Area Persawahan Kering, Petani di Semende Kesulitan Menyemai Benih Padi

 861 total views,  2 views today

TANJUNG ENIM, KS

Petani di wilayah Semende khususnya di Kecamatan Semende Darat Ulu  (SDU) dan Semende Darat Tengah (SDT) mengeluhkan kesulitan mencari lokasi untuk menyemai benih padi. Hal ini terjadi karena lahan persawahan yang mereke miliki ini kering kerontang  akibat kemarau panjang.

Padahal menurut mereka, sesuai dengan jadwal tidak lama lagi berdasarkan hitungan kalender, sudah mulai masuk masa olah tanah. Dimana sebelumnya diawali dengan masa menebar benih. Saat benih masih dalam persemaian, itulah masa mengolah tanah.

Hanya saja saat ini menurut mereka kesulitan ,mencari lahan untuk menyemai benih padi. “Jangankan untuk mengolah tanah, mencari sepetak tanah untuk lokasi menyemai benih padi saja sulit,” ujarnya.

Berbeda dengan daerah lain yang bisa disemai di tanah kering atau lembab. Benih padi yang biasa disemai oleh petani di wilayah tersebut memang harus benar-benar dilahan basah.

“Karena jenis padi kita adalah padi tinggi yang dipanen dengan cara dituai, panennya juga setahun sekali. Lokasi pembenihan memang harus benar-benar basah bahkan cenderung berair,”ujar Mukramin (40), petani padi Desa Aremantai Kecamatan SDU, kepada Hendro Aldo Irawan, Reporter RGBA FM, belum lama ini.

Hanya saja menurutnya, dengan kondisi saat ini jelas tidak mungkin membuat persemaian. Karena rata-rata tanah atau area persawahan di wilayah tersebut kering, bahkan hingga tanahnya meretak. Petani di wilayah tersebut juga masih mengandalkan irigasi tradisional, sehingga saat musim kemarau sama sekali tidak ada pasokan air.

“Sawah disini strukturnya berundak dan berbukit, maklum saja namanya daerah perbukitan, jadi untuk pasokan air benar-benar mengandalkan hujan,”jelasnya.

Hal Senada di ungkapkan, Taslim (50) petani warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semendo Darat Ulu (SDU) Kabupaten Muaraenim Sumatera Selatan mengatakan, dengan kondisi sawah yang kering, paling-paling petani menumpang di area persawahan yang ada mata airnya.

Hanya saja menurutnya jumlahnya sangat terbatas dan lokasinya juga sudah jauh di lereng perbukitan, atau area persawahan yang rendah. Tentu saja menurutnya hal itu menyulitkan petani, karena harus melakukan pengecekan bibit yang disemai dan mengangkut benih saat hendak ditanam kelak.

“Biasanya yang ada mata air, lokasi sawahnya di pinggir dan diujung dan sudah dekat areal hutan, kalau tidak diawasi dan dikontrol khawatir dirusak oleh binatang seperti kera dan babi hutan,” ujarnya.

Selain itu menurutnya pola pengolahan lahan juga akan semakin berat. Untuk  petani yang sawahnya masih bisa digarap dengan traktor tidak terlalu barat. Hanya saja bagi petani yang masih manual dengan menggunakan cangkul jelas akan sangat berat. Karena kondisi tanahnya menjadi keras akibat kemarau. Hal ini dikarenakan tidak semua area persawahan di wilayah tersebut yang bisa digarap dengan traktor, mengingat posisi lahan petak sawahnya kecil-kecil dan berada di tebing.

Pada kondisi itu, ratusan petani lainnya sangat berharap agar segera turun hujan. Karena jika tidak dikhawatirkan petani akan mengalami paceklik. Hal ini disebabkan mundurnya musim olah tanah dan musim tanam, yang berdampak kepada mundurnya masa panen. “Kami khawatir kemarau masih lama, karena kita bisa mengalami masa paceklik dengan jangka waktu cukup lama,” ujarnya.

TEKS : HENDRO ALDO IRAWAN – REPORTER RGBA FM
EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster