Antara Khalifah Umar Ibnu Khattab, Soeharto dan Presiden Jokowi

 421 total views,  2 views today

gelora-tingkah-adjat_sudrajat

Adjat R. Sudradjat

OPINI

Oleh Adjat R. Sudradjat

Syahdan setelah dibaiat menjadi Khalifah untuk menggantikan Abu Bakar yang baru saja mangkat, Umar Ibnu Khattab yang sebelumnya dikenal sebagai sosok temperamental jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Perangainya selalu tampak ramah terhadap setiap orang. Bicaranya tidak lagi lantang menggelegar, yang seringkali membikin ciut nyali yang mendengar, seketika berubah jadi santun, membuat rakyat tak lagi merasa segan. Akan tetapi meskipun demikian, ketegasannya sebagai pemimpin dalam mengambil suatu keputusan tak pernah diragukan.

Sebagaimana keteguhan imannya yang pantas dijadikan suri tauladan. Salah satu kisah menarik dari Khalifah yang satu, ini adalah kebiasaannya yang di Indonesia saat ini dikenal dengan istilah ‘blusukan’, yakni kegiatan keliling ke berbagai daerah yang dilakukan Jokowi sejak jadi Walikota Solo, kemudian ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta, dan sekarang ini tatkala beliau jadi Presiden, untuk mengetahui keadaan rakyatnya dari dekat. Sama halnya juga dengan yang dilakukan penguasa Orde Baru.

Ketika itu ada istilah ‘turba’, kependekan dari kata turun ke bawah yang dilakukan Presiden Soeharto berkeliling ke daerah untuk melihat hasil pembangunan yang dicanangkannya dalam program yang bernama Pelita (Pembangunan lima tahun). Hanya saja kalau disimak lagi, kebiasaan Khlaifah Umar Ibnu Khattab berkeliling dari kampung ke kampung, menurut sahibul hikayat dilakukannya secara incognito, alias diam-diam, dan dengan penyamaran. Maksudnya bisa jadi agar tidak diketahui rakyatnya kalau dirinya adalah pemimpin yang berkuasa. Sehingga dengan demikian, Umar pernah menyaksikan seorang ibu di dapurnya sedang memasak.

Hanya saja Umar keheranan saat itu. Dalam kuali di atas tungku yang membara itu bukan sayur, atawa nasi yang ditanak ibu itu. melainkan…  Batu! Khalifah pun segera bertanya, “Mengapa ibu memasak batu, bukannya sayur atawa nasi?” “Karena saya sudah tidak punya lagi beras untuk dimasak, sedangkan anak-anak saya menangis terus karena kelaparan. Maka untuk menghiburnya saya  pura-pura memasak agar tangis mereka menjadi reda,” jawab si ibu dengan suara memelas. Mendengar jawaban seperti itu, khalifah Umar bergegas pulang. Tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa segantang beras untuk diserahkan pada rakyatnya yang miskin itu.

Dalam kisah khalifah Umar tadi, ada benang merah dengan yang dilakukan Presiden Soeharto maupun Jokowi saat ini, yaitu melakukan peninjauan keadaan rakyat yang dipimpinnya secara dekat. Bisa jadi dalam hal ini, baik Umar Ibnu khattab, Soeharto, maupun Jokowi bukan tipe pemimpin ABS (Asal Bapak Senang), alias hanya mendengar laporan yang disampaikan anak buahnya saja.

Karena tidak menutup kemungkinan jika hanya menerima laporan dengan hanya duduk-duduk dalam kantor saja, tidak menutup kemungkinan ada anak buahnya yang punya watak curang. Menyampaikan laporan bahwa pembangunan telah dilaksanakan di segala bidang, dan seluruh rakyatnya hidup makmur sejahtera. Padahal dalam kenyataannya … Hanya saja kegiatan berkeliling masuk-keluar kampung ketiga pemimpin itu ada juga bedanya lho. Umar Ibnu Khattab melakukannya secara incognito. Diam-diam dan menyamar.

Hampir mirip dengan kegiatannya  ‘turba’-nya Presiden Soeharto. Mungkin bedanya kalau Umar berjalan sendirian, sedangkan Soeharto tetap dikawal oleh ajudan, berikut beberapa orang stap kepresidenan. Sementara ‘blusukan’ yang dilakukan Presiden Jokowi, selain mendapat pengawalan ketat pasukan paspampres, juga biasanya selalu diberitakan oleh media. Lha tentu saja beda. Pemimpin juga manusia.

Lain kepala lain pula caranya. Apalagi rentang waktu antara Umar Ibnu khattab dengan kedua Presiden kita itu jauh sekali. Kalau Umar melakukan ‘turba’ atau ‘blusukan’ sendirian saja, dan berjalan kaki, itu adalah suatu yang wajar. Karena di jaman itu belum ada Roll Royces maupun kendaraan mewah seperti sekarang. Paling hanya ada kuda dan unta saja. Begitu juga mana ada media di jaman jahiliyah.

Kisah khalifah Umar saja kita dengar berdasarkan kisah dari mulut ke mulut saja. Biasanya disampaikan para ustadz dalam dakwahnya. Sedangkan jaman sekarang, bukan hanya wartawan media mainstream saja yang gentayangan. Orang awam saja sudah pandai memposting berita. Apalagi berita tentang orang nomor satu di Indonesia, meskipun mungkin saja Jokowi tidak berharap jadi pemberitaan, tapi awak media sepertinya suka memaksa sih. Akhirnya oleh orang yang sirik, dan masih dendam, blusukan pun disebutnya hanya sebagai pencitraan. Dasar! ***

TEKS : KOMPASIANA.COM

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster