Harga Naik, Produksi Sayuran Merosot

 321 total views,  2 views today

PAGARALAM, KS – Sejak musim kemarau melanda Bumi Besemah dan sekitarnya dalam beberapa bulan terahir, tak hanya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, tetapi termasuk juga merosotnya produksi sayuran. Merosotnya hasil panen tersebut tak hanya dialami petani yang membuka lahan didataran tinggi saja, tapi termasuk pula didataran rendah.  hal itu dikemukakan Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Kota Pagaralam, Jumaldi Jani SP MM, kemarin.

   Menurutnya, merosotnya hasil produksi sayuran saat ini lebih dipengarui cuaca yang sudah tidak menentu. Apalagi di Bumi Besemah sejak 2014 hingga 2015 tergolong berubah drastis. Bisa dikatakan kalau musim kemarau terus berkelanjutan, begitu pula sebaliknya. 

   “Data panen jenis sayuran di tahun 2013 lalu tembus 52.716 ton, sedangkan 2014 hanya mencapai 15.279,5 ton. Sementara di tahun 2015 pun tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, padahal permintaan pasar terus mengalami peningkatan dan berpengaruh pada kenaikan harga hingga harus di suplay dari daerah tetangga,” katanya.

   Salah satu pemicu merosotnya hasil panen lanjutnya, yakni musim kemarau berkepanjangan melanda Bumi Besemah dan sekitarnya sejak pertengahan hingga penghujung tahun.

   “Disisi lain, permintaan pasar terus meningkat berikut harga naik. Begitu pula sebaliknya, disaat  harga naik para petani pun ikut berlombah-lombah menamnya hingga membanjiri pasar dan harganya anjelok,” terangnya.

   Meski begitu, pihaknya terus melakukan pengawasan di sentra pertanian, mulai dari tanam hingga harga jual. Hal ini lebih dipengaruhi oleh faktor cuaca maupun kurang seriusnya minat petani untuk membudidayakan kebutuhan dimaksud.

   “Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, produksi sayuran terbesar tetap saja jenis sawi dan kubis jika dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya,” kata dia seraya berujar, Pagaralam merupakan sentra sayur mayur di Sumsel, tetapi sejak beberapa tahun terakhir, permintaan pasar terpaksa didatangkan dari luar daerah.

   Terpisah, Puniarti salah satu agen sayur di Pasar Induk Nendagung mengatakan, kondisi saat ini memang sama seperti tahun-tahun sebelumnya yakni banyak mendatangkan sayuran dari daerah luar dikala musim kemarau. Mengingat banyaknya petani di Pagaralam mengalami gagal panen dan  tak heran bila mereka  menjadi sungkan untuk menanam jenis sayuran.

   “Hal itu begitu berpengaruh pada naiknya harga jual. Begitu pula dimusim penghujan, kerap kebanjiran sayuran dan harganya pun anjelok,” sebutnya.

   Ditambahkan Fitra, petani sayur di kawasan Dempo Utara mengaku tahun ini mengalami gagal panen. “Mau digimanakan lagi dalam menghadapi musim kemarau seperti sekarang ini. Untuk memenuhi kebutuhan air saja sulit, apalagi hail panen mau berhasil,” ujarnya singkat.

Teks : Antoni Stefen

Editor: Imron Supriyadi

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster