Gara -Gara Sebut PKI, Majalah Kampus Lentera Dilarang Beredar

 576 total views,  2 views today

SALATIGA, KS

Akibat mengangkat isu tentang pembantaian simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Salatiga dan sekitarnya, Majalah Lentera dari pers mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), ditarik kembali dari peredaran oleh pihak kepolisian.

Dari data press rilis Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), penarikan tersebut berdasarkan pertemuan antara pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lentera dengan Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Pembantu Rektor II UKSW, Dekan Fiskom UKSW, dan Koordinator Bidang Kemahasiswaan (Koorbidkem) di Gedung Administrasi Pusat UKSW pukul 21.00 WIB, pada Jumat 16 Oktober 2015.

Awal penarikan itu, ketika pengurus LPM Lentera hendak mengambil majalah di salah satu agen majalah Lentera di Salatiga, namun pihak Kepolisian Resor (Polres) Salatiga lebih dulu mengambil majalah Lentera, tepatnya pada Sabtu 17 Oktober 2015.

Satu hari berselang, tanpa adanya surat pemanggilan, Arista Ayu Nanda (Pemimpin Umum Lentera), Bima Satria Putra (Pimpinan Redaksi Lentera), dan Septi Dwi Astuti (Bendahara LPM Lentera), diminta datang ke Polres Salatiga untuk memberi keterangan soal penerbitan majalah itu.

Majalah yang berjudul “Salatiga Kota Merah” dengan nomor 3/2015, dengan terbit 500 eksemplar itu, dipermasalahkan oleh jajaran pimpinan kampus karena judul sampul yang menimbulkan persepsi bahwa Kota Salatiga adalah kota PKI.

Selain itu, berdasarkan keterangan redaksi Lentera, bahwa lambang palu arit yang berada di sampul depan. Bukan hanya itu, soal narasumber juga diragukan kevalidannya oleh pimpinan kampus.

Redaksi Lentera mengaku bahwa proses penulisan dan kerja jurnalisme telah menerapkan asas jurnalisme presisi dengan melakukan riset dan penelusuran kepustakaan yang mendalam, observasi lapangan dan verifikasi narasumber untuk menghasilkan reportase sesuai prosedur jurnalistik.

Atas peristiwa penarikan majalah tersebut, PPMI tidak tinggal diam. Mereka menuntut pimpinan kampus UKSW melindungi kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan. “Pengembangan budaya akademik termasuk kegiatan penerbitan majalah yang dilakukan pers mahasiswa,” kata Sekjend PPMI, Abdus Somad.

Abdul somad menambahkan bahwa Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pada Bab II tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi, pasal 6 poin C telah mengatur hal itu.

Selain itu PPMI juga menuntut Dekan Fiskom UKSW, Drs Daru Purnomo, M.Si., untuk mengembalikan Majalah Lentara yang dirampas. “Karena bagi kami tindakan itu telah mengekang kebebasan pers. Penyitaan adalah usaha melakukan pembredelan terhadap pers mahasiswa,” jelas Somad dalam rilis pers PPMI.

Kilas Balik Di era 1992-1995

Dalam rentang kurang dari tiga tahun (1992-1995, empat pers mahasiswa dibredel dengan motif atau modus yang tidak jauh berbeda. Keempat pers mahasiswa yang bernasib sial itu adalah: “Vokal” IKIP PGRI Semarang pada 1992, “Dialoque” Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada 1993, “Arena” Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1993, dan “Focus Equilibrium” Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Udayana Bali pada 1993.

Majalah Arena IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah dibreidel di era 90-an (Foto.LPM.ARENA)

Majalah Arena IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah dibreidel di era 90-an (Foto.LPM.ARENA)

Setidaknya empat kasus pers mahasiswa itulah yang terekspos ke publik, dan tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi yang mengalami kasus serupa tapi tidak terendus luas pada masa

“Vokal Kena Cekal,” tulis Majalah Arena. Ditarik dari peredaran dan dilarang terbit oleh Rektor dan Yayasan IKIP PGRI Semarang. Hanya gara-gara beritanya dianggap berbau politik karena memuat soal Golput.3 Sedangkan Tabloid Dialoque terbitan Senat Mahasiswa FISIP Unair Surabaya dibredel dan penanggungjawabnya diskorsing. Pihak Dekanat mempersoalkan izin terbitnya tabloid tersebut. Meski akhirnya Emil Syarif Lahdji, penanggungjawab Dialoque, pun dilepaskan.4

Pembredelan berikutnya menimpa Arena IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gara-gara berita utama dalam majalah tersebut menyoal tentang Bisnis di Kekuasaan. Dari sini gelombang solidaritas mahasiswa berdatangan. Ditambah pula kasus yang menimpa Focus Equilibrium FE Udayana Bali.

TEKS : AHMAD SUPARDI (JURNALIS LPM UKHUWAH UIN RF PALEMBANG)

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster