Sejarah Kalijodo : Dari Tempat Cari Jodoh hingga Menjadi Tempat perjudian dan Prostitusi

 336 total views,  2 views today

JAKARTA, KSOL – Tempat hiburan malam Kalijodo terletak di Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan, Jakarta Utara. Sebagian lokalisasi itu masuk wilayah Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Puluhan wisma dan diskotek dua lantai berdiri di sepanjang jalan hampir 1 kilometer itu.

Wilayah itu disebut Kalijodo karena bantaran kali di sana pada 1950-an menjadi tempat nongkrong muda-mudi Jakarta hingga banyak yang berjodoh. Selama 20 tahun, ketika pendatang kian banyak, kali menjadi kotor dan Kalijodo menjadi tempat selingkuh, hingga akhirnya menjadi lokasi prostitusi pada 1970.

BERITA LAINNYO : Beranikah AHOK Menggusur dan Menertibkan Tanah Milik Negara yang di Ambil Alih Pengusaha

Pemerintah menggusur lokalisasi itu pada Maret 2003. Tahun lalu, Sekretaris Daerah DKI Saefullah berencana menggusur lokalisasi yang terletak di samping Kanal Banjir Barat tersebut. Pemerintah akan mengubah lokalisasi itu menjadi jalan inspeksi dan ruang terbuka hijau. Alasannya, Jakarta baru memiliki 10 persen ruang terbuka hijau dari 30 persen yang ditargetkan.

Kalijodo terkenal karena berbagai peristiwa kekerasan selain penggusuran. Pada Maret 2013, dua kelompok penduduk bentrok. Tak jelas benar awal mula bentrokan. Tapi, akibat bentrokan itu, beberapa perempuan harus mengungsi ke masjid dekat kantor Kecamatan Tambora.

Tak hanya bentrokan antarkelompok, kelompok yang menguasai Kalijodo juga kerap bentrok dengan aparat kepolisian dan TNI. Menurut Ketua Rukun Warga 10 Kecamatan Tambora, Syaifullah, warga Kalijodo yang berada di sisi utara terkenal tak kenal takut. “Jangankan orang sipil, sekelas kapolsek saja ditodong pistol,” ujar dia.

Geger Kalijodo

Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti menjelaskan sejarah Kalijodo dalam bukunya, ‘Geger Kalijodo’. Buku itu dia susun berdasarkan pengalamannya semasa menjadi Kapolsek Penjaringan dengan pangkat Komisaris Polisi.

“Sesuai dengan namanya, Kalijodo, sejak masa-masa penjajahan Belanda dikenal sebagai tempat mencari cinta,” tulis Krishna

BERITA LAINNYO :  Beberapa Warga Kalijodo Kecewa dengan Ahok

Di tahun 1930-an, banyak pemuda single yang datang ke Kalijodo untuk mencari pasangan. Ada juga pasangan muda-mudi yang pacaran sambil menikmati sore di Kalijodo.

Banyaknya pengunjung yang datang ke Kalijodo kemudian diikuti munculnya warung-warung yang menjajakan aneka makanan dan minuman. “Namanya juga Kalijodo, (orang datang) pesiarlah, liburanlah. Pada main-main ke situ, kemudian muncullah warung-warung,” kata Krishna yang ditemui detikcom di Mapolda Metro Jaya, Kamis malam (11/2/2016).

Dalam perkembangannya, warung-warung yang awalnya semi permanen itu kemudian berubah menjadi kafe-kafe dengan bangunan permanen. Pengunjung yang datang pun tak lagi muda-mudi yang saling berpasangan. Mayoritas pengunjung adalah perempuan yang menjajakan diri.

“Yang datang ke Kalijodo bukan hanya cowok cewek lagi tapi cewek-cewek yang sudah siap di situ. Di situlah ada perdagangan wanita, nah kemudian ada kafe-kafe,” kata Krishna.

BERITA LAINNYOMenurut Lulung, Ini Penyebab Warga Kalijodo Mencarinya

Kalijodo pun mengalami perkembangan yang cukup pesat karena letaknya yang strategis. Banyak orang dari kelas ekonomi ke bawah mencari hiburan ke Kalijodo. Tak hanya prostitusi, penguasa wilayah di Kalijodo akhirnya juga membuka lapak-lapak perjudian.

Dari perjudian inilah kemudian muncul sistem pengamanan alias premanisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu.
“Nah karena banyak orang datang muncul namanya perjudian, bagian dari entertaint yang disiapkan oleh operator-operator di sana (Kalijodo). Karena di situ juga ada perjudian maka muncullah pengamanan. Muncul premanisme, grup kelompok preman,” kata Krishna.

TEKS : LINGKARANNEWS.COM





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster