Awal 2016, Menaikkan Harga Karet Seperti Menegakkan Benang Basah

 369 total views,  2 views today

TANJUNG AGUNG, KS

Memasuki tahun 2016 M, harapan para petani di Kecamatan Tanjung Agung dan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim akan kenaikan harga karet pudar sudah. Upaya menaikkan harga karet seperti menegakkan benag basah.

Saat ini, harga karet masih di kisaran Rp 4-5 ribu per kg. Tidak jauh berbeda dengan harga tahun sebelumnya. Akibatnya sejumah petani karet di wilayah ini mulai lesu darah, karena hasil panennya tidak cukup untuk membeli beras.

Seperti dialami Dinata (50), salah satu petani karet di Desa Tanjung Agung. Dia mengeluhkan terhadap murahnya harga karet. “Dari tahun sbelumnya harga karet sudah murah, dan sampai sekarang tidak ada kenaikan sama sekali,” ujarnya.

Pada kondisi itu, Dinata mengaku tidak mengetahui tanaman apa yang harus ditanam untuk mempertahankan hidup mereka. “Saya tidak tahu apa yang mesti ditanam. Semua hasil petani disini murah dan sekali panen tidak ada untungnya. Baik itu karet, sawit, maupun kopi,” tutur Dinata kepada reporter RGBA FM, Senin (4/1/16).

‎Ia menuturkan, seperti pada musim kemarau yang terjadi beberapa bulan lalu, banyak petani yang menunda panen akibat kemarau karena harga sejumlah hasil pertanian murah. Bahkan, pada musim itu getah karet sulit didapat karena banyak daun berguguran. Akibatnya produksi karet menurun dan menambah beban berat kehidupan sehari-hari para petani karet di wilayahnya.

“Musim kemarau kemarin memang pukulan berat bagi petani karet harian seperti kita ini. Hasil sadapan getah menurun dan harganya pun juga belum naik. Mudah-mudahan kedepan harga karet bisa naik,” imbuhnya.

Hal yang sama disampaikan Basroni, warga Kecamatan Tanjung Agung. Menurutnya, karet saat ini belum ada kenaikan harga, justru malah semakin anjlok harganya. Kata dia, harga karet harian di wilayahnya saat ini Rp 4-5 ribu per kg. Sedangkan untuk harga karet bulanan harganya dikisaran Rp 7-8 ribu per kg.

“Kalau saya pilih jual karet bulanan. Tetapi petani lain terpaksa jual harian karena butuh uang untuk makan sehari-hari. Petani berharap kepada pemerintah untuk memikirkan masyarakat yang berprofesi sebagai petani kebun. Coba hasil petani lebih mahal,” harapnya.

TEKS : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster