Kemarau Panjang, Kopi Merosot, Musim Paceklik Menanti

 447 total views,  2 views today

PAGARALAM, KS

Kemarau panjang hingga kini sangat dirasakan masyarakat di Bumi Besemah dan sekitarnya. Selain surutnya air mineral untuk kebutuhan sehari-hari, hasil perkebunan maupun pertanian pun merosot drastis. “Kemarau panjang seperti sekarang ini, mayoritas pengolaan jenis tanaman olahan pertanian dan perkebunan gagal berkembang. Misalnya tanaman kopi, saat ini memasuki masa berbunga tapi bunga kopi sebagian besar mengalami  layu hingga runtuh akibat kekurangan sumber air,” kata Ismet petani Aur Duri Kelurahan Rebah Tinggi Kecamatan Dempo Tengah, belum lama ini.

Ia mengatakan, untuk panen tahun depan sudah bisa dipastikan hasilnya akan sedikit. Bahkan sebagian besar lahan yang ada tak lagi dapat digarap, akibat minimnya sumber air. “Kalau kemarau terus berlanjut hingga November, mayoritas petani di Bumi Besemah akan mengalami gagal panen,” keluhnya.

Senada dikemukakan Kakik, salah seorang petani kopi di Dusun Rempasai Kelurahan Penjalang Kecamatan Dempo Selatan. Katanya, akibat kemarau panjang ini membuat tanaman kopi miliknya kering bahkan banyak yang mati

“Ya mau digimanakan lagi, kondisi cuaca yang panas ini membuat tanaman kopi mengering dan sebagian besar akan gagal panen karena bakal buah menjadi layu dan kering,” tambahnya.

Hingga akhir tahun dan menjelang tahun 2016 nanti lanjutnya, perekonomian akan berubah menjadi musim paceklik. Mengingat sebagian besar mata pencarian masyarakat di Bumi Besemah ini di dapat dari hasil bertani kopi.

“Semoga kemarau segera berlalu dan masuk musim penghujan agar pengelolaan lahan pertanian dan perkebunan dapat kembali digarap demi memenuhi kebutuhan hidup sehgari-hari,” harapnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat,  Ir M Syarbani mengatakan, musim kemarau yang sudah tidak menentu seperti sekarang ini, bisa berdampak buruk pada hasil pertanian dan perkebunan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Data triwulan pertama tahun 2015, produksi biji kopi hanya mencapai sekitar 339,6 ton. Sementara produksi kopi di tahun 2014 hampir mencapai 7.465,5 ton dari lahan perkebunan seluas 7.576 hektare,” ujarnya.

TEKS : ANTONI STEFEN
EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster