Tradisi Tunggu Tubang, Ziarah Puyang, Kuatkan Silaturahim di Adat Semende

154 total views, 3 views today

“Potong Kerbau Hasil gotong Royong, Hingga Kumpulkan Semua anak cucu Keturunan Puyang”‎ Masyarakat di Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT), Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan sangat memegang teguh tradisi ziarah pada puyang (leluhur) dan bertahan sampai sekarang.

 Tradisi ini wajib dilaksanakan oleh anak cucu dari garis keturunan puyang. Seperti yang dilakukan dari garis keturunan Puyang H Kodir-Serimbang, warga Desa Tanjung Raya Kecamatan SDT. Ziarah tersebut menyembelih seekor kerbau hingga mengumpulkan seluruh garis keturunannya. Berikut laporan Hendro Aldo Irawan, Reporter RGBA FM tentang tradisi Puyang tersebut.

—————————————————– 

Akhir pekan lalu Crew RGBA FM menghadiri acara sedekah yang diselenggarakan keturunan Puyang H Kodir-Serimbang di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT). Kebetulan acaranya digelar di rumah Tunggu Tubang keluarga H Kodir-Serimbang yakni di rumah anak keturunan laki-laki Marshal, S.Ag. Prosesi acara berlangsung dua hari (Sabtu-Minggu, 30 Oktober – 1 November 2015).

 

Pagi itu masyarakat Desa Tanjung Raya tengah berkumpul di rumah keturunan H Kodir – Serimbang, yang saat itu sebagai ahli rumah atau penyelenggara hajatan. Seekor kerbau berbadan besar, pagi itu langsung disembelih oleh pemegang adat dari garis keturunan laki-laki, yang di sebut Meraje, Jenang Meraje dan Lebu Meraje.

“Yang boleh sembelih kerbau ini harus dari garis keturunan laki laki. Tidak boleh dari garis keturunan perempuan. Kebetulan saya sendiri saat ini sebagai pemegang adat Tunggu Tubang dari keturunan H Kodir Serimbang,” ujar Mashal kepada Henro Aldo Irawan, Reporter RGBA FM.

Hingga terik matahari diatas kepala, daging kerbau yang sudah dipotong-potong kemudian dimasak oleh keluarga secara gotong-royong. Masakan itu untuk acara adat, atau dibahsakan oleh warga setempat Makan Nasi sekulak, adalah makan bersama setelah shalat dluhur.

 

Semua anggota keluarga dari garis keturunan sudah berkumpul siang itu. Mereka siap merayakan sedekah ini. Tradisi ini kesannya setengah wajib, sehingga keturunan yang berada jauh di luar kota sekalipun rela meninggalkan aktivitasnya guna menghadiri acara ini.

“Semua keluarga berkumpul, dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Sumatera dari Aceh sampai ke Lampung. Bahkan dari luar negeri seperti kelarga yang di Arab Saudi juga pulang. Kebetulan ada keluarga kami yang tinggal di Arab Saudi,” tambah Marshal.

 

Usai makan siang, acara dilanjutkan dengan ziarah puyang. Ini merupakan tradisi adat istiadat masyarakat Semende, terutama di wilayah Semende. Seperti juga adat Tunggu Tubang, adat ini juga merupakan momen penting di dalam kehidupan masyarakat disini.

 

Menurutnya Marshal, sedekah ziarah puyang seperti ini sebagai ajang silaturahmi dengan warga sekitar, sekaligus mempererat tali persaudaraan dari garis keturunan. Seperti di keluarga H Kodir Serimbang ini.

“Sedekah ini sebagai ajang berkumpul keluarga, dari garis keturunan H Kodir Serimbang. Anaknya ada tujuh orang, semua sokongan untuk kegiatan ini. Ziarah ini dapat dilaksanakan Kapan saja, setelah ada kata mufakat keluarga. Ataupun tergantung dari kemampuan anak cucunya,” ujar Marshal, Tunggu Tubang, Pemegang Adat Tunggu Tubang keturunan H Kodir.

Malam harinya, tepatnya Sabtu malam di rumah ahli hajat menggelar pengajian bersama. Selain mambaca surah yasin dan kirim doa kepada arwah, anak cucu dari garis keturunan harus membaca Al Qur an 30 Juz (khatam qur an) di baca oleh 30 orang dilanjutkan berdoa bersama yang ditujukan para arwah dari puyang yang membuat sawah dan rumah sampai pada anak cucunya Tunggu Tubang.

 

Selain ajang silaturahmi keluarga besar keturunan H Kodir, momen ini juga penting untuk memotivasi anak keturunannya yang telah tersebar di seluruh nusantara, bahkan sudah banyak yang menetap di saudi Arabiya. Tujuannya agar saling kenal dan menguatkan silaturrahmi sebagai anak keturunan puyang H Kodir (almarhum).

Dari pertemuan keluarga ini akan terlihat, betapa banyak anggota keluarga yang berhasil, apalagi dengan kehadiran anak cucunya dari berbagai tempat perantauan seperti dari Jawa, Aceh, Lampung, Jambi, Bengkulu, Padang, Palembang, Kalimantan Sulawesi, Bali dan Papua.

 

Tapi sangat di sayangkan, cucu H kodir dari Arab Saudi tidak bisa pulang. Mereka hanya mengirimkan sejumlah bantuan uang guna meringankan beban keluarga saat menyelenggarakan sedekah ini.

Anak keturunan H Kodir kini sudah beragam profesi. Dianraranya ada yang mualim (guru), ustadz dan ustadzah, dosen, tentara, polisi, pengacara, hakim, jaksa, dokter, bidan, perawat, PNS, wartawan, pengusaha, pedagang dan petani dari berbagai daerah perantauannya masing masing hingga kini masih menjalin keeratan silaturahmi. “Ini membuktikan anak keturunan H Kodir mampu bersaing di dunia kerja bangsa ini,” tandasnya.

Sementara itu, Ir H Hasanudin, M.Si (Sekda Muara Enim) sebagai Pemegang Lebu Meraje di rumah Tunggu Tubang, yang sempat hadir mengatakan, sekitar sebulan lalu Marshal dan Khailani menghadap dirinya ke kantor dengan menyampaikan akan ada acara silaturrahmi (ziarah ke puyang),  di rumah Tunggu Tubang dan minta kehadiran dirinya.

“Sebelumnya saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya diberi silsilah keturunan Puyang. Sementara saya hanya mengenal kakek jeme Semende asli, sementara yang lainnya saya belum tahu,” ucapnya.

Alhamdulillah dengan pertemuan ini, dirinya dapat mengetahui anak keturunan puyang ini sudah banyak. Diperkirakan ada 20 jutaan jiwa yang menyebar ke seluruh nusantara. “Saat ini saya menjabat Sekda Muara Enim dan orang mengenal saya orang Lahat karena saya di lahirkan di Pagar Gunung Lahat, dan harus saya akui bahwa saya mengalir darah Semende di dalam darah saya,” ujarnya.

 

Dengan adanya pertemuan ini yang tidak saling kenal mengenal akhirnya saling kenal bahwa kita satu keturunan Puyang Ruande. “Untuk itu mari kita lestarikan adat kita ini yang dikenal dengan Tunggu Tubang.  Acara ziarah puyang ini memang dikemas dengan sederhana, tetapi tidak mengurangi nilai-nilai silaturrahim yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.

 

TEKS : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com