Harga Karet Rendah Karena Ulah Petani Sendiri

 409 total views,  2 views today

PALI, KSOL – Menurunnya harga karet selama ini banyak dikeluhkan petani. Namun tak disangka, rendahnya harga karet justru diakibatkan dari ulah para petani. Hal itu diungkapkan Heri Amalindo, Bupati PALI, ketima membuka Festival Seni Islam di Talang Ubi, belum lama ini (22/3/2016).

Penemuan itu, hasil pertemuan Heri Amalindo dengan para bupati dengan para pemilik pabrik karet. “Beberapa waktu lalu kami para bupati dan pemilik pabrik karet sempat dikumpulkan‎ gubernur untuk membahas permasalahan ini,” ujarnya.

Dalam pertemuan terungkap, penyebab rendahnya harga karet karena ulah petani sendiri. Pemilik pabrik karet enggan menghargai karet dengan harga tinggi karena kebiasaan petani untuk mencampur getah karet dengan tatal kulit kayu, sagu, batu dan bahan-bahan lain. Kebiasaan buruk ini dilakukan masyarakat agar bisa menambah berat bobot karet yang dijual.

Heri memastikan, bila masyarakat mau meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, harga karet akan meningkat dengan sendirinya. Karena karet berkualitas akan dihargai tinggi.

“Kebiasaan buruk inilah yang perlu kita ubah‎. Bagaimana mau menuju Pali Cemerlang Sumsel Gemilang kalau menjual karet bercampur sagu” ujarnya disambut gelak hadirin.

Harga komoditas karet di tingkat petani karet di wilayah PALI saat ini hanya Rp 4000/kg. Dibandingkan dengan daerah lain, harga ini tergolong rendah. Karena ada beberapa daerah bisa mencapai harga Rp 9000/kg. Perbedaan harga yang sangat besar ini menjadi perhatian serius Bupati PALI Heri Amalindo. Bukan sekedar perhatian biasa, Heri bahkan menelusuri lebih jauh penyebab marjin harga yang begitu jauh. “Sebab setahu saya sagu itu untuk bahan membuat pempek, bukan bahan bikin getah karet,” tambahnya.

Heri meminta agar masyarakat PALI untuk membiasakan menjual barang-barang bermutu. Baik hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan sebagainya. Karena menghadapi era persaingan ketat seperti MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), produk yang dihasilkan harus bermutu agar bisa bersaing dengan produk luar negeri.

“Kalau setiap usaha yang dilakoni mengutamakan kualitas, maka dengan sendirinya akan mengharumkan nama ‎kabupaten kita. Kalau bisa setiap orang menyebut nama PALI, orang akan langsung ingat bahwa produknya pasti bermutu dan mahal. Begitu juga dengan karet. Kalau bisa kita terkenal dengan produk karet bermutu dan bersih, sehingga bisa menghasilkan harga yang tinggi,” tambah Heri.

Selain itu, Heri juga memastikan bahwa pembangunan pabrik tapioka akan segera terealisasi dalam waktu dekat. Pembangunan pabrik ini menurut Heri merupakan langkah cepat pemkab PALI untuk meningkatkan pendapatan petani yang mengalami guncangan akibat penurunan harga karet.

“Masyarakat yang sudah mencoba menanam Ubi racun akan diberikan tempat pemasarannya. Makanya kita undang investor untuk membangun pabrik tapioka. Sehingga tidak susah lagi menjual hasilnua” ungkap Heri.

TEKS : T PAMUNGKAS
EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster