Belajar pintar Supaya bisa jadi bupati. Cerita Heri Amalindo Diwawancarai Anak Sekolah

 536 total views,  2 views today

PALI, KSOL – Ternyata bukan hanya wartawan yang pandai mengorek informasi dari seorang pejabat sekelas bupati. Anak-anak sekolah menengah pun bisa. Tak ubahnya wartawan profesional, tiga redaktur majalah Smandalan mewawancarai ‎Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) di ruang kerja Pemkab PALI, Rabu (16/3).

Ketiga siswa itu adalah ‎Winy Antika, dodi arya, dan roy sandi didampingi guru Pembina Dewi‎ Mardaleni SPd. Kedatangan ketiga siswa itu dalam rangka wawancara eksklusif untuk penerbitan majalah sekolah.

Meskipun pertemuan dilaksanakan dalam agenda formal, namun berlangsung cair dan akrab. Pembicaraan lebih kepada suasana keakraban seperti orang tua dan anak. “Bapak terkenal pintar, bagaimana sih cara bapak belajar‎ waktu sekolah dulu” tanya Roy Sandi.

Bupati PALI Her Amalindo berf bersama para siswa saat mereka berhasil mewancarai orang nomor satu di PALI

Bupati PALI Her Amalindo berf bersama para siswa saat mereka berhasil mewancarai orang nomor satu di PALI

Mendapat pertanyaan seperti itu, Heri mengaku pada dasarnya sama dengan cara belajar siswa kebanyakan. Namun cara belajar Heri lebih menyesuaikan dengan mata pelajaran yang akan dipelajari.‎

“Kita sesuaikan dengan pelajarannya. Kalau pelajaran ilmu sosial, kita harus lebih banyak membaca. Termasuk membaca bahan-bahan lain seperti majalah, koran atau buku-buku yang berhubungan dengan itu. Kalau pelajaran matematika kita harus banyak berlatih,” jelas Heri.

Menurut Heri, pada dasarnya sebelum belajar anak-anak harus menyenangi dulu mata pelajarannya. Dengan menyukai dan menyenangi akan memudahkan dalam menyerap pelajaran.

“Kalau matematika‎ malah lebih mudah. Kalau kita sudah tahu dasarnya maka soal bagaimanapun akan lebih mudah. Biar soalnya dibalik bagaimanapun, tetap akan mudah menjawabnya,” tambah Heri.

Heri mengaku dalam belajar, dirinya lebih memilih waktu belajar saat dinihari tiba. Ia belajar pada saat teman-temannya sudah tidur. “Saya menyukai belajar saat hening sekita pukul 2.00 sampai subuh seusai sholat tahajud. Karena suasananya lebih tenang. Tapi tiap orang tentunya berbeda-beda, ada teman saya kalau belajar sambil mendengarkan radio. Jadi sesuaikan dengan keinginan hati” terang mantan kepala dinas PU propinsi Sumsel itu.

Bahkan Heri mendorong para siswa untuk jangan mudah menyerah menghadapi kesulitan. Harus tetap berusaha sampai tujuan dalam belajar dapat tercapai.

“Kita bisa mencontoh Thomas Alfa Edison penemu lampu listrik. Thomas melakukan percobaan sedikitnya 23 kali sebelum berhasil. Coba bayangkan kalau percobaan baru 22 kali dia menyerah. Kita tidak bisa menikmati lampu listrik,” ujar Heri.

Untuk diketahui, Majalah Smandalan‎ adalah penerbitan internal SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi. Majalah yang terbit setiap tiga bulan sekali ini dikelola langsung oleh siswa yang tergabung dalam Ekskul jurnalistik sekolah.

“Sebagai wadah penyaluran bakat menulis para siswa. Kita harapkan para siswa lebih mengenal dunia jurnalistik dan dapat mengembangkan bakat menulis melalui penerbitan media ini” ujar guru pembina Dewi Mardaleni‎, yang juga mantan wartawati Harian Transparan.

TEKS  / EDITOR : T PAMUNGKAS

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster