hari Buruh ini hendaknya kesejahteraan buruh akan meningkat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel, Sumarjono Saragih, mengatakan saat ini upah pekerja di Sumsel paling tinggi di Pulau Sumatera. Menurutnya, hal ini harus disyukuri oleh para buruh di Sumsel. “Bahkan kita berada di peringkat ke delapan dunia,” kata Sumarjono.

TEKS : T PAMUNGKAS
EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster