Tuduhan Suap dan Keterangan Palsu Terhadap HBA-Suzana Terbantahkan, HBA-Suzana Berpeluang Bebas?

 315 total views,  2 views today

EMPAT LAWANG, KS
Dugaan suap terhadap hakim Mahkamah Konstitusi (MK), serta pemberian keterangan palsu pada persidangan yang disangkakan kepada bupati non aktif, H Budi Antoni (HBA)dan Istrinya Hj Suzana Budi Antoni bepeluang terpatahkan.

Sebab, berdasarkan fakta persidangan, keterangan sejumlah saksi seperti mantan ketua MK, Akil Mochtar dan saksi Muhtar Ependy telah membantah tegas, adanya unsur suap dalam penanganan sengketa pilkada Empat Lawang di MK 2013 lalu. Begitu juga keterangan saksi lainnya yang dihadirkan pihak KPK, dinilai debatabel (tidak jelas).

Sirra Prayuna, Kuasa Hukum HBA dan Istri (Foto.Dok.KS/Saukani)

Sirra Prayuna, Kuasa Hukum HBA dan Istri (Foto.Dok.KS/Saukani)

“Pasal 6 terkait dugaan penyuapan terhadap ketua MK jadi debatable, begitu juga pasal 35 yang disangkakan. Kita harap semua tuduhan itu terpatahkan,” jelas kuasa hukum HBA, Sirra Prayuna, usai sidang dengan agenda keterangan saksi dari KPK, di pengadilan negeri Jakarta Pusat, Kamis (19/11/2015).

Sirra mengulas, penzoliman terhadap pasangan HBA-Syahril, terkait hasil perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilkada Empat Lawang 2013, telah diselesaikan melalui perhitungan ulang surat suara di MK.

Gambaran pada fakta persidangan dan keterangan para saksi secara jelas, kalaupun uang itu masuk ke Muhtar Ependy, pasal 6 terkait penyuapan akil jadi debatable.

Selain itu, dalam kasus ini, ada banyak perkara lain, artinya saksi tidak memberi gambaran jelas kedatangan Muhtar ke rumah Akil dalam rangka apa. Contoh saja keterangan saksi mantan security rumah dinas Ketua MK, membenarkan Muhtar datang tetapi tidak membawa apa-apa ketika masuk ke kediaman dinas Akil Mochtar.

Sementara dari keterangan BAP di KPK saksi Miko (mantan sopir muhtar) menyebut kedatangan Muhtar membawa tiga kardus berisikan uang, dibawa ke rumah Akil dibantu security tadi. Hal ini tentu bertentangan, apalagi Miko menyebut sempat menyobek kardus di lakban rapat tersebut memastikan isinya uang, tanpa sepengetahuan Muhtar.

Intinya harus dipetegas, dalam rangka apa Muhtar ke rumah dinas Akil. Selain itu, pertegas juga apakah membawa dan memberikan sesuatu ke Akil Mochtar. Semua keterangan saksi KPK debatable. Karangan ceita saksi Miko terutama, harus dihadirkan ke persidangan agar jelas kebenarannya.

“Kita belum mau menyimpulkan, namun berdasarkan fakta persidangan dan keterangan saksi pada beberapa kali persidangan, tentu harapan saya, pasal 6 terkait kasus dugaan suap ini dapat terpatahkan,” kata Sirra.

Mengenai pasal 35 terkait keterangan palsu di persidangan, kata Sirra, itupun sudah terpatahkan, dari keterangan saksi Muhtar Ependy sudah mengakui secara tegas, Muhtar yang mengarahkan agar HBA dan Istri tidak mengakui ataupun kenal dengan dirinya. Dengan alasan kasus menjerat Akil tidak ada sangkut pautnya dengan Empat Lawang.

Keterangan disampaikan Muhtar melalui pertemuan dengan HBA dan Istri, serta melalui suruhannya. Kata Sirra, dalam keadaan galau, sangat wajar jika HBA dan Istri mengikuti arahan tersebut.

Apakah BAP menjadi rujukan fakta persidangan? Sirra menegaskan, seyogyanya rujukannya adalah keterangan saksi dibawah sumpah dan sesuai fakta persidangan. Keterangan saksi dari BAP pihak KPK, diduga banyak copy paste dengan kasus suap Kota Palembang.

Kalau BAP, imbuh Sirra, itu sah-sah saja, tapi yang jelas rujukannya adalah fakta persidangan, makanya saksi harus dipanggil. Seperti saksi Miko, telah banyak memberikan keterangan sebelumnya kok sudah lima kali panggilan persidangan tapi tidak bisa dihadirkan pihak KPK.

Diketahui sebelumnya, H Budi Antoni (HBA) dan istrinya, Hj Suzana Budi Antoni disangkakan atas perbuatan keterangan palsu, dijerat Pasal 22 jo pasal 35 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimaan diubah Undang-undang Nomor 20 tahun 2001.

Sedangkan dugaan perbuatan suap HBA dan istrinya disangkakan ke Pasal 6 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana dibuah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana.

Namun, dalam beberapa kali persidangan, keterangan saksi Akil Mochtar dan Muhtar Ependy mengungkap bahwa tidak ada unsur suap, kemenangan pasangan HBA-Syahril murni, berdasarkan fakta persidangan dan hasil perhitungan ulang surat suara di MK.

Informasi dihimpun Kabar Sumatera menyebutkan, penanganan kasus dugaan suap HBA terkesan dipaksakan, meskipun keterangan saksi Akil Mochtar dan Muhtar Efendi, secara jelas membantah tuduhan tersebut. Disisi lain, beberapa keterangan saksi dari BAP pihak KPK, disinyalir copy paset karena hampir sama dengan keterangan saksi pada kasus suap sengketa pilkada Kota Palembang.

Keterangan BAP saksi Miko yang menyatakan Muhtar membawa sejumlah uang ke rumah Akil Mochtar, juga dibantah oleh mantan scurity rumah dinas Akil Mochtar yang memberikan kesaksian tegas di persidangan pada, Kamis (19/11/2015) lalu. Ia membenarkan adanyan kedatangan Muhtar ke rumah Akil, namun tidak membawa barang berupa kardus atau bentuk barang lainnya, yang disebut oleh saksi Miko.

Hal lain berkembang, kasus menjerat HBA dan Istri tersebut diduga didalangi oknum tertentu juga terkuak pada fakta persidangan yaitu keterangan saksi Niki dan Nugroho, kedua saksi tersebut membenarkan, mereka diajak Miko melakukan pertemuan dengan beberapa oknum didalam salah satu RM di Jakarta.

Diduga dalam pertemuan itulah, beberapa bait karangan cerita (skenario) sengaja dibuat agar mengarahkan HBA sebagai tersangka suap mantan ketua MK, Akil Mochtar. Bahkan, skenario dibuat sebelum kasus dugaan suap melibatkan HBA ini ditangani KPK.

Namun ironisnya, sampai saat ini saksi Miko belum juga dihadirkan ke persidangan. Padahal, saksi Miko telah menyampaikan banyak cerita terkait dugaan penyuapan yang disangkakan, bahkan sebelum kasus ini masuk ke ranah KPK. Jika terbukti skenario atau cerita dikarang Miko tidak benar, maka pihak keluarga HBA akan menuntutnya dengan kasus pencemaran nama baik dan pembohongan publik. Termasuk beberapa oknum, diduga dibalik layar yang telah membuat skenario cerita tuduhan suap tersebut.

TEKS : SAUKANI

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster