ISLAM DAN PERJUANGAN RA. KARTINI

 629 total views,  2 views today

252692_103985653079048_514398290_n

Oleh : Marlina Ratna Sari, S.Ag, Guru SDN 13 Banyuasin, Mahasiswa Pascasarjana UIN RF Palembang

Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujuurat : 13).

Berangkat dari ayat di atas jelaslah bagi kita bahwa Allah swt dengan penuh kasih sayang-Nya ingin menyentuh hati nurani dan menyadarkan seluruh ummat manusia bahwa Allah swt telah menciptakan manusia dengan berbagai potensi yang ada untuk memaksimalkan fungsi kekhalifaanya di muka bumi.Berbagai potensi yang diberikan Allah swt dengan porsi yang sama serta fungsi yang berbeda dalam konteks untuk menjaga keseimbangan dan kemuliaan manusia itu sendiri.

Fenomena yang terjadi begitu banyak komunitas yang menamakan dirinya sebagai pejuang Emansipasi wanita yang menyuarakan dan menuntut persamaan hak antara kaum laki-laki dan perempuan.

Di Indonesia salah satu wanita yang dianggap sebagian orang sebagai  pejuang emansipasi wanita adalah  RA Kartini, namun pada kenyataannya apabila kita kaji ulang sejarah, biografi dan surat-surat yang pernah di kirimkan Kartini pada teman-temannya di Belanda terdapat indikasi kesalahan dalam memaknai perjuangan RA.Kartini.

Dari surat-surat yang berhasil dikumpulkan oleh Abendanon yang sekarang kita kenal dengan buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang dapat kita telusuri pemikiran dan cita-cita Kartini bagi kemajuan kaumnya.

beritapaytrenDalam surat-suratnya tergambar kegelisahannya yang berangkat dari persoalan budaya masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda yang melarang kaum perempuan berpendidikan tinggi. Kartini sendiri yang berdarah bangsawan hanya sempat mengenyam pendidikan sampai tingkat dasar, menurut tradisi masyarakat Jawa apabila memasuki usia 12 tahun anak perempuan harus dipingit di dalam rumah sampai waktunya menemukan jodoh.

Pada fase selanjutnya, setelah RA. Kartini menikah ternyata ia mendapat suami yang mengerti dan memahami cita-citanya. Ia dibuatkan sekolah khusus untuk kaum perempuan, beliau mendidik kaum perempuan sampai akhir hayatnya.

Dari sejarah singkat RA. Kartini di atas dapat dipahami bahwa tujuan RA. Kartini hanya satu yaitu ingin mencerdaskan kaum perempuan, karena mendapatkan pendidikan adalah  hak bagi setiap manusia dalam rangka mengoptimalkan fungsi kehkhalifaannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah : “menuntut ilmu wajib bagi muslim” hadits ini bersifat umum yang maksudnya bagi muslim dan muslimah.

Pendidikan sangat diperlukan bagi kaum perempuan, karena perempuan adalah pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga. Perempuan dalam hal ini ibu merupakan pondasi dasar bagi pembentukan pribadi-pribadi yang tangguh dan paripurna dalam menghadapi tantangan hidup dan kehidupan yang kian mengglobal, dan itu akan sulit dicapai jika ibu tidak memiliki ilmu pengetahuan.

Kita terkadang berlebihan dalam memaknai cita-cita RA. Kartini, sehingga pada akhirnya sering dimanfaatkan oleh kaum orientalis yang mengatasnamakan feminisme untuk ramai-ramai meneriakkan dan meminta persamaan hak (gender) padahal Islam dengan bahasa universalnya telah menegaskan bahwa  semua manusia sama yang membedakannya disisi Allah adalah nilai “Taqwa” (QS al Hujarat ayat 13).

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin tidak pernah menghalang-halangi kaum perempuan berkarier, selama karier tersebut bermanfaat bagi kemuliaan ummat dan tanpa menodai kemulian dirinya sendiri..

Berkarier dan beraktifitas dengan mempertontonkan aurat, bergaul sesukanya dengan lawan jenis atau melalaikan keluarga demi mengejar karier, bukankah itu justru telah menjatuhkan harkat martabat serta kemulian kaum perempuan itu sendiri. Padahal Allah swt telah memperingatkan manusia dalam firmanNya surah at tiin ayat 4-5, yang artinya: “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).

Kartini atau siapapun yang mengatasnamakan dirinya pejuang kaum perempuan terlepas dari mereka semua, bukankah kita umat Islam memiliki tauladan yang jelas kepribadiannya seperti istrinya Rasulullah Khadijah ra, beliau selain sebagai istri juga sebagai pedagang sukses, kesibukannya berniaga tidak mengurangi perhatiannya dalam  mendampingi dan mendukung perjuangan Rasulullah di Mekah.

Aishyah ra, sepeninggal Khadijah ra selain mendampingi Rasulullah beliaupun telah berjasa dalam meriwatkan banyak hadits dan ia terkenal sebagai salah satu perempuan yang cerdas.

Oleh karena itu ada beberapa kiat bagi perempuan agar dapat mengembalikan eksistensi dirinya di tengah masyarakat yaitu : (1). Menjadikan Al-Quran dan Hadits Rasulullah sebagai satu-satunya pedoman hidup yang akan menuntun dirinya dalam memahami peran dan fungsinya. (2). Memahami bahwa dirinya adalah bagian dari hamba Allah yang mempunyai kewajiban yang sama untuk mengisi diri dengan muatan-muatan positif berupa ilmu pengetahuan. (3). Menyadari bahwa selain tanggung jawab sosial ada satu tanggung jawab yang lebih utama sebagai skala prioritas yaitu mencerdaskan generasi ummat. (4). Karier merupakan bukti eksistensi diri sebagai bagian dari fungsi sosial yang idealnya mampu memuliakan dirinya bukan justru menodai kemuliaannya.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster