Dua Wartawan Palembang Dirikan Sekolah Menulis dan Ngomong

 387 total views,  4 views today

PALEMBANG, KSOL – Siapa bilang menulis itu sulit? Buktinya dalam keseharian ratusan ribu media cetak, elektronik dan online berhambur menulis kata-kata. Ini menandakan menulis itu mudah. Bukan hanya setiap jam, tapi setiap detik. Masalahnya adalah bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Begitulah ungkapan yang terlontar dari Imron Supriyadi, Jurnalis KabarSumatera.Com menjelaskan pentingnya dibukanya Sekolah Menulis dan Kelas Public Speaking (KPS).

Menyeimbangkan 3O

Menurut cerpenis di Palembang ini, bila masih ada orang yang mengatakan menulis itu sulit, persoalannya bukan karena sulit, tetapi karena dia tidak pernah memulai. Hal ini disampaikan ayah dari tiga anak ini sebagaimana pengalamnnya ketika mulai karirnya di Hariaun Pagi Sumatera Ekspres tahun 1995-1997. “Dulu saya hanya berbekal dari jurnalis kampus, kemudian banyak belajar di Sumeks dan di beberapa media lain. Kalau belajar ngomong di Radio Smart FM. Makanya dengan sekolah ini kita coba menyeimbangan kerja otak, omong dan otot (3O), ya itu tadi, menulis itu otak, kemudian mau melakukan secara fisik itu otot dan omong ya oral melalui publlic speaking,” ujarnya, belum lama ini.

Suasana Belajar di Sekolah Jurnalistik Ponpes Al-Badar

Para Santri Ponpes Mahasiswa Al-Badar sedang ikut Belajar di Sekolah Jurnalistik Ponpes Al-Badar. menyiapkan jurnalis untuk menerbitkan Majalah

12540682_1093880297291105_3084966364025578834_n

Suasana Belajar di Sekolah Jurnalistik Ponpes Al-Badar

Terkhusus belajar bicara, dalam Kelas Public Speaking (KPS) yang bernaung dalam Kopi Hitam Management (KHM) Palembang ini, Imron berkerjasama dengan eks Reporter Radio Smart FM Palembang, Darwin Syarkowi, yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang.

Menurut penulis buku “Revolusi Hati untuk Negeri” ini, kehadiran seorang jurnalis radio di sekolah ini sangat penting. Sebab, nantinya dalam KPS, para siswa akan diajari bagaimana bicara yang baik, bagaimana mengondisikan audience dan lainnya. “Seorang jurnalis saya pikir harus punya public speaking yang baik. Sebab gaya bicara, juga akan mencerminkan isi otak sang jurnalis. Jurnalis itu otaknya profesor dan fisiknya infantri. Otak cerdas, otot kuat dan omongnya juga bagus, nah untuk belajar ngomong yang baik nanti Bung Darwin yang akan menjadi salah satu mentornya,” ujar mantan Kontributor KBR 68 Utan Kayu Jakarta ini.

Menulis Skenario Film

Lebnih lanjut, Mantan Ketua AJI Palembang ini juga menjelaskan, sekolah menulis bukan hanya dalam konteks jurnalistik, tetapi juga menulis skenario drama, sinteron dan film. Sebab di lembaga yang dipimpinnya sekarang, menurut Imron ada beberapa seniman Palembang yang juga ikut menjadi mentor dalam penulisan naskah drama dan acting.

“Follow up-nya kita akan coba bangun iklim berkesenian, selain teater juga sinematografi dan film yang kontennya lokal Sumsel. Saya pikir, Sumsel sangat punya nilai-nilai kearifan lokal yang layak diangkat ke layar lebar. Nah, dari siswa-siswa inilah aktor dan aktris juga penulis akan kita lahirkan dari sini, sebab di lembaga ini juga ada Kelas Acting dan Modelling,” tambahya.

Secara resmi, Sekolah menulis ini bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S) Palembang yang lahir sejak 2010. Lahirnya sekolah menulis ini menurut Imron, secara informal sudah dimulai tahun 2013, ketika Imron masih memimpin Harian Umum Kabar Sumatera versi cetak. Mulanya, LP2S Palembang, sebagai penggagas awal lahirnya beberapa kelompok training dan komunitas jurnalistik di beberapa lembaga di Palembang, termasuk di beberapa kampus di Palembang.

Pelatihan Jurnalistik Fakultas Hukum Universita IBA Palembang dan membetuk Komunitas Jurnalistik Fakultas Hukum IBA Palembang bersama Dr Tarech Rasyid. M.Si

Pelatihan Jurnalistik Fakultas Hukum Universita IBA Palembang dan membetuk Komunitas Jurnalistik Fakultas Hukum IBA Palembang bersama Dr Tarech Rasyid. M.Si

Ketika itu, LP2S dimulai dari training dari sekolah ke sekolah, dari Pondok pesantren ke pesantren, hingga di tahun 2014, ada Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) di Pondok Pesantren Al Badar Palembang. “Waktu itu saya kerjasama dengan ustadz Dwi Novari, Mudir Ponpes Al Badar. Ke depan, di Pondok Al Badar juga kita dorong akan melahirkan media cetak dan online. Wartawannya hasil didikan yang kita bentuk sejak dari nol dan akhirnya bisa menulis. Insya Allah bulan depan, majalah di Ponpes Al Badar bisa kita lounching. Ya, dengan modal bismillah dan doa dari para ustadz disana,” tambah pembina Teater Tubun SMAN 15 dan Teater Gembok Palembang ini.

Ditanya tentang siapa saja yang menjadi siswa di lembaga ini, Imron yang kini aktif mengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini menjelaskan, siapapun bisa ikut belajar, baik kelas jurnalistik atau menulis fiksi (Cerpen, novel, skenario/drama dan film) juga kelas PS. “Berkarya itu tidak mengenal umur tua dan muda. Siapa saja bisa ikut paket belajar ini. Sekarang tinggal kemauan. Prinsipnya berkaryalah sampai mati, apapun itu selama berguna bagi banyak orang,” tegasnya.

 TEKS / EDITOR : T PAMUNGKAS

INFO LANJUTAN : SMS KE : 0812-7127-4949
PIN BB : 295C65A7

KLIK : KOPI HITAM
EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster