Alat Berat Tambang Dekati Pemukiman, Warga Bukit Munggu Dirikan Posko

 392 total views,  2 views today

TANJUNG ENIM, KSOL – Puluhan warga  yang berada di lingkungan Bukit Munggu RT 03 RW 05 Kelurahan Pasar Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim mulai resah. Akibat, adanya aktivitas penambangan yang sudah mulai mendekati pemukiman mereka, yang dilakukan oleh pihak PT Bukit Asam (persero) Tbk.

Keresahan warga bukan tanpa alasan, mereka takut dampak dari adanya kegiatan tambang akan berakibat terjadinya tanah longsor dan mengenai rumah-rumah mereka yang hanya berjarak sekitar 30 -100 meter dari lokasi tambang.

IMG_20160317_135852

Area Tambang yang mengancam kawasan Bukit Munggu

Westi Mahendra (50), Koordinator Komitmen 27 (K27), Mewakili warga Bukit Munggu, Sedang di Wawancara sejumlah awak media.

Westi Mahendra (50), Koordinator Komitmen 27 (K27), Mewakili warga Bukit Munggu, Sedang di Wawancara sejumlah awak media.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sejumlah warga dari berbagai usia mulai dari orang tua, remaja, ibu-ibu dan bahkan anak-anak terpaksa melakukan penjagaan dan membuat posko serta dapur umum di lokasi rawan tersebut.

Mereka  takut terjadi longsor mengingat dari sebagian tanah sudah ada yang mulai longsor. Warga setempat pun kompak melarang adanya kegiatan operasi alat berat demi melindungi pemukimannya, Karena hingga saat ini di kawasan tersebut belum seluruhnya dibebaskan oleh pihak PT Bukit Asam.

“Ya sudah sangat dekat sekali pak, berjarak 100 meter dan kadang alat berat tersebut beroperasi mendekat hingga berjarak 30 meter  dari pemukiman warga. Jadi terpaksa mereka kami usir agar tidak terus menggali tanah di belakang rumah kami ini. Kami takut pak, rumah kami ini bisa longsor dan membahayakan jiwa,”kata Fatah Yasin (46), kepada Reporter RGBA FM, belum lama ini, (17/3/16).

Dikatakannya, kegiatan operasi penambangan sudah semakin dekat berkisar dari pemukiman warganya, Dengan kedalaman yang sudah di keruk oleh alat berat sekitar 15 meter. Menurutnya, warga setempat sudah sangat resah dan takut dengan adanya kegiatan penambangan yang ada di sekitarnya.

“Contohnya kalo malam hari dan cuaca hujan, kami takut pak. Warga juga resah takut tanahnya longsor, karena kalau alat berat sedang operasi, getarannya sampai terasa dari rumah,” ungkapnya.

Pertanyakan Dampak Lingkungan

Sedangkan,Westi Mahendra (50), Koordinator Komitmen 27 (K27) yang mewakili dari masyarakat Bukit Munggu dan Bedeng Kresek mengatakan, ia bersama warga terpaksa bertahan dan menduduki lahan itu mulai hari ini.

Karena menurutnya, jarak antara kegiatan pertambangan dengan pemukiman sudah tidak sesuai ketentuan lagi. Bahkan saat ini sudah sangat dekat dan meresahkan. Pihaknya meminta kepada PTBA untuk menghentikan sementara kegiatan operasinya yang ada di RT 03 RW 05 Bukit Munggu tersebut.

“Jelas ini merupakan tekanan dari pihak PTBA, supaya negosiasi lebih cepat, padahal belum semuanya selesai. Seolah-olah masyarakat ini di uber-uber di takuti dengan ado nyo ini. Dio ini aku perhatike, siang di usir tapi slep mato, malam-malam sekitar jam 2-3 begerak, di kironyo kami ini bange dak tau,” terang Westi dengan mimik serius.

‎Ia menambahkan, Jarak tambang sudah sangat dekat, berkisar 30 hingga 100 meter, hingga tidak sesuai lagi dengan ketentuan dalam undang-undang yang harusnya 500 meter dari pemukiman. Warga juga meminta PTBA untuk menghentikan dulu kegiatannya di RT 03 Bukit Munggu ini. Karena tanah yang mereka gali sudah mulai longsor, dan warga takut akan mengenai pemukiman mereka.

“Coba mereka lihat dalam undang-undang lingkungan? Dan liat keadaan saat ini, itu sudah berat. ‎Jadi aku minta kepada pihak BLH Muaraenim dan pihak terkait, untuk segera mengecek ke lapangan. Karena kita liat ini amdalnya sudah bermasalah, mana debu bertebaran,”jelasnya.

Westipun berharap dan minta kepada pihak PTBA untuk menyelesaikan faktor dampak lingkungan terlebih dahulu, seperti longsor dan debu karena menyangkut jiwa dan kesehatan warga sekitar dan mengharapkan kepada pihak terkait untuk menyetop dan menutup penambangan ini, sampai masalah benar‎-benar selesai antara warga dan pihak PTBA.

Sementara itu, ketika Reporter RGBA FM dan sejumlah awak media akan melakukan konfirmasi kepada pihak manajemen PTBA, General Manager (GM) Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE) Suhedi sedang tidak ada dikantornya. Menurut informasi sedang berada di Jakarta. “Pak GM berangkat ke Jakarta. Kalau pagi tadi ada,” ujar salah satu sekuriti perusahaan.

TEKS / FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM TANJUNG ENIM
EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster