Ayek Sungai Kiyahan‎ Desa Lingga Hitam Pekat dan Bau Menyegat, Diduga Tercemar Limbah Industri Tahu Tempe

 371 total views,  7 views today

TANJUNG ENIM, KS

Warga Desa Lingga Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan, kini tak lagi bisa mandi dan mencuci di Sungai Kiyahan. Pasalnya sungai membentang dari dan membelah Desa Tegal Rejo hingga Desa Lingga, saat ini kondisi airnya sangat memprihatinkan.

Kondisi airnya berwarna hitam pekat dan menimbulkan bau tidak sedap. Diduga airnya tercemar limbah berasal dari industri pabrik rumah tangga usaha pembuatan tahu dan tempe di sekitar Desa Tegal Rejo.

Aliran Sungai Kiyahan yang tercemar limbah industri (Foto.Dok.KS/Aldo)

Aliran Sungai Kiyahan yang tercemar limbah industri (Foto.Dok.KS/Aldo)

Kondisinya semakin hari semakin parah. Terlebih di saat debit air minim di musim kemarau seperti sekarang.  Warna air sungai berubah menjadi hitam pekat dan terkadang berwarna putih.  Uapnya menimbulkan bau menyengat bagi siapa saja yang tengah melintas di sekitar Ayek Kiyahan tersebut.

Otomatis, warga juga mulai meninggalkan dan enggan bergantung dengan Sungai Kiyahan itu, karena merasakan dampak gatal-gatal setelah bersentuhan dengan air tersebut.

Berdasarkan informasi dari warga, Jumat (23/10/2015) pekan silam, dan Komunitas Pecinta Lingkungan, Paguyuban Keluarga Besar Tanjung Enim Forum (PKB-TEF), Forum Pemuda Desa Lingga 1, ayek Sungai Kiyahan tercemar limbah sudah berlangsung sejak lama. Tetapi belum ada penanganan lebih lanjut dari berbagai pihak terkait.

Bahkan, dari pihak PKB-TEF sendiri telah melakukan survey langsung. Mereka menduga air Sungai Kiyahan telah tercemar oleh limbah industri tahu dan tempe di sekitar aliran anak sungai tersebut.

“Kami sudah survey langsung mulai dari RT 14 hingga RT 12,11 desa Tegal Rejo, Sungai Kiyahan tercemar dari limbah usaha tempe dan tahu di sana. Hal ini sudah kita laporkan kepada pihak-pihak terkait, termasuk camat dan polsek untuk ditindaklanjuti,” ungkap Supriyadi pada saat gotong royong membersihkan sampah di Sungai Kiyahan Jumat, akhir pekan silam.

Yuliansyah, warga Dusun 1 Desa Lingga juga mengungkapkan, sebelum air Sungai Kiyahan berubah warna menjadi hitam pekat dan berbau menyengat, banyak warga yang tinggal di sekitar sungai melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mandi dan mencuci. Namun hal itu tidak lagi dilakukan setelah Sungai Kiyahan ini menjadi kotor dan tercemar limbah.

“Dulunya sungai ini menjadi tempat mandi dan mencuci warga. Sekarang tidak lagi, karena sudah kotor dan berbau menyengat. Dahulunya juga, kalau musim kemarau air Sungai Kiyahan ini tetap mengalir, tetapi sekarang tidak lagi,” ungkap Yuliansyah.

Masalah ini sudah diketahui Kepala Desa (Kades) Lingga, Herson dan Camat Lawang Kidul, Drs Asarli Manudin M.Si. Menurut Asarli  Sungai Kiyahan ini memerlukan penanganan khusus dan harus melibatkan semua pihak. Pemerintah melalui dinas terkait dan warga yang khususnya tinggal di sekitar Sungai Kiyahan.

“Kondisinya sudah saya lihat langsung, Sungai Kiyahan ini sangat kotor dan berbau menyengat. Soal dugaan limbah itu akan kami tindak lanjuti dengan kapolsek nantinya dan permasalahan ini sudah saya sampaikan kepada BLH untuk mengambil sampel air sungai kiyahan ini,” kata Asarli kepada Hendro Aldo Irawan, Reporter RGBA FM ketika di hubungi melalui ponselnya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Muara Enim Ir. H Zulkarnain Bachtiar MT, saat dihubungi akhir pekan kemarin mengatakan bahwa persoalan kondisi air Sungai Kiyahan yang terletak di Desa Lingga, Kecamatan Lawang Kidul ini akan segera ditindak lanjuti. “Harus dicek lapangan dulu dan dicarisumbernya,” jelasnya singkat.

TEKS : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com