Awas! KOMPRESS Sumsel Lahir, Hakim, Jaksa dan Peradilan “Wani Piro” Bakal Disikat

46 total views, 3 views today

PALEMBANG, KS

Orang bijak berkata ; dalam kubangan lumpur, masih tersimpan emas dan permata. Atau diantara pasukan iblis, Tuhan selalu menyandingkannya dengan pasukan malaikat.  Demikian halnya dengan kenyataan pada proses peradilan, yang cenderung “wani piro” ketimbang mengedepankan keberpihakan pada keadilan dan kebenaran.

Tapi bagi masyarakat Sumatera Selatan, kini tak perlu lagi risau, apalagi takut menghadapi proses peradilan yang acapkali tajam ke bawah dan tumpul keatas. Lahirnya Koalisi Masyarakat Pemantau Peradilan Sumatera Selatan (KOMPRESS) menjadi harapan baru bagi perbaikan proses peradilan di Sumatera Selatan (Sumsel). KOMPRESS, diharapkan dapat menyatukan semangat kebaikan dari sejumlah masyarakat sipil di Sumsel, yang selama ini hanya berjalan sendiri-sendiri.

Suasana Capasity Building Jejaring Pemantau Peradilan, kerjasama PKY Sumsel dan KPK di Hotel Amaris Palembang, Jumat-Sabtu, (6-7/11/2015). (Foto.DOk.PKYSumsel/Wiwin)

Suasana Capasity Building Jejaring Pemantau Peradilan, kerjasama PKY Sumsel dan KPK di Hotel Amaris Palembang, Jumat-Sabtu, (6-7/11/2015). (Foto.DOk.PKYSumsel/Wiwin)

Lembaga ini dilahirkan oleh sejumlah elemen masyarakat sipil, melalui Capasity Building Jejaring Pemantau Peradilan, kerjasama Penghubung Komisi Yudisial (PKY) Sumsel dan Komisi Pemberantasan Korupsi di Hotel Amaris Palembang, Jumat-Sabtu, (6-7/11/2015).

Lahirnya lembaga ini, sekaligus membuka ruang bagi semua elemen masyarakat untuk ikut memantau dan mengawasi terhadap sejumlah perilaku hakim, jaksa dan proses peradilan di Sumsel yang tidak berpihak pada keadilan dan kebenaran.

“Ini wadah bagi rakyat untuk berpartisipasi untuk ikut mengotrol proses peradilan di Sumsel yang cenderung korup. Wadah ini juga sebagai alat penggerak kesadaran kolektif di masyarakat, untuk mewujudukan peradilan yang bersih dan berwibawa,” tegas Dr Tarech Rasyid, Koordinator Sekolah Demokrasi Prabumulih (SDP) dalam dialog informal usai acara.

KOMPRESS, sebagaimana disepakati dalam forum itu, lahir berdasar pada tanggungjawab moral terhadap upaya perbaikan proses peradilan di Indoensia, atau di Sumsel khususnya. Guna mewujudkan  itu, diperlukan satu gerakan masyarakat sipil, yang harus berjalan secara bersama-sama.

“Penguatan gerakan masyarakat sipil, terutama terkait dengan upaya menciptakan peradilan yang bersih dan berkeadilan, kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus ada satu simpul yang akan menguatkan gerakan ini. Soal nama silakan dibuat atas kesepakatan kawan-kawan,” ujar fasilitator, Nanang Farid Syam, fungsionaris Pembina Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK Republik Indonesia, Sabtu, (7/11/2015).

Usulan 7 Nama Lembaga

Proses terbentuknya KOMPRESS ini tak lepas dari perdebatan sengit antar pengusul yang merupakan peserta capasity building. Paling tidak, pada awal usulan nama muncul 8 nama lembaga; Koalisi Masyarakat Pemantau Peradilan Sumsel (KOMPRESS), Jaringan Pemantau Peradilan (JAMPI) Sumsel, Koalisi Pemantau Paradilan (KAPA) Sumsel, Masyarakat Pemantau Peradilan (MANTRA) Sumsel, Koalisi Pemantau Peradilan dan Anti Korupsi (KAPAK) Sumsel, Aliansi Pemantau Peradilan (AMPERA) Sumsel, Gerakan Masyarakat Pemantau Peradilan (GEMPAR) Sumsel dan Gerakan Masyarakat Pintar Merasa (GEMPITA).

Melalui fasilitator, akhirnya mengerucut tiga nama lembaga yang kemudian dipilih peserta; KOMPRESS dimotori Dr Rarech Rasyid, Koordinator Sekolah Demokrasi Prabumulih, AMPERA, dimotori Yudi Fahrian, Perwakilan Yayasan Puspa Indonesia akademisi Univesitas IBA Palembang, GEMPITA, dimotori Imron Supriyadi, mewakili Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang.

Dari sejumlah nama itu, akhirnya KOMPRESS disepakati oleh forum sebagai salah satu nama gerakan yang menjadi “kapal” bagi sejumlah aktifis, akademisi dan elemen masyatakat sipil dalam melakukan pemantauan peradilan di Sumsel. Sebagai sekretariat bersama (Sekber), saat ini di PKY Sumsel.

Koordinator PKY Sumsel, Zaimah Husin mengatakan pihaknya berharap dengan terbentuknya KOMPRESS dapat menguatkan sinergisitas, bukan hanya secara individu tetapi juga antar lembaga. “Kedepan, kita berharap proses komunikasi untuk rencana tindak lanjut dari lembaga ini bisa kita lakukan di kantor PKY, tentu ini perlu kita maksimalkan, terkait dengan upaya kita dalam melakukan penguatan perbaikan peradilan di Sumsel,” tegasnya.

Penetapan lembaga ini disaksikan langsung dari perwakilan PKY Sumsel, KY-RI, KPK-RI diantaranya, Ardhian Sumadijo, Bidang Hubungan antar Lembaga dan Penghubung KY-RI, Nanang Farid Syam, fungsionaris Pembina Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK-RI, Firlana Ismayadin, PJKAKI KPK-RI, Zaimah Husin, Koordinator PKY Sumsel.

Adapun peserta capasity building yang hadir  antara lain; mahasiswa perwakilan Universitas Sjakayakirti Palembang, Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang Mahasiswa Universitas Taman Siswa Palembang, Mahasiswa Sekolah Tunggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang, KSPSI, Perwakilan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri), Fakultas Hukum Universitas Islam OKI (UNISKI), Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK-RI) Sumsel, Sahabat PKY Sumsel, AMAN Sumsel, KSBSI Sumsel, Yayasan Puspa Indonesia,  Women Crisis Center (WCC) Palembang, PKY Sumsel, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Sumsel dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang.

Traech Rasyid, sedang membacakan dua buah karya puisinya di akhir acara (Foto.Dok.PKYSumsel/Wiwin)

Traech Rasyid, sedang membacakan dua buah karya puisinya di akhir acara (Foto.Dok.PKYSumsel/Wiwin)

Diakhir acara, Tarech Rasyid membacakan dua karya puisinya, berjudul “Kau Adalah Musuh Kami” dan “Selamatkan Ibu Pertiwi”. Meski Tarech bukan penyair, namun deretan puisi yang ia tulis sarat dengan satire terhadap realitas negeri yang sedang luka. “Saya tidak tahu apakah ini puisi atau bukan, yang pasti ini ekpresi jiwa atas ketidakadilan yang selama ini terjadi di negeri ini,” ujarnya sebelum membaca puisi. “Kalau bukan puisi berarti, pernyataan sikap,” seloroh Yudi Fahrian, yang kemudian ditingkahi gelak tawa peserta. Namun suasana kemudian hening, setelah kemudian Tarech mengawali bait-bait puisinya hingga selesai.

 

TEKS / EDITOR : T. PAMUNGKAS

FOTO : Dok.PKYSumsel/Wiwin

 

 

 

 

 





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com