Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Jangan Sepelekan Konsumsi Rumah Tangga

51 total views, 3 views today

JAKARTA, KS

Konsumsi rumah tangga masih akan menjadi sumber pendorong utama pertumbuhan ekonomi tahun ini, di samping investasi dan percepatan belanja modal. Karena itu, menjaga konsumsi rumah tangga adalah tugas utama pemerintah untuk tahun ini melalui kebijakan yang tidak mendistorsi pasar, seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik, di samping menjaga stabilitas harga pangan. Apabila itu dilakukan, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mendekati 5,3% seperti dipatok APBNP 2016.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan, tahun ini Indonesia masih menghadapai tantangan perekonomian global yang belum beres, seperti ekonomi Tongkok yang turun dan membuat harga komoditas jeblok. Padahal, 80% ekspor nasional dalam bentuk komoditas. Di sisi lain, mengubah ekspor komoditas menjadi produk olahan pun tidak bisa secara jangka pendek karena untuk menggenjot hilirisasi butuh satu tahun. Artinya, hilirisasi komditas baru bisa jalan 2017. “Dengan kondisi itu, sumber pendorong pertumbuhan tahun ini adalah konsumsi rumah tangga dan investasi,” ungkap dia ketika dihubungi Investor Daily dari Jakarta, Selasa (5/1/2016) malam.

Namun demikian, konsumsi rumah tangga di luar Jawa tahun ini dipastikan masih tertekan karena turunnya harga komoditas, di Pulau Jawa juga tertekan nilai tukar, upah buruh, dan kesempatan kerja yang terbatas. Di sisi lain, upaya untuk lepas dari ketergantugan bahan baku impor memang ada, tapi itu tidak bisa dilakukan serta merta. Namun beruntung harga minyak mentah dunia yang rendah bisa memberikan relaksasi bagi daya beli masyarakat karena potensi penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi kecil. “Karena itu, yang harus dijaga betul adalah bagaimana konsumsi rumah tangga tidak diganggu dulu, yakni melakukan stabilisasi harga pangan. Sejak Desember tekanan harga pangan masih tinggi, tapi harus ada usaha dari pemerintah. Kalau itu berhasil, hitung-hitungan di atas kertas, tahun ini ekonomi tumbuh di atas 5% masih sangat mungkin,” kata dia.

Dalam menggenjot investasi, kata Enny, pemerintah memang berkomitmen menciptakan berbagai macam penyederhaan izin untuk menggenjot investasi, namun itu hendaknya tidak hanya komitmen pemerintah pusat dalam hal ini BKPM karena lembaga ini hanya sampai level persetujuan investasi. Hal itu hendaknya juga menjadi komitmen kementerian teknis dan pemerintah daerah. Sampai hari ini belum terdengar komitmen daerah dalam mendorong investasi. Di sisi lain, masih ada sumbatan (debottlenecking) ketersediaan infrastruktur dasar dan untuk mengatasinya tidak semudah membalikkan tangan. “Sekalipun pemerintah pusat dan daerah punya komitmen investasi, kalau tidak ada ketersediaan infrastruktur dasar, pembangunan kawasan industri susah direalisasikan meski sudah ajukan izin prinsip,”ujar dia.

Belanja modal/belanja barang pemerintah yang akan digenjot mulai awal 2016, kata Enny, memang bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi tahun ini. Namun untuk mengkonkretkan percepatan belanja tidak sekadar menyalurkan dana, namun dibutuhkan perencanaan yang matang. Jangan sampai di awal tahun proyek-proyek infrastruktur di-ground breaking, namun karena perencanaan tidak matang dan dana tidak jelas, akhirnya proyek mangkrak. “Dampaknya pasti ada dan membantu. Tapi harus konsisten, jangan hanya parsial, harus ditindaklanjuti dengan perencanaan yang matang dan komprehensif,” kata dia.

Karena belanja modal dipercepat, hal itu bisa menjadi stimulus sejak awal tahun. Namun dengan adanya problem shortfall penerimaan, sedangkan belanja digeber sejak awal tahun, apakah kas pemerintah mencukupi. Dana desa saja ternyata daerah mengeluh belum menerima transfer. “Jangan sampai kementerian teknis/lembaga sudah lelang pada awal tahun, tapi saat pencairan anggaraan mandek karena cashflow bermasalah. Jadi untuk mengatasi persoalan di tahun ini butuh strong leadership,” ujar dia.

Pun dengan paket kebijakan stimulus ekonomi yang sudah 8 kali dikeluarkan pemerintah. Hingga akhir 2015 kontribusinya dalam menggerakkan ekonomi memang belum terlalu signifikan. Efektivitas paket kebijakan itu memang berproses. “Harapannya, kalau betul-betul komitmen dalam paket I-VIII maka tahun ini mulai terealisasi. Ditambah dengan komitmen percepatan belanja, itu bisa menjadi stimulus agar pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mendekati 5,3%,” ungkap dia.

TEKS : BERITASATU.COM





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com