Siap Produksi Film SMB II, Helvy Izin Pulang ke Palembang

 271 total views,  4 views today

PALEMBANG, KS

“Palembang adalah salah satu kota favorit saya. Boleh nggak kalau saya ke Palembang, bukan lagi datang, tapi saya pulang ke Palembang? Karena Palembang sudah jadi rumah saya juga,” ujar sastrawan Helvy Tiana Rosa, mengawali materinya dalam temu penulis di Hotel Garuda Mas Palembang, Sabtu (22/11/2015) pagi.

Foto Lukisan SMB II (Foto.Google Image)

Foto Lukisan SMB II (Foto.Google Image)

Sesaat kemudian, Helvy bertanya pada forum. “Siapa yang bisa menceritakan sedikit tentang SMB II pada saya? Ayo siapa!?” ujar Helvy sembari mengangkat micropon mencari peserta yang bersedia menuturkan kisah SMB II.

Sayangnya, kali itu tak satu pun peserta yang tunjuk tangan. Tak jelas apa alasannya. Apakah karena grogi bicara di forum di hadapan Helvy? Takut salah sebut sejarah? Atau karena  memang peserta tidak mengenal sejarah SMB II? Helvy kemudian mengalihkan perhatiannya pada materi selanjutnya.

Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini kelahiran Medan 2 April 1970. Praktis, secara genetika perempuan yang sudah menulis lebih dari 50 buku ini bukan kelahiran Palembang.

BACO JUGO : FILM KMGP, DARI TUGAS KULIAH SAMPAI LAYAR LEBAR, FLP SUMSEL DUKUNG KAMPANYE

Tapi siapa sangka, ketika Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini turun di Bandar Udara (Bandara)  SMB II Palembang, Sabtu (22/11/2015), penerima 30 penghargaan nasional bidang kepenulisan dan pemberdayaan ini seketika, ingat pada perjalanan ke Kota Jambi. “Lho apa hubungannya saya ke Jambi dengan SMB II?” ujar Helvy yang mengundang penasaran.

Kisahnya, satu kali perempuan yang sejak tahun 2009-2015 masuk dalam salah satu dari 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia versi  RISSC Jordan ini, berkunjung ke Provinsi Jambi.

Di sebuah sekolah di Jambi, Helvy bertemu dengan puluhan murid di sekolah itu. Sebagian lagi guru dan warga setempat. “Mereka datang dan membawa sejumlah uang yang kemudian diserahkan kepada saya. Kata mereka : Bu, kami minta buatkan film Sultan Thaha,” kisah Helvy.

Helvy Tiana Rosa, saat pada acara Temu Penulis FLP se-Sumsel di Hotel Garuda Mas, Palembang, Sabtu (22/11/2015) (Foto.Dok.KS)

Helvy Tiana Rosa, saat pada acara Temu Penulis FLP se-Sumsel di Hotel Garuda Mas, Palembang, Sabtu (22/11/2015) (Foto.Dok.KS)

Sultan Thaha adalah pahlawan asal Jambi yang namanya kemudian dijadikan Nama Bandar Udara (Bandara) di Kota Jambi. “Sultan Thaha itu pahlawan hebat.  Saat Belanda menyerang, istananya dibakar sendiri. Sultan itu lalu berpesan pada para bala tentaranya : kalau Belanda tanya mana Sultan Thaha, katakan saya sudah mati. Tapi kalau rakyat bertanya, dimana Sultan Thaha, katakan saya masih hidup, supaya rakyat tidak patah semangat melawan penjajah Belanda!” Helvy kembali berkisah tentang heroisme Sultan Thaha.

Menurut Helvy, pahlawan di Palembang, seperti SMB II juga sosok yang hebat. Perilaku dan tauladan dalam berjuang perlu dijadikan contoh bagi generasi mendatang.

“Baik Sultan Thaha atau SMB II, bisa kita buat filmnya. Persoalaannya, kita ini kan nggak punya duit? Kita bukan orang PH yang punya modal besar. Lantas gimana?  Kita bisa iuran sama-sama. Warga Palembang kita ajak patungan. Misalnya per orang Rp 5 ribu kali Rp 500 ribu orang, kita sudah punya uang Rp 5 miliar. Bisa kita produksi film. Apalagi pihak Pemprov bisa ikut membantu. Saya pikir ini akan saya lakukan bersama teman-teman. Semua pahlawan di Indonesia harus kita buat film, sebab ini adalah sejarah yang sangat berharga untuk anak cucu kita,” tandasnya.

Menanggapi  gagasan itu, Imron Supriyadi, penulis dan praktisi seni sastra di Palembang sangat apresiatif. Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Indpenden (AJI) periode 2009-20011, ide gila Helvy itu perlu direspon.

“Kalau ini bisa digalang, biaya Rp 5 miliar tidak harus menunggu setahun. Dalam hitungan pekan bisa terkumpul,” ujar Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian  Palembang (DKP) di sela-sela acara tersebut.

Kuncinya, ini dilakukan bersama dan jujur. Menurut Imron, hal ini menjadi awal yang baik bagi produksi film layar lebar produk Palembang. “Saya yakin, satu kali saja ini berjalan, bisa menjadi contoh film selanjutnya.

“Intinya kita harus mulai dulu, baru nanti orang ikut kita, jangan menunggu! Saatnya kita bergerak. Kalau Helvy bisa, kenapa kita tidak, kan gitu?!” ujar Imron yang juga Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

TEKS / FOTO : T PAMUNGKAS





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster