PT Primanru Jaya Langgar SOP Pengambilan Limbah B3, Diduga atas Persetujuan GM UPTE PTBA

 2,938 total views,  2 views today

TANJUNG ENIM, KS

Meski Standard Operating Procedure (SOP) pengambilan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) sudah ditetapkan, namun PT Primanru Jaya (PT PJ), tetap nekat melanggar aturan. PTPJ  tetap mengambil limbah B3 tanpa prosedur di tempat penyimpanan limbah B3 sementara PT Pama Persada Nusantara Distrik MTBU Tanjung Enim, Muara Enim, Rabu (18/11/2015).

“Ini bukan masalah perut atau ingin memonopoli pemanfaatan limbah B3 (oli bekas), namun ini sudah merupakan pelanggaran prosedural. Sebab yang dikelola ini limbah B3 bukan limbah besi atau sebagainya. Jadi prosedurnya tidak main-main,” ujar Athurman didampingi Sjafril pengurus dari PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI).

Tampak beberapa pekerja dari PT Pama Persada Nusantara dan PT Primanru Jaya, tetap melakukan pengambilan limbah B3 meski tidak sesuai SOP, di di tempat penyimpanan limbah B3 sementara PT Pama Persada Nusantara Distrik MTBU Tanjung Enim, Muara Enim, Rabu (18/11/2015). (Foto.Dok.KS/Aldo RGBA.FM)

Tampak beberapa pekerja dari PT Pama Persada Nusantara dan PT Primanru Jaya, tetap melakukan pengambilan limbah B3 meski tidak sesuai SOP, di di tempat penyimpanan limbah B3 sementara PT Pama Persada Nusantara Distrik MTBU Tanjung Enim, Muara Enim, Rabu (18/11/2015). (Foto.Dok.KS/Aldo RGBA.FM)

Menurut Atui, panggilan akrab Athurman ini mengatakan, sebelumnya rekanan yang memanfaatkan pengambilan limbah B3 berupa oli bekas di PT Pama Persada Nusantara itu ada tiga perusahaan, yakni PT WGI, CV RRA dan CV BK. Mereka bekerjasama dengan PT Bukit Asam Persero Tbk dan PT Pama Persada Nusantara.

Setiap pengambilan lanjut Atui selalu sesuai SOP, karena untuk limbah B3 itu aturannya sangat ketat sebab berbahaya bagi mahluk hidup. Untuk itu, sebelum menjadi rekanan SOP yang diterapkan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) PTBA sangat ketat. Selain persyaratan harus dipenuhi, juga tim dari PTBA dan PT Pama akan melihat langsung tempat pengepulan dan cara penanganan yang dilakukan oleh rekanan tersebut.

“Sebagai contoh, sebelum mengambil limbah B3, kami harus ada Form B1, B2 dan B3, sesuai peruntukannya. Sedangkan PT Primanru Jaya ini, tanpa melalui SOP langsung memaksa masuk ke tambang untuk mengambil oli bekas, yang diduga telah mendapat izin secara lisan dari petinggi PTBA,” tegas Atui.

Menurut Retno Juliansyah Pengawas Lingkungan K3 PTBA, bahwa sepengetahuannya, pihaknya tidak akan mengeluarkan izin apapun kepada rekanan, jika tidak sesuai dengan SOP termasuk untuk PT PJ.  “Saya tidak tahu mengapa bisa masuk ke tambang,” ujarnya seperti kebingungan.

Hal senada juga dikatakan oleh Gontor, Kepala K3 Safety PT Pama Persada. Dirinya juga heran mengapa tiba-tiba ada tangki dari PTPJ? Bahkan pihaknya sempat menahan selama tiga hari tangky. Tujuannya agar tidak mengambil limbah B3 (oli bekas) karena tidak sesuai SOP. Namun diakuinya, jika PTPJ sudah mengajukan surat permohonan kerjasama sekitar enam bulan lalu, tetapi permohonan tersebut masih dalam proses dan pertimbangan sebab ini menyangkut limbah B3.

“Awalnya kita tahan, namun setelah ada izin dari PTBA, kami tak bisa berbuat banyak, sebab IUP ini milik PTBA. Namun alangkah baiknya jika rekan-rekan bermusyawarah untuk mencari solusi yang terbaik,” ujar Gontor.

Ketika dikonfirmasi, Wibisono, General Manajer UPTE PTBA, mengatakan permasalahan itu sudah diserahkan ke manajemen PT Pama untuk menyelesaikannya.

“Sudah, sudah, sudah. Itu sudah kita serahkan ke PT Pama,” ujar Wibisono singkat, tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

TEKS / FOTO : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster