Jihad itu Perang Intelektual, Ma’had Badar Palembang Siapkan Jurnalis Islami

 279 total views,  2 views today

PALEMBANG, KS

Makna jihad selama ini cenderung perang fisik. Sebagian lagi, jihad dipahami sebagai pembenaran melakukan tindak kekerasan terhadap golongan tertentu yang berseberangan secara ideologi dan aqidah. “Padahal, arti jihad bisa juga dimaknakan sebagai bentuk gerakan penyadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Jihad juga berarti perang intelektual. Dalam hal ini pers memiliki peran untuk menjadi wadah dalam melakukan perang intelektual itu,” ujar Dr Tarech Rasyid, M.Si, Dosen Universitas IBA Palembang pada Pelatihan Jurnalistik di Ma’had Badar Palembang, Sabtu (16/1/2016).

Dr Tarech Rasyid, M.Si dan Imron Supriyadi saat menyampaikan materi (Foto.Dok/Ma'hadBadar/Dwi)

Dr Tarech Rasyid, M.Si dan Imron Supriyadi saat menyampaikan materi pada Pelatihan Jurnalistik di Ma’had Badar Palembang (Foto.Dok/Ma’hadBadar/Dwi)

Lebih lanjut Koordinator Program Sekolah Demokrasi Prabumulih (SDP) ini mengatakan, memaknai jihad dalam arti yang luas tidak harus dengan tindakan radikal dan anarkisme, apalagi dengan bom bunuh diri, sebagaimana yang selama ini terjadi.

Sebab, menurutnya jihad dapat diartikan satu gerakan moral untuk melakukan perubahan nilai-nilai di tengah masyarakat, salah satu diantaranya melalui pers (menulis). Sebab, menulis dapat menguatkan keberdaan posisi ke-khalifahan seseorang di muka bumi, baik di hadapan Tuhan dan manusia.

Ayah dari satu putri ini kemudian menyitir sebuah salah satu ayat Al-quran dalam Surah Al-‘Alaq : Iqra yang artinya : bacalah! Menurut suami dari Dra. Rina Bakrie ini, perintah membaca secara tersirat ada perintah untuk menulis.  Sebab dalam ayat itu, menurut alumnus S.3 Universitas Padjajaran Bandung ini, perintah membaca bukan hanya bermakna membaca teks (tersurat), tetapi juga membaca yang tidak tertulis (tersirat), yang kemudian harus kita tuliskan.

“Nah, pers memiliki peran penting dalam mengemban tugas melakukan proses pencerahan terhadap nilai-nilai kebaikan melalui tulisan di media. Disinilah pentingnya menulis untuk mendorong kesadaran kemanusiaan sebagai khalifah,” tegasnya.

Suasana Santri sedang ikut pelatihan jurnalistik di Ma'had Badar Palembang, Sabtu (16/1/2016).

Suasana Santri sedang ikut Pelatihan Jurnalistik di Ma’had Badar Palembang, Sabtu (16/1/2016).

Dalam paparannya, Tarech juga  mengritisi status sebagian facebooker yang menurutnya membuat status di wall papernya tidak memiliki ideologi. “Bagaimana mungkin kita akan membangkitkan kesadaran terhadap nilai-nilai,i  jika ternyata kita sering kali menulis status di fb yang tidak jelas dan tidak idelogis. Ini bikin status…Ah..lesu,  wkwkwkwkwkwkwkwk…,” tegasnya, yang kemudian ditingkahi gelak tawa peserta.

Oleh sebab itu, Tarech mengajak kepada para calon jurnalis Islam yang ikut dalam pelatihan kali itu, untuk memulai menulis status di facebooknya dengan kalimat yang memberi inspirasi bagi umat. “Ya misalnya, Assallamu’alaikum! Selamat pagi! Semoga hari ini kita akan lebih baik dari kemarin. Nah, kalimat ini kan ada nilai yang diberikan kepada banyak orang, sehingga tulisan kita bermanfaat bagi umat,” ujarnya.

Sementara itu, Ustadz Dwi Nofari, M.Pd.I, Mudir Ma’had Badar Palembang dalam smabutan awal mengajak kepada calon jurnalis yang jadi peserta agar serius mengikuti pelatihan. Sebab tindaklanjut dari pelatihan diharapkan akan melahirkan produk media, baik cetak atau media online. “Saya sudah koordinasi dengan ketua yayasan. Pada prinsipnya pihak yayasan sangat mendukung kegiatan ini, tinggal kita kapan akan berani dan bertanggungawab untuk memulai,” tegasnya.

Pada acara yang digelar di Mushala Ma’had Badar Palembang itu, diikuti 20 mahasiswa dan almunus dari sejumlah perguruan tinggi di Palembang. Acara yang berlangsung dua hari ini (Sabtu dan Minggu, 16-17/1/2016) menghadirkan dua pembicara utama, Dr Tarech Rasyid, M.Si dan Imron Supriyadi, S.Ag, Pemimpin Redaksi Media Onlie KabarSumatera.com.

Pada pelatihan ini pada sesi awal, disampaikan materi ideologi pers. Sementara pada sesi kedua lebih menitikberatkan pada teknis penulisan baik hard news (berita keras) dan soft news (berita ringan). Pada hari kedua akan disampaikan materi penulisan feature, opini dan kode etik jurnalistik, dan jurnalistik foto.

TEKS / EDITOR : T PAMUNGKAS

FOTO : DOK.MA’HAD BADAR/DWI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster